Suka Tidak Suka, Islam Tetap Akan Berkuasa!



"Apakah kita suka atau tidak, partai-partai Islam kini menjadi kekuatan politik yang sah...” Dengan kata-kata itulah penulis Amerika, Doyle McManus, memulai artikelnya di surat kabar Los Angeles Times, Amerika Serikat dengan judul: "Masjid dan Negara" ia menegaskan bahwa Islam di wilayah Arab telah menjadi realita yang menuntut Barat pada umumnya, dan Amerika pada khususnya, untuk menemukan cara baru untuk beriteraksi dengannya.

Dibawah ini adalah terjemahan dari artikel dimaksud:

Dalam sebuah konferensi dua tahun lalu, saya menghadiri sebuah pertemuan beberapa pejabat AS, dan sekelompok politisi muda Islam dari Tunisia, Yordania dan negara Timur Tengah lainnya, dalam pertemuan tersebut, para politisi Islam itu ingin mengetahui: Apakah Amerika akan mengizinkan para politisi Islam untuk mencalonkan diri dalam pemilihan yang bebas untuk mendapatkan akses kepada kekuasaan? Namun, pejabat AS mengembalikan pertanyaan mereka: Apakah tokoh Islam, jika mereka menang, akan mengizinkan berlangsungnya suatu pemilihan umum yang bebas dan demokratis, bahkan jika itu berarti mereka akan kehilangan kekuasaannya?

Memang benar bahwa diskusi ini, pada waktu itu, hanya sebuah wacana, akan tetapi sekarang telah menjadi sebuah realitas di wilayah Arab, misalnya:

(1) Di Tunisia, bahwa para tokoh Islami memenangkan mayoritas kursi parlemen dalam pemilihan umum setelah revolusi.

(2) Di Mesir, tampaknya kelompok "Ikhwanul Muslimin", faksi politik yang paling kuat dan populer di mata masyarakat dan telah memperluas sayapnya.

(3) Di Libya, bukan rahasia lagi, bahwa kaum Islamiyyin memainkan peran kunci dalam memimpin revolusi yang menggulingkan Muammar Qadhafi, sehingga merekapun akan menjadi pemain kunci dalam pemerintahan baru.

Pada konferensi itu, saya duduk di sebelah seorang veteran Mesir sekuler, Saad Eddin Ibrahim, yang menegaskan keharusan adanya pemisahan yang jelas antara agama dan negara, ia mengatakan: "Ada sebagian kaum muslimin yang tidak memiliki jiwa demokratis," tapi kemudian ia menambahkan: "Tapi Anda tidak bisa menyingkirkan mereka, Anda justeru harus beriteraksi dengan mereka."

Ringkasnya, inilah dilema yang dihadapi Amerika Serikat dan bangsa lain yang tampaknya takut akan kemungkinan transformasi Islam di dunia Arab mengikuti model revolusi Iran yang memerintah negara itu dan mengembangkan kekuasaannya, sejak mereka merebut kekuasaan 32 tahun yang lalu.

Karena sebagian besar tokoh Islami tampak tidak menerima pluralisme liberal, dan mereka ingin Islam menjadi agama resmi negara, mereka juga ingin agar hukum Islam menjadi dasar bagi hukum perdata, ditambah mereka tidak mau menerima keberadaan Israel, dan tidak menyukai kebijakan Amerika Serikat yang pro Israel. Semua itu membuat banyak orang Amerika yakin bahwa kedatangan Islam ke pentas kekuasaan sebagai hasil dari revolusi Arab, tidak bisa dibiarkan, dan ini dinyatakan oleh beberapa anggota Kongres ketika mereka mengusulkan agar pemerintah Amerika Serikat mengurangi bantuan ke Mesir, jika Ikhwanul Muslimin memenangkan mayoritas kursi di parlemen dalam pemilihan yang akan datang.



1 2 next