Falsafah Menangisi Imam Husein as



Islam sejak mula senantiasa terkoyak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Umat Islam pasca Rasulullah wafat mulai terpecah dan siap menghancurkn Islam dari dalam. Kalau menghadapi musuh dari luar, yang memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap kaum muslimin senantiasa dikaruniai kemenangan, akan tetapi ketika harus menghadapi musuh dalam selimut, orang-orang yang mengaku muslim tapi berhati busuk, luarnya baik-baik padahal dalamnya munafik, menjadi tidak berdaya dan mendadak lumpuh. Akhirnya kehancuran Islam dimana-mana, bid`ah merajalela wasiat Rasul di abaikan dan umat pun tersesat dalam hutan belantara menakutkan. Alangkah banyaknya penyimpangan-penyimpangan itu, dan kita bahas satu saja yaitu bulan Muharram.

Bulan Muharram dimata masyarakat Jahiliyyah memiliki nilai lebih, dan mereka pun menghormatinya. Ketika Islam datang lebih di mulyakan lagi. Akan tetapi Kaum muslimin berbeda pendapat dalam menyikapi bulan Muharram ini:

Ada yang menyambutnya dengan rasa syukur dan gembira, karena beranggapan bahwa bulan Muharram adalah sebuah bulan pertama dari tahun baru. Maka selayaknyalah tahun baru itu disambut dengan rasa gembira dan pestapora, Harus menyambutnya dengan penuh rasa syukur karena Allah yang maha Kuasa telah memberikan nikmat yang amat besar dengan memanjangkan umur. Juga keberhasilan para Nabi kebanyakan pada bulan Muharram ini. Misalkan keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan paus,dan selamatnya Nabi yusuf, dan lain-lain. Itu anggapan sebagian kaum Muslimin.

Ada juga mereka yang menyambut bulan Muharram ini dengan tangisan dan kesedihan, kebalikan dengan yang pertama. Mereka menyambut bulan muharram dengan bersedih terutama dari tanggal satu sampai tanggal sepuluh. Setiap malam mengadakan Majlisil `ajja (majlis tangisan dan kesedihan).

Mereka menamakan hari kesepuluh dengan`Asyura (kalau dalam masyarakat jawa bulan Muharram disebut juga bulan Suro, kalau di sunda Sura mungkin ada kaitannya dengan penamaan ini.)

Alasan mereka adalah karena dalam bulan ini adalah bulan kesedihan nabi Muhammad dan keluarganya, dimana cucu tecinta nabi dibantai. Penghulu pemuda ahli surga di bunuh, darahya tertumpah, yaitu Imam Husain as.

Mereka ingin menunjukan rasa cinta mereka, mengekpresikan cinta mereka dengan ikut bersedih dan berbela sungkawa dengan Nabi.

Tapi sikap manakah yang betul, sikap gembira karena menyambut tahun baru atau bersedih dengan kesedihan Nabi dan Ahlil Baitnya?

Kalau kita menggunakan aqal sehat dan berpikir secara rasional, tentunya kita sebagai umatnya Rasulullah, mestinya ikut bersedih dan merasakan apa yang dirasakan oleh Rosulullah dan berusaha menyatukan diri dengan diri Rasul, karena seorang pecinta dengan yang dicintainya seakan tidak bisa dipisahkan. Kesedihan dirasakan bersama dan kegembiraan pun mereka rasakan berdua. Sebagaimana Uwais al Qorni yang hidup di zaman Nabi tapi tidak pernah bertemu nabi, namun beliau mencintai Rosulullah melebihi para sahabat yang dekat dan Rasulullah Saw. Pada perang Uhud gigi Rasul patah terkena panah dan anehnya gigi Uwais pun patah juga padahal waktu itu Uwais berada di Yaman. Itulah kesatuan pecinta dan yang dicintainya, cinta kepada Rosulullah yang sebenarnya. Salahkah mereka yang mengekpresikan kecintaan mereka dengan menangisi Al Husain ?

FALSAFAH MENANGISI Al-HUSAIN



1 2 next