Mengapa Pentagon Bertamu ke Jakarta?



Mengapa Pentagon Bertamu ke Jakarta?

Islam Times- Walaupun selama ini pernyataan pejabat negara sekaitan program pembangkit nuklir Iran selalu bernada positif, mendukung hak Iran dalam pengembangan energi nuklir damai, dan cenderung jauh dari keinginan Amerika dan negara-negara sekutu yang gemar menhancurkan citra Iran dan menghukum Iran lewat aneka sanksi ekonomi.

 


Sedikit catatan awal pekan soal posisi Indonesia terkait dengan skema dan agenda besar AS di Timur Tengah.

Pada 1 Desember tahun lalu, Susilo Bambang Yudhoyono meminta Kementrian Luar Negeri untuk memanggil pulang duta besar Indonesia di Damaskus, Suriah. Pemanggilan itu katanya untuk konsultasi sekaligus antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kata Kementrian waktu itu. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/12/01/280528/284/1/Dubes-RI-Untuk-Suriah-Dipanggil-ke-Jakarta

Dan beberapa bulan terakhir ini kita semua tahu, Amerika Serikat dengan dukungan Turki, Liga Arab terutama Arab Saudi dan Uni Eropa sudah terlebih dahulu mengencangkan karet gelang tekanan kepada rezim Bashar Assad. Mereka menggalang dukungan dari sana sini dan intinya ingin Assad berhenti keras kepala. Mereka ingin Suriah melepas dukungan pada Iran, Hizbullah dan Hamas; trio perlawanan yang sukses mengandaskan mimpi hegemoni Amerika di Timur Tengah. Puncak kegeraman AS dan terutama Saudi Arabia pada Suriah adalah pada sidang PBB pekan lalu yang di Veto oleh China dan Rusia.

Orang sedunia sudah tahu kalau, kelompok yang mengacaukan Suriah selama ini adalah gerombolan teroris didikan AS yang dibiayai langsung oleh negara-negara Arab, utamanya Saudi Arabia. Di koran Washington Post misalnya pernah memuat skenario itu yang dikutip dari kawat diplomatik yang dibocorkan situs Wikileaks. The Post mengungkapkan, kawat diplomatik AS menunjukkan bahwa Kementerian Luar Negeri AS menggelontorkan dana sebesar USD6 juta pada MJD sejak 2006. Dana dari AS untuk oposisi Suriah mulai mengalir saat pemerintahan mantan Presiden AS George W Bush setelah dia secara efektif membekukan hubungan politik dengan Damaskus pada 2005.

Dan pendanaan itu berlanjut hingga kini di bawah Presiden AS Barack Obama. Menurut The Post, Diplomat AS memaparkan pemerintah Suriah tidak meragukan lagi adanya dana AS yang masuk ke gerakan politik ilegal sebagai upaya mendongkel pemerintahan berdaulat saat ini.

Sementara di Jakarta, sebagian kalangan mulai merasa kalau haluan Indonesia-Amerika dalam politik luar negeri Presiden Susilo sebagai sesuatu yang tidak lagi mencengangkan, tak ada hal baru di medan terbuka ini.

http://www.intelijen.co.id/warta/1834-pentagon-ke-jakarta

Kemudian beberapa berita melaporkan kalau Pentagon sowan ke Jakarta baru-baru ini. Kedatangan Pentagon ke Jakarta tentu terkait erat dengan agenda besar AS di Suriah dalam menjegal Iran tentu juga terkait dengan kepentingan AS di Papua. Dalam posisi hubungan perkembangan di Timur Tengah, Indonesia mau tidak mau akan berpihak kepada AS dengan beberapa indikasi.

