Merajut Persatuan dengan Pendekatan Fiqih



Oleh: Abdurrahim Abazari

Sepanjang sejarah, persatuan umat dan mazhab Islam telah menjadi pusat perhatian para pemimpin dan pemikir agama serta politik Islam; masing-masing telah berupaya keras dalam medan yang menentukan ini. Dan tugas ini, menurut mereka, salah satu perioritas utama dalam dunia Islam.

Di awal era ghaibah kubro, seorang faqih Syi'ah terkenal, Syaikh Thusi, mengarang sebuah kitab yang berkualitas, Al-Khilaf dan dengan demikian, potensi-potensi fiqih komparatif di antara empat mazhab terealisasi secara konkret. Setelah itu, ahli-ahli besar seperti: Allamah Hilli, melanjutkan jejak langkah Syaikh Thusi dengan menulis Al-Tadzkiroh. Demikian dalam beberapa abad selanjutnya, para pemikir pembaharu seperti: Sayyid Jamaludin Asad Abadi, Syaikh Muhammad Husain Kasyif Al-Ghita, Syaikh Muhammad Abduh, dll. juga memasuki ranah sosial dan politik seraya menyerukan persatuan umat Islam. Begitu pula pada masa ini, Ayatullah Sayid Abdul Husain Syarafuddin di Libanon, Ayatullah Burujerdi dan Syaikh Muhammad Taqi Qumi di Iran, dan Syaikh Muhammad Syaltut dan Syaikh Muhammad Madani di Mesir, adalah para pelanjut tugas tersebut.

Kelanjutan dari aktivitas orang-orang besar itu adalah didirikannya sebuah pusat bernama Dar Al-Taqrib bayn Al-Madzahib Al-Islamiyyah di Kairo, Mesir. Beragam buku mengenai hal ini diterbitkan, juga diadakan berbagai pertemuan dan konferensi yang nilai dan arti pentingnya bukan rahasia lagi bagi siapapun. Untuk pertama kalinya, para tokoh mazhab dan golongan duduk berdampingan; seluruh madzhab juga secara bersamaan diajarkan di Universitas Al-Azhar Mesir.

 

Urgensitas Pendekatan Fiqih

Menurut Imam Musa Shadr, semua usaha ini merupakan langkah positif, suci dan harus dilakukan untuk tujuan persatuan umat Islam; namun tidaklah cukup sebagai langkah terakhir. Dalam metodenya, dia meyakini "wahdah al-fiqh" (persatuan fiqih). Dia mengatakan, "Fiqih Komparatif (upaya pendekatan) para pendahulu ialah sebuah modal atau benih berkah dimana metode persatuan fiqih bergantung pada hal itu, dan dengannya persatuan hukum-hukum syariat akan tergagas secara sempurna."(2) Menurut keyakinannya, berbagai usaha orang-orang besar terdahulu telah menyiapkan dasar-dasar dari masalah ini, dan kita dewasa ini ada dalam beberapa langkah menuju persatuan fiqih. Imam Musa Shadr memandang dialog, konferensi dan diskusi bersama para pemuka madzhab, diterbitkannya buku dan makalah-malah mengenai persatuan Islam bukanlah satu-satunya solusi. Pada hematnya, setiap individu umat Islam di seluruh dunia harus seperti kepalan tangan yang kuat, dan ini hanya mungkin terjadi melalui persatuan fiqih.



1 2 3 4 5 next