Imam Husein as dan Yazid bin Muawiyah, Dua Kutub yang Saling Menafikan



Sejak awal manusia menginjakkan kakinya di muka bumi, tidak ada peristiwa seperti peristiwa Karbala. Di dalam peristiwa Karbala terjadi perlawanan antara manusia-manusia suci dan manusia-manusia kotor dan hina. Di dalam peristiwa ini, semuanya memiliki peran mulai dari laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja sampai yang lanjut usia pun. Ali Asghar yang masih berusia enam bulan pun tercatat sebagai syahid terkecil di dalam peristiwa Karbala. Habib bin Mazhahir yang usianya paling tua juga berhasil mencatat namanya dalam sejarah mulia ini. Abu Fadhl al-Abbas saudara lain ibu Imam Husein as dengan pengorbanannya setia mendampingi Imam sampai ke tetesan darah penghabisan.

Pasca peristiwa Asyura, Yazid berkhayal telah mencapai kemenangan. Kemenangan khayalannya ini dirayakan dengan pesta pora dan mabuk-mabukan. Ditambah lagi dengan menawan, mengelilingkan dan memukuli keluarga Rasulullah Saw di depan mata umum. Semua ini dilakukan dalam upaya merendahkan keluarga Rasulullah Saw. Namun Yazid tidak tahu bahwa semua perilakunya ini telah berubah menjadi anak panah beracun yang menancap relung hati busuk pemerintahan Bani Umayyah.

Sejatinya Yazid belum merasakan kemenangan khayalannya tapi pada saat yang sama ia telah merasakan kepahitannya. Yazid tidak tahu bahwa darah Imam Husein as dan para sahabatnya telah menyirami dan menyegarkan kembali ajaran Muhammad Saw. Darah Imam Husein as telah menyadarkan dan mengangkat derajat umat Islam. Yazid lupa bahwa Allah Swt berfirman, "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah jutru menyempurnakan cahaya-Nya, meski orang-orang kafir membencinya." (As-Shaf: 8)

Setelah peristiwa Karbala dan rombongan keluarga Rasulullah Saw sampai di Madinah, Ibrahim bin Thalhah bin Ubaidillah mencemooh Imam Ali bin Husein Zainul Abidin as seraya berkata, "Hai Ali bin Husein, siapakah yang menang di dalam perang ini?!"

Imam Ali Zainul Abidin dengan tegas menjawab, "Bila kau ingin tahu siapa yang menang, maka ketika masuk waktunya shalat, kumandangkanlah azan dan iqomat! (Kau akan mengetahui siapa yang menang)." (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal 177, hadis 27).

Dengan jawaban ini Imam Ali Zainul Abidin as ingin memahamkan bahwa tujuan Yazid adalah ingin memberangus Islam dan nama Muhammad Saw, namun gema "La Ilaaha Illallah, Muhammad Rasulullah" senantiasa terdengar di masjid-masjid Kufah bahkan di ibukota pemerintahan Yazid bin Muawiyah.



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 next