1. Di forum-forum resmi internasional, Indonesia nyaris menjadi juru bicara AS (masih ingat kasus Dino Djalal di PBB?) terkait saksi atas Iran. Walaupun selama ini pernyataan pejabat negara sekaitan program pembangkit nuklir Iran selalu bernada positif, mendukung hak Iran dalam pengembangan energi nuklir damai, dan cenderung jauh dari keinginan Amerika dan negara-negara sekutu yang gemar menhancurkan citra Iran dan menghukum Iran lewat aneka sanksi ekonomi. Tapi sejumlah telegram WikiLeaks menunjukkan kalau Jakarta bermuka dua dengan mendukung diam-diam sanski ilegal Amerika atas Iran di dalam negeri.

Telegram juga memunculkan kesan kalau Amerika begitu paranoid pada setiap kabar yang berisi kemungkinan Iran bisa berinvestasi dan membangunan hubungan dengan kalangan sipil dan militer di Indonesia:

2. Selama ini birokrat negara selalu tunduk pada tekanan Kedutaan Amerika. Indikasi itu sangat jelas dan nyata mengingat dalam sebuah telegram bertajuk “Iran -- Indonesia To Urge For Release Of Detained Amcits”, dikawatkan pada 19 Februari 2010 dengan marka SECRET//NOFORN, Duta Besar Amerika, Cameron Hume, menulis: “Jurubicara presiden, <B>Dino Djalal</B>, bilang ke DCM pada 19 Februari kalau Indonesia akan meminta Iran melepas tiga warga Amerika yang ditahan di Iran dengan peritmbangan kemanusiaan. Bekas Sekretaris Jenderal D-8, Dipo Alam akan bertandang ke Tehran pada 1 Maret sebagia bagian dari serangkaian kunjungan ke para pemimpin negara-negara D-8. Alam dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Manouchehr Mottaki dan kemungkinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Djalal bilang ke kami kalau atas nama Pemerintah Indonesia (dan bukan Amerika Serikat), Alam akan meminta Iran melepas warga Amerika yang ditahan dengan pertimbangan kemanusiaan ... .”

3. Dalam telegram lain, ada terekam kalau Djalal menjadi ‘mata dan telinga’ Kedutaan Amerika dalam melaporkan pertemuan antara Presiden Yudhyono dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei.

4. Telegram bertajuk “Demarche Delivered Regarding Preventing Establishment Of Iranian Joint Bank In Indonesia”, dikawatkan pada 10 September 2008, menyebutkan kalau: “orang-orang penghubung di pemerintah Indonesia telah mengkonfirmasi kalau Bank Melli Iran telah menanyakan aturan bisnis bank asing di Indonesia, tapi belum melayangkan surat permohonan untuk membuka cabang, anak perusahaan atau bermitra dengan Bank Panin atau institusi keuangan Indonesia lainnya.

Seorang pejabat di Kementrian Luar Negeri bilang kalau Deplu belum lama ini menggelar pertemuan antarlembaga dan sebuah pertemuan dengan kalangan bank dan komunitas bisnis dan membriefing mereka sekaitan implikasi saksi atas Iran dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) belakangan ini.

5. Telegram lainnya mengungkap keleluasaan diplomat Amerika mencari tahu segala hal terkait bisnis perusahaan Iran di Indonesia, utamanya via Pusat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang dalam telegram digambarkan sebagai “lembaga penerima bantuan USAID”. Telegram lain menyebut adanya permintaan bantuan dari Yunus Hussein, bos besar PPATK, ke DOJ/OPDAT (Departement of Justice/ Office of Overseas Prosecutorial Development, Assistance and Training) agar pemerintah Amerika “membantu perumusan draft Rancangan Undang-Undang Pendanaan Terorisme”.

6. Bocornya langkah-langkah Agung Laksono dalam membina hubungan dengan kalangan parlemen di Iran. Dari sumber yang sama pula, diplomat Amerika bisa mendengar lebih awal tentang langkah-langkah politik pilihan pemerintah sekaitan program pembangkit nuklir Iran yang ditentang habis-habisan oleh Amerika, tentang hal-hal yang dikerjakan Presiden Yudhoyono kala berkunjung ke Tehran dan apa saja isi pembicaraan antara Agung dan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, saat yang terakhir berkunjung ke Jakarta. Di telegram lainnya, diplomat Amerika menggambarkan Agung sebagai sudah lama bersimpati pada Iran.

