Ahlulbait Nabi di dalam Al-quran da Sunnah



Ahlulbait Nabi di dalam Al-quran dan Sunnah

 

Allahummashallialamuhammad wa ali muhammad

A. Memahami Makna Ahlulbait secara komprehensif

a. Dalil Naqli (Alquran)

1.       Ayat Al-Tathir, Qs 33:33, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, hai ahlulbait, dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya”, Ketika ayat itu turun rasul memasukkan Ali,  Fatimah, Hasan dan Huhsein ke dalam jubahnya, terkenal pula dengan hadits Kisa yaitu doa nabi kpd ahlul bait. Jadi yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husein. (lihat kitab sumber riwayat Ummu salamah : al-Dur- al-Manthur karangan al-Suyuti, hadis dikeluarkan oleh al-Tabrãni daripada Umm Salamah, jilid 5 hlm 198-199; Sahih tirmidzi, jilid 13, hlm 246; Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 306; Usdu’l-Ghabah, jilid 4, hlm 29, ,jilid 2, hlm.298;Tahdzib at-Tahdzib,jilid12,hlm.297;Mustadrak ash-Shahihin,jilid2,hlm.416, jilid 3, hlm. 147; Sunan al_baihaqi, jilid 2, hlm 150;Tarikh Baghdad, jilid9, hlm.126;Musnad ahmad jilid 6, 292. Yang berasal dari ibnu Abbas: Musnad Ahmad, jilid 1, hlm.330; an-Nasai, Khashsa’ish, hlm.11;Muhibbuddin ar-Riyadh an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 269; Majma’ az-Zawaid, jilid 9; hlm.119,207; Durru’-Mantsur dalam tafsir ayat Al-Quran 33:33. Dalam Riwayat Sa’ad bin Abi Waqqash, Sahih Muslim, jilid 7,  hlm. 120, dan lain-lain). Kata Ahlul bait itu sendiri bukan hanya diterjemahkan dalam bahasa indonesia yaitu keluarga, jikalau maknanya hanya ini maka makna keluarga nabi itu sangat luas termasuk istri dan para sahabat, tetapi yang dimaksud dalam Al-quran adalah Ahlul bait dengan makna khususul khusus bukan umum sehingga yang dimaksud ahlulbait itu adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husein.

2.       Ayat al-Muwaddah: Qs:26:23:” “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kerabat(ku)(Qurba).” Yang dimaksud Qurba disini adalah Ali, Fatimah, Hasan Husein. Al-Zamahkshari dalam Tafsir al-Kashshaf menyatakan: “Telah diriwayatkan bahwa sekumpulan orang-orang musyirikin telah berhimpun dalam satu perhimpunan dan berkata-kata sesama mereka: Tahukah kamu bahawa Muhammad ada meminta upah buat sesuatu yang dilakukannya. Kemudian turun ayat ini: “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kerabat(ku).”(as-Syuara: 23) Seterusnya al-Zamakhshari menyatakan; Telah diriwayatkan bahwa selepas turun ayat di atas ada seseorang berkata; “Wahai Rasulullah s.’aw siapakah qarabat kamu yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka, “Rasulullah s.’aw menjawab: “Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak mereka.” (lihat Daripada hadith yang disepakati oleh kedua Sahih Bukhari dan Sahih Muslim daripada sanad ‘Aisyah – Ghayat al-Maram dan disebutkan oleh al-Zamakhshari dalam tafsirnya al-Kashshaf dalam mentafsirkan ayat al-Mubahilah; Jami’ al-Usul, jld. 9. hlm. 156, dipetik daripada Sahih al-Tirmizi yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik; al-Hakim dalam al-Mustadrak, Jld. 3, hlm. 158; al-Fakhr al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, Surah al-Syura, ayat 23; al-Tabari, Zakha’ir al-‘Uqba Fi Manaqib Zawi al-Qurba, h. 25;  Ihya al-Mayyit Bi Fada’il Ahl al-Bayt Li al-Suyuti (Mu’assasah al-Wafa’, Beirut, 1404) h. 8. al-Suyuti meriwayatkan dalam al-Durr al-Manthur, Jld. 6, h. 7 dariapda Sa’id bin Jubair daripada Ibn Abbas. Al-Tabari dalam al-Mu’jam al-Kabir, Musnad al-Imam al-Hasan, Jld. I. H. 125, Dipetik dengan nas ini dariapda al-Tabari al-Haithami dalam al-Majma’ al-Zawa’id, Jld. 9, h. 168. Al-Tabari menyebutkan hadith ini dalam al-Zakha’ir,h .25 dan berkata Imam Ahmad mengeluarkan dalam al-Manaqib seperti yang dinukilkan oleh Ibn al-Sibagh al-Maliki daripada al-Banwi, hadith marfu’ daripada Ibn Abbas, h. 29. Al-Tabari dalam al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an dengan riwayat daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas, Jld. 16, h. 21-22)

3.       Ayat Mubahilah : Qs:3:61

        “Barang siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah dating ilmu (yang menyakinkan kamu) maka katakanlah (kepadanya) marilah kita memanggil anak-anak kami(Abna’ana) dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami(nisa’ana) dan isteri-isteri kamu, diri kami (anfusna) dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahilah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61)

Imam Fakhruddin Ar-Razi di dalam At-Tafsīrul Kabīrnya, menulis bahwa Imam Kazhim a.s. berkata: “Pada peristiwa mubahalah dengan para Uskup Kristen Najran, Rasulullah SAWW hanya membawa Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husein a.s. Ini berarti, diri (anfusanā) berarti Ali bin Abi Thalib, wanita (nisā`anā) berarti Fathimah, dan anak-anak (abnā’anā) berarti Hasan dan Husein yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai putra-putra Rasulullah SAWW sendiri”.



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 next