Kebangkitan Islam dan Obyektivitas Media Massa Yang Dipertanyakan



Tahun 2011 berakhir, sementara kondisi yang ada saat ini tak banyak berbeda dengan kondisi saat tahun ini dimulai. Bulan Januari 2011 dunia menyaksikan gerakan rakyat yang bangkit melawan rezim otoriter di beberapa negara di kawasan utara Afrika dan Timur Tengah. Media-media pemberitaan menyorot kebangkitan rakyat di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Suriah, Bahrain dan beberapa negara lainnya.

Gerakan-gerakan massa yang beruntun itu terpantik pertama kali di Tunisia pada 17 Desember 2010 dan sampai sekarang belum terlihat adanya tanda-tanda akan berakhir. Saat itu Mohammed Bouazizi, pemuda Tunisia yang berjualan asongan nekad membakar diri setelah dilecehkan oleh seorang polisi wanita. Warga menyaksikan langsung aksi bakar diri yang menghanguskan pemuda tersebut. Ternyata gelora api tak padam dengan tewasnya Bouazizi, tapi menjalar kemana-mana dan membakar hati rakyat Tunisia. Jilatan api kemarahan massa tak hanya menghanguskan diktator Tunisia Ben Ali tapi juga membakar kursi kekuasaan sejumlah diktator seperti Hosni Mubarak di Mesir, Muammar Gaddafi di Libya, Ali Abdullah Saleh di Yaman dan rezim-rezim lainnya. Sebagian sudah tersingkirkan dari kekuasaan dan sebagian sedang menanti giliran. Bundaran utama di kota-kota besar seperti Kairo dan San'aa sampai saat ini masih menjadi arena aksi massa melawan kezaliman rezim penguasa. Rakyat memilih untuk melakukan perlawanan tanpa peduli dengan kesulitan yang harus mereka hadapi.

Selain di negara-negara Arab, gelora aksi rakyat juga melanda belahan dunia lainnya. Di Amerika kebangkitan massa mengatasnamakan gerakan Anti Wall Street. Di sebagian besar negara Eropa aksi yang sama juga terjadi. Fenomena menarik ini menjadi sorotan media pemberitaan dunia di tahun 2011. Tentunya, dengan perkembangan yang sangat spektakuler ini, media massa dunia akan menjadikannya sebagai bahan liputan yang bergengsi. Namun yang terjadi justeru sebaliknya. Media massa Barat tetap setia dengan misinya sebagai corong propaganda rezim-rezim di sana. Tak heran jika di hari-hari bahkan minggu-minggu pertama munculnya gerakan besar Anti Wall Street media-media ini menyebut aksi rakyat di Amerika dan negara-negara Eropa sebagai aksi para perusuh. Di sisi lain, media yang sama berusaha menutup-nutupi fakta bahwa aksi massa di negara-negara Timur Tengah adalah gerakan kebangkitan Islam. Mereka menyebut transformasi di kawasan utara Afrika dan Timur Tengah sebagai musim semi Dunia Arab. Hal itu sengaja dilakukan dalam kerangka program propaganda luas untuk memanfaatkan fenomena yang ada demi kepentingan mereka. Namun nampaknya, tidak banyak hasil yang didapat.

Media massa Barat menilai bahwa aksi massa yang ada ini adalah gerakan memprotes kondisi perekonomian yang buruk dan kekejaman rezim penguasa. Artinya, dengan tersingkirkannya rezim yang ada, aksi protes massa akan berakhir. Sebab, sudah tidak ada lagi alasan untuk menggelar demonstrasi. Cara media massa Barat dalam menggambarkan suasana suka-cita rakyat di jalan-jalan menyusul tumbangnya kekuasaan satu rezim memang melukiskan perasaan umum yang ada, tapi sebenarnya ada target lain yang diincar. Jaringan media pemberitaan Barat sengaja membuat berbagai analisa tentang, misalnya jatuhnya kekuasaan Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia, dan berulang kali menyatakan bahwa era demokrasi yang baru telah dimulai. Tujuannya adalah supaya bisa meyakinkan pemirsanya bahwa sudah tidak ada lagi alasan untuk menggelar protes. Dengan menyebut gerakan rakyat Muslim di kawasan sebagai Musim Semi Arab, media massa Barat sengaja mengarahkan opini umum ke alamat yang salah. Namun tak lama, borok pemberitaan itu segera terkuak.

