Nilai Spiritual Seni Islami



Nilai Spiritual Seni Islami

Kita tidak bisa membicarakan keindahan tanpa memberinya ruang yang bisa mencakup kesenian Islam dan kedudukannya dari segi agama dan moralitas, karena agama Islam adalah agama yang meliputi seluruh dimensi kehidupan, maka, seperti halnya ia datang membawa syariat, ia juga harus datang dengan citarasa seni yang khusus. Syariat memiliki hubungan dengan amal, sementara seni Islam berkaitan dengan pokok-pokok dan uslub-uslub khas dalam design segala sesuatu.

Baik syariat maupun seni, keduanya kembali kepada al-Qur`an dan as-Sunnah, masing-masing memiliki uslub dan karakter tersendiri. Dalam memahami wahyu, Syariat bersandar pada dasar-dasar dimensi fikih, makna tekstual al-Qur`an dan Sunnah, sementara seni Islam bersandar pada hakikat al-Qur`an dan Sunnah. Dengan kata lain, syariat bersumber pada dimensi lahiriah kedua sumber hukum Islam ( al-Qur`an dan as-Sunnah) sementara seni islami merupakan dimensi batiniah dari keduanya.

Sesungguhnya kesakralan seni dalam Islam seperti halnya dalam agama-agama lain (Kristen dan Budha) memiliki hubungan dengan substansi agama dan ruhnya, bahkan untuk memahami agama kristen kita harus memasuki katedral Chartres untuk melihat bagaimana gerreja itu dipenuhi dengan gambar-gambar, ukiran-ukiran indah dan sakral yang memanjakan mata pengunjungnya. Dalam hal ini, tidak ada model yang paling jelas, kecuali kuil emas agama Budha di Jepang.

Pada suatu hari, seorang barat Titus Burchard, bertanya kepada dirinya sendiri tentang Islam, ia adalah seorang barat yang paling memahami seni islami dan kedudukan spiritualnya. Lalu ia menjawab sendiri pertanyaan itu, “Pergilah ke masjid Ibnu Thaulun di Kairo dan lihatlah!” dengan perkataan ini, ia juga mengisyaratkan peninggalan-peninggalan arsitektur Islam yang lainnya seperti Mazquite di Cordoba, Masjid Qairowan di Tunisia, Masjid al-Aqsha di al-Quds, Masjid Shah di Isfahan dan Masjid Sulthan Ahmad di Istanbul.

Sebenarnya, seni islami adalah media terbaik untuk mengetahui substansi Islam bagi bangsa barat yang bergelut dalam bidang kesenian. Pertanyaannya adalah: Bagaimana sesuatu yang bersifat materil, seperti borak, kapur dan batu bata memainkan peranannya tentang peradaban dan sesuatu yang bersifat immateril? Cukuplah jawaban dari semua itu dengan ungkapan Hermetic yang populer, “Sesungguhnya hal paling sederhana dapat mencerminkan hal tertinggi.”

Berdasarkan hal itu, sesungguhnya seni pahat, lukisan dan musik, meskipun mewakili hakikat yang paling rendah, akan tetapi menggambarkan hakikat tertinggi (dimensi ketuhanan). Kesenian Islam bukanlah tema-tema marjinal, akan tetapi merupakan titik sentral penjelmaan Islam, dimana perannya tidak terbatas pada pembentukan kehidupan seoang muslim saja, akan tetapi sebagai sebuah jendela yang bisa menyampaikan kita pada pemahaman akan dimensi-dimensi Islam, bukan untuk orang yang berupaya mencari lahiriah Islam untuk memuaskan indera dan nuraninya, akan tetapi bagi mereka yang merindukan realitas Islam dan hakikatnya.

Kata seni diekspresikan dalam bahasa Arab dengan al-fann dan shina’at. Kata shina’at (techne dalam bahasa yunani dan ars dalam bahasa latin) berarti produksi di atas prinsip-prinsip yang tepat, sementara al-fann berarti kemahiran dalam menciptakan sesuatu dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang tepat dibarengi dengan kebijaksanaan dan intelektual.

Sesungguhnya seni bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia, bukan pula sebuah aktifitas tertentu dalam masyarakat Islam, akan tetapi berbagai aktifitas yang dinikmati masyarakat mulai dari puisi, musik, menjahit, memasak dan sebagainya. A.K. Coomaraswamy, seorang ahli dari India pada abad kedua puluh, berkata dalam kaitannya dengan ilmu metafisika dan seni kuno, “Pada masyarakat modern, suatu corak kesenian dimiliki oleh individu tertentu, sementara dalam masyarakat zaman dahulu, setiap individu menguasai satu corak kesenian.”

Teori ini sangat sesuai dengan masyarakat Islam yang tidak membedakan antara kesenian religi dan non-religi. Semuanya mengalir dalam urat nadi ruhani Islam. Ya, setiap peradaban memiliki silsilah tingkatan seni yang terbentuk berdasarkan konstruk fisik agama peradaban tersebut. Misalnya, lukisan termasuk seni yang paling utama di Barat, hal ini lahir dari interaksi mereka dengan lukisan-lukisan suci dalam agama kristiani, berbeda dengan Islam dan Yahudi yang melarang berbagai bentuk pahatan dan lukisan serta penjasadan Tuhan.



1 2 3 next