Perbedaan Ijtihad Bukan Alasan bagi Terorisme Intelektual



"Islam tidak menoleransi tindakan melecehkan orang yang menentang agama atau sebuah pendapat hanya karena penentangannya, selama tidak melakukan penyerangan. Jika sampai menyerang, tentu harus dilawan dan dicegah."

Ada kebutuhan mendesak untuk mengintensifkan pemberian warisan intelektual dan budaya oleh pemerintah dan otoritas keagamaan. Hal itu diperlukan untuk menghadapi tantangan kognitif yang serius terhadap pemikiran keagamaan, guna menghadapi banjir tren budaya dunia yang menyerang setiap sudut masyarakat dan rumah kita serta menarik perhatian putra-putri kita dengan media dan teknologi informasi yang canggih.

Evolusi kehidupan dan kemajuan standar ilmu pengetahuan menuntut pengembangan strategi wacana keagamaan dan pembaruan rencana pendidikan. Arena keagamaan harus menunjukkan kemampuannya untuk terus mengikuti perubahan dan tantangan. Hal ini dapat dicapai hanya dengan memusatkan perhatian terhadap tantangan besar serta memadukan segenap kemampuan menuju tujuan bersama. Menghabiskan waktu dengan perbedaan dan isu-isu parsial berarti melarikan diri dari pertempuran sesungguhnya dan hanya akan melemahkan kekuatan agama.

Kebebasan berpendapat sudah menjadi slogan dan tuntutan setiap masyarakat dan semua bangsa. Demikian halnya, keterbukaan dan dialog antar peradaban dan budaya merupakan pendekatan yang diminati oleh orang-orang bijak di dunia. Jika demikian, mana bisa kaum agamawan menonjolkan diri mereka di hadapan orang lain bila mereka tidak bahu membahu, tidak mau menyelesaikan pertentangan di antara mereka dengan jalan dialog, tidak bisa hidup berdampingan, dan tidak saling menghormati satu sama lain?

Watak umum para penceramah adalah mengobarkan emosi dan afeksi umat untuk melindungi akidah dan membela hal-hal yang konstan (al-tsawâbit) dan hal-hal yang sakral (al-muqaddasât). Hanya saja, dalam menjelaskan dasar-dasar keimanan itu mereka tidak melakukan upaya-upaya yang sesuai dengan tantangan kontemporer. Mereka menyimpulkan seolah-olah kasus-kasus parsial yang mereka perdebatkan dengan orang lain itu sebagai akidah. Ada pula beberapa orang dari mereka yang kebingungan dalam menentukan hal-hal yang konstan dan hal-hal yang sakral, seolah-olah itu hanya masalah pelabelan semata. Walhasil, hal yang konstan dan dianggap suci menurut anggapan mereka itu juga tidak mempunyai standar yang jelas dan sudah disepakati umum. Oleh karena itu, kita perlu mencerahkan pikiran dengan penelitian ilmiah dan argumen yang logis, bukan hanya memobilisasi emosi dan memprovokasi perasaan.

Metode Para Nabi

Metode dan pendekatan yang tepat untuk menyebarkan gagasan dan prinsip apa pun adalah menyajikannya dengan penjelasan yang baik, mendakwahkannya dengan disertai logika dan bukti-bukti, dan berdebat dengan metode komunikasi yang baik. Itulah pendekatan Allah yang ditetapkan oleh al-Qur’an. Allah Swt berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. al-Nahl [16]: 125). Pemikiran yang batil dan pendapat yang keliru juga harus dihadapi dengan kritik, diskusi, dan menyoroti poin penyimpangan dan kelemahannya.

Pesan-pesan Allah menyapa manusia seraya menganggapnya sebagai makhluk berakal dan berkehendak. Ia menghormati akalnya, berkomunikasi dengannya, menaruh kepercayaan terhadapnya dan pilihan terbaiknya. Ia juga menolak metode pengendalian dan pengawasan pikiran yang mengabaikan peran akal serta merampas kebebasan manusia.

Berkomunikasi dengan akal tidak boleh menggunakan bahasa kekerasan dan represi, tetapi dengan logika argumen dan bukti, “Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu...’” (QS. al-Baqarah [2]: 111). “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami?...’” (QS. al-An‘am [6]: 148). “yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata.” (QS. al-Anfal [8]: 42). “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan jalan yang sesat.” (QS. al-Baqarah [2]: 256). Inilah prinsip-prinsip aturan perlawanan intelektual untuk membuktikan kebenaran agama dan kepalsuan yang lain.

Islam tidak menoleransi tindakan melecehkan orang yang menentang agama atau sebuah pendapat hanya karena penentangannya, selama tidak melakukan penyerangan. Jika sampai menyerang, tentu harus dilawan dan dicegah. Islam juga tidak menganjurkan umatnya memutuskan hubungan kemanusiaan dan sosial dengan para penentang. Sebaliknya, Islam merekomendasikan berbuat baik kepada mereka selama bersikap damai dan tidak memerangi. Allah Swt berfirman, “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan belaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah [6]: 8).



1 2 3 next