Studi Komparatif Pandangan Teologi Allamah Thabathabai dan Fadhlullah



Oleh:SayyidMusaSadr

Buku tafsir "Min Wahyi al-Quran" dari sisi kategori dikelompokkkan dalam buku tafsir sosial-pendidikan, sementara dari sisi metodologi termasuk tafsir konprehensif. Buku tafsir karya Ayatullah al-Udzma Sayyid Husein Fadhlullah ini memanfaatkan banyak perangkat dalam memahami dan menerima pemahaman ayat-ayat al-Quran, tentu saja dengan menekankan pada Balaghah al-Quran. (Sadr, Fasl Nameh Pezhouhesh-haye Quran, Quranic Researches, volume 64) Sekalipun demikian tidak dapat diingkari perhatian penulis tafsir Min Wahyi al-Quran terhadap sebagian masalah teologi dan sensitifitasnya dalam memahami secara detil dan membuang jauh-jauh segala prejudice yang berada di luar al-Quran.

Sayyid Husein Fadhlullah dalam tafsirnya terlibat secara intens dalam membahas pelbagai isu teologi dan menyatakan pendapat pribadinya atau mengkritisi sebuah pendapat. Bila terdapat kritikan terhadap sebuah pendapat, maka perlu diketahui bahwa pendapat itu milik Allamah Thabathabai dalam tafsir al-Mizan.

Perbedaan pandangan ini tentu saja memperkaya khazanah pemikiran para peneliti al-Quran dan memberikan ufuk baru mengenai pendekatan yang digunakan oleh dua penafsir. Mencermati urgensi masalah ini, penulis berusaha mengangkat tema teologi dalam pandangan Allamah Thabathabai dan Allamah Fadhlullah guna dapat melihat lebih jelas cara pandang kedua pemikir besar ini mengenai isu-isu teologi Islam.

Perlu diingat bahwa tema-tema teologi yang dikaji dalam tafsir Min Wahyi al-Quran dan al-Mizan sangat banyak. Oleh karenanya, sekalipun kebanyakan masalah-masalah teologi dalam al-Quran berhubungan dengan ayat-ayat al-Quran,  parsial dan disepakati kedua mufassir, tapi dalam tulisan ini hanya akan mengangkat sebagian masalah. Tulisan ini hanya mengkaji sejumlah masalah penting secara umum.

1. Kemaksuman Nabi (Ishmah)

Ada banyak pertanyaan sekaitan dengan masalah kemaksuman atau keterjagaan nabi. Namun yang paling penting dari semua itu sebagai berikut; Apa hakikat Ishmah (kemaksuman)? Seberapa luas kemaksuman para nabi? Apa dalil yang dapat membuktikannya? Apakah Ishmah itu sesuai dengan ikhtiar manusia atau tidak?

Kita akan membahas pertanyaan-pertanyaan di atas sebagai studi pertama terkait isu-isu teologi dalam pandangan Allamah Thabathabai dan Allamah Fadhlullah.

Hakikat Ismah
Sekaitan dengan esensi dan hakikat Ismah, Allamah Thabathabai punya pandangan yang cukup jelas. Beliau percaya bahwa Islam bukan berbicara tentang tidak salah dalam memahami dan berbicara atau meninggalkan dosa secara sengaja atau salah hingga masuk dalam kategori perbuatan. Ismah masuk dalam kategori ilmu. Tentunya bukan ilmu biasa. Karena kebanyakan ilmu punya pengaruh lebih besar. Artinya,dalam banyak kasus ilmu biasa memberikan pengaruhnya, tapi bisa saja dalam sebagian kasus perbuatan yang dilakukan dipengaruhi oleh faktor yang lain. Dalam kondisi yang demikian ilmu tidak mempengaruhi perbuatan dan kalah oleh faktor yang lain. Namun Ismah adalah ilmu yang tidak akan pernah terkalahkan oleh faktor-faktor yang lain dan selalu mempengaruhi kehendak seorang maksum.

Allamah Thabathabai dalam tafsirnya al-Mizan jilid 5 hal 60 menulis:

"Dari pembahasan yang telah lalu jelas bahwa pemberian Allah yangn kita berinama Ismah ini termasuk jenis ilmu dan perasaan yang berbeda dengan seluruh ilmu yang lain. Ismah tidak pernah dikalahkan oleh pelbagai potensi yang ada dalam diri manusia dan faktor-faktor lain, bahkan Ismah senantiasa menang dan menjadikan segala kekuatan yang ada melayaninya. Oleh karenanya, Ismah menjaga pemiliknya dari kesesatan dan kesalahan secara mutlak."

Sekaitan dengan obyek ilmu yang dinamakan Ismah ini masih menyisakan pertanyaan. Apa yang menjadi obyek ilmu seperti ini? Apakah obyeknya juga mencakup segala maslahat dan mafsadah dari perbuatan, ataukah hanya terkait dengan pahala dan siksa ilahi atau ...?

Masalah ini tidak banyak dijelaskan oleh Allamah Thabathabai dalam buku tafsirnya. Tapi penjelasan ini dapat ditemukan dalam jilid 2 hal 139 tafsir al-Mizan dan beliau menyebut ilmu dari jenis Ismah ini dengan "Keyakinan akan keniscayaan keberlangsungan penyembahan".