Kebangkitan Arab pertama kali dipaparkan oleh George Habib Antonius (1891-1942), penulis dan diplomat Lebanon-Mesir yang juga salah satu sejarawan nasionalis Arab. Antonius bekerja di instansi Kerajaan Britania ketika Inggris memegang mandat atas Palestina. Tahun 1938, dia menulis buku berjudul ‘Kebangkitan Arab'. Dalam buku itu penulis memaparkan sejarah kebangkitan nasionalis Arab yang menurutnya terjadi pada paruh kedua abad 19 sampai paruh pertama abad 20 Masehi. Ungkapan ‘kebangkitan' itu dia adobsi dari sebuah syair yang mengajak bangsa Arab untuk bangkit.

Kebangkitan bangsa Arab di zaman itu terjadi di negara-negara yang sekarang menjadi ajang kebangkitan rakyat, seperti Mesir, Tunisia, Libya dan beberapa negara lain. Kebangkitan yang dimaksudkan adalah gerakan perlawanan bangsa Arab terhadap kekuasaan imperium Ustmani dan mandat Inggris atas Palestina. Sementara di zaman ini kebangkitan yang ada adalah melawan rezim-rezim dependen Arab dan para pelindungnya. Di masa itu, negara-negara Arab yang berhasil meraih kemerdekaannya tidak berada di jalur yang semestinya dan rakyat tak diberi kesempatan untuk terlibat dalam membuat keputusan atas negeri mereka. Kini, setelah ketidakpuasan memuncak, lahir gelora yang menggugah massa di dunia Arab untuk bangkit. Yang menjadi pertanyaan, apakah transformasi yang sedang terjadi saat ini adalah kebangkitan Arab jilid II?

Dengan mencermati dan mengkomparasikan kedua transformasi dan gerakan massa itu terlihat adanya perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Fenomena yang sangat kental dalam kebangkitan rakyat sekarang adalah corak keislamannya. Kubu-kubu berhaluan Islam terlibat secara aktif dengan dukungan penuh dari rakyat. Tuntutan rakyat pun disampaikan melalui forum shalat Jum'at dan lewat corong-corong masjid. Slogan yang diangkat juga murni slogan berbasis Islam dengan para pemuda sebagai elemen yang sangat menentukan. Satu lagi yang menjadi pembeda adalah keterlibatan media elektronik dalam mengekpos gerakan-gerakan rakyat itu dalam setahun terakhir ini.

Seiring dengan perkembangan yang ada, media massa Barat bersama para analis dan tokoh pro Barat berusaha memutarbalikkan fakta. Salah satu contohnya adalah tulisan Samir Amin, ekonom sekular Mesir pada tanggal 11 September 2011. Dia menulis demikian;

"Kelompok besar dari masyarakat miskin terlibat secara aktif pada aksi demo bulan Februari 2011 di Mesir dan merekalah yang umumnya mengambil bagian dalam berbagai komite rakyat pembela revolusi. Jambang, jilbab, pakaian dan penampilan orang-orang miskin ini bisa membuat orang beranggapan bahwa Islam mengakar kuat di tengah masyarakat Mesir. Padahal faktanya tidak demikian. Masuknya mereka ke tengah medan adalah fenomena yang dipaksakan atas para perancang gerakan ini. Mereka secara tiba-tiba masuk ke pentas dan tidak menyisakan pilihan bagi para pemimpin gerakan kecuali melanjutkan apa yang sudah mereka rintis."

Samir Amin menolak kecenderungan mendalam rakyat Mesir kepada Islam dan menyebut apa yang ada sebagai sebuah pemaksaan. Padahal semua orang tahu bahwa rakyat Mesir adalah masyarakat yang agamis. Buktinya, saat pemilu diselenggarakan, kubu Islam meraih dukungan terbesar. Ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan orang-orang seperti Samir Amin tidak berdasar sama sekali dan tak lebih dari penyampaian apa yang didiktekan oleh AS adan rezim-rezim Eropa terhadap mereka.



1 next