Dan masih banyak lagi, semua informasi mengenai hal-hal kemesraan Jakarta-Pentagon bisa di search dengan kode-kode dibawah ini pada situs http://www.cablegatesearch.net/search.php atau di sini http://cables.mrkva.eu/ orang-orang didikan AS di Indonesia.

- Search; "With Death Of Key Terrorist Confirmed, Police Continue Full-court Press”, dikawatkan dari Jakarta pada 23 September 2009 oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak

- “Scrutiny Of Bank Century Bailout Iccreases”, dikawatkan dari Jakarta pada 6 November 2009, langsung oleh Duta Besar Cameron Hume

- “Papua -- Tentative New Efforts To Address Grievances”, dikawatkan dari Jakarta pada 6 Maret 2009

- “Human Rights -- Encouraging Indonesia To Implement Truth Commission Report”, dikawatkan dari Jakarta pada 20 Oktober 2008, perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak

- “Special Envoy Rickman Meets With Jewish Community In Surabaya”, dikawatkan dari Jakarta pada 7 Augustus 2008, Principal Officer Konsulat Amerika di Surabaya, Caryn R. McClelland

Langkah pemerintah Indonesia terkait konflik di Timur Tengah dengan mudah bisa ditebak, sebab beberapa pekan lalu dan di bulan-bulan yang lalu, presiden sendiri yang memberi restu ke seorang pangeran Arab Saudi (Bandar Bin Sulthan) yang datang ke Jakarta untuk mencari dukungan invasi Arab Saudi ke Bahrain; sebuah langkah kuda yang bertujuan menyokong tahta keropos Dinasti Al-Khalifa sekaligus memberangus jutaan demonstran yang menuntut perubahan politik hanya dengan modal takbir dan shalawat.

Jika presiden bisa mentolerir langkah brutal pasukan militer Saudi di Bahrain, kanapa pula presiden perlu ‘tersumbing’ saat Damaskus mengirim militer untuk menjawab pemberotakan bersenjata yang telah menewaskan ratusan polisi dan tentara Suriah?

Mengapa pula AS, Eropa dan negara-negara Arab mengerendel mulut busuknya terkait pembunuhan rakyat di Mesir, di Yaman, di Bahrain, di Palestina dan Saudi Arabia? Mengapa pula para pemimpin ber-igal itu tiba-tiba menumpahkan amarahnya kepada Suriah? Satu yang pasti jawabanya ada pada link intelijen. http://www.intelijen.co.id/utama/1745-2012-konflik-timur-tengah-meluas-3

Dan memutus jalan logistik Iran dari Suriah untuk HAMAS dan Hizbullah. Dan jika Suriah tumbang, langkah selanjutnya adalah IRAN. Suriah hanyalah mukaddimah untuk menumbangkan Iran. Ini semua demi mewujudkan eksistensi Israel di kawasan yang muali keropos sejak Mesir mengalami revolusi.

Bukankah kedutaan AS adalah perwakilan resmi bagi kepentingan Israel di Indonesia? Indikasi itu sangat jelas, banyak dokumen-dokumet dari pemerintah AS yang menyebarkan rekanan Indonesia-Israel. 

- “More Activity In Indonesia On Middle East Issues”, dikawatkan pada 15 Februari 2007

- “World Ocean Conference -- Raising Israeli Participation”, dikawatkan pada 1 April 2009

- “Discouraging Tni From Taking Manpads To Unifil Mission”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Oktober 2006 merekam pernyataan Charge d'Affaires Kedutaan Amerika, John A. Heffern, dengan kalangan birokrat di Jakarta sekaitan masuknya senjata MANPADS (man-portable air-defense systems)

Bahkan semua kode-kode diatas dengan mudah didapatkan di internet. Atau bisa merujuk ke situs ini; http://www.cablegatesearch.net/search.php atau di sini http://cables.mrkva.eu/
[Islam Times/on/K-014]