Allamah Thabathabai menulis:

"Dengan demikian, setiap perilaku Nabi Muhammad Saw selalu berasal dari ketaatan dan bukan yang lain. Karena ilmu yang menjadi sumber dari perbuatannya merupakan ilmu yang tidak akan pernah berubah. Ilmu itu adalah keyakinan yang selamanya menyebabkan munculnya penyembahan kepada Allah Swt."

Namun Allamah Fadhlullah memiliki pandangan yang lain terkait esensi Ismah. Menurut beliau dalam tafsir Min Wahyi al-Quran jilid 4 halaman 156, seorang maksum itu adalah visualisasi wahyu. Hakikat dan nilai-nilai wahyu yang membuat pikiran, akhlak dan perbuatannya selaras dengan wahyu dan sedemikian tercerahkan. Hal inilah yang membuat seorang maksum tidak berbuat salah dan dosa. Berdasarkan pandangan ini, Ismah lebih serupa dengan perubahan wujud manusia dengan fokus pada perbuatan dan nyataan ketimbang ilmu dan pengetahuan.

Pandangan ini membuat beliau dalam jilid 7 halaman 457 dari buku tafsirnya menolak sebagian argumentasi Allamah Thabathabai dalam menjelaskan esensi Ismah dan rentang Ismah. Dengan penjelasannya ini, bukan hanya Allamah Fadhlullah berbeda pendapat soal esensi Ismah, tapi juga mengenai seberapa luas cakupan Ismah.

Rentang Ismah
Pandangan Allamah Thabathabai dalam masalah esensi Ismah secara alami menghasilkan kesimpulan yang lebih sempit. Pertama, Ismah yang dimaknai hanya fokus pada kesalahan dan dosa hakiki, bukan dosa yang diketahui. Kedua, tidak ada kesalahan dalam penyembahan, bahkan dalam bentuk tidak sadar atau reaksi sekilas bagi seorang maksum. Karena bila itu hanya perasaan dalam sekejap. Karena bila itu terjadi, maka Ismah yang dimaknai sebagai ilmu yang tak terkalahkan itu akan kalah.

Ismah merupakan ilmu yang senantiasa menang dan berkuasa, maka tidak akan pernah kalah oleh faktor-faktor lain. Secara alami Ismah tidak menolerir segala bentuk kesalahan, sekalipun itu perasaan dan terjadi hanya sesaat. Karena bila hal itu terjadi, maka ilmu ini menjadi terkalahkan.

Sementara Allamah Fadhlullah tidak dapat menerima pandangan Allamah Thabathabai yang diyakininya menjadi sangat sempit dengan dua alasan di atas. Dari satu sisi, Allamah Fadhlullah menilai Ismah hanya terkait dengan kesalahan dan dosa yang diketahui. Artinya, seorang maksum adalah manusia yang tidak akan melakukan kesalahan yang diketahui bahwa itu merupakan perbuatan salah, bukannya kesalahan hakiki. Kedua, menurut Allamah Fadhlullah seorang manusia maksum sama seperti manusia lainnya yang juga memiliki kelemahan sebagai manusia. Oleh karenanya, sekalipun dari satu sisi memiliki Ismah, tapi mungkin saja dalam satu kondisi terjadi seorang maksum melakukan sebuah perbuatan atau reaksi yang muncul dari kelemahan alami sebagai seorang manusia. Namun hal itu tidak berarti bertentangan dengan kemaksumannya.

Dalam tafsir Min Wahyi al-Quran jilid 10 halaman 252 Allamah Fadhlullah menulis:

"Sekaitan dengan masalah Ismah yang masih menyisakan sejumlah masalah seperti bagaimana Nabi Harun as sekalipun seorang nabi masih salah dalam mengambil sikap? Atau bagaimana Nabi Musa as yang dikenal sebagai nabi besar ternyata salah dalam mengidentifikasi sikap yang diambil Nabi Harun as? Bagaimana seharusnya Nabi Musa as menyikapi Nabi Harus as?

Menurut kami apa yang terjadi itu tidak sampai merusak pengertian Ismah yang mereka miliki. Karena kita tidak tahu masalah gaib apa yang dapat menahan manusia dari kesalahan dalam mengidentifikasi sesuatu. Tapi yang jelas, mereka tidak akan melakukan kemaksiatan kepada Allah bila meyakini perbuatan itu adalah maksiat. Sementara apakah ia tidak akan melakukan kesalahan (hakiki) yang diyakininya benar, maka kita tidak punya dalil yang menafikannya. Bahkan dari sekian cara yang dipakai oleh al-Quran saat menceritakan kisah para nabi dan kelemahan-kelemahan yang dimiliki mereka justru menegaskan bahwa risalah mereka tidak bertentangan dengan kelemahan mereka sebagai manusia dari sisi kesalahan dalam menentukan satu hal. Allah lebih mengetahui rahasia ciptaan-Nya.
" (IRIB Indonesia/Saleh Lapadi)