Nilai-nilai Kemanusiaan; Antara Islam dan Barat



Semua agama samawi mendakwahkan Islam dan kepasrahan kepada Allah Swt dan kehendak-Nya. Islam adalah agama pertama yang dikenali manusia sejak manusia mengesakan Allah dan sesuai dengan fitrah. Islam dibawa oleh Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘kub, Musa, Isa as dan anak cucunya, bahkan seluruh Nabi dan Rasul. Islam mengajarkan tauhid, iman dan ketundukan kepada Allah yang Maha Esa. Islam juga mengajarkan keimanan kepada qada dan kadar, malaikat, semua kitab samawi, dan kebangkitan dari kematian.

Risalah yang diembankan kepada Rasulullah Muhammad Saw menyatakan bahwa beliau adalah penutup para nabi yang menyebarkan agama tauhid. Muhammad Saw diutus guna menyempurnakan dan menutup risalah mereka. Beliau menyampaikan kepada seluruh manusia pesan ayat yang mulia ini, “Katakanlah (Muhammad), ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.’” (QS. Âlu ‘Imrân [3]: 84).

Semua agama yang dibawa oleh para rasul mendakwahkan kebaikan dan mengasihi orang lain seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah Muhammad Saw, penutup para nabi dan rasul, “Cintailah saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri!” Semua agama samawi didasarkan kepada nilai-nilai moral yang kurang lebih sama, yaitu kemuliaan, kebebasan, keadilan, kebenaran, kesetaraan, persaudaraan, kasih sayang, kebaikan, toleransi dan saling menolong dalam kebenaran dan kesalehan. Semua nilai-nilai ini terkait erat satu sama lain.

Nilai-nilai kemanusiaan pertama yang hanya dimiliki manusia dan menjadikannya berbeda dengan makhluk yang lain adalah kemuliaan. “Dan sungguh, Kami telah muliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di lautan, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 70).

Kemuliaan diberikan oleh Allah yang Mahamulia lagi Mahakuasa kepada seluruh manusia, tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, Muslim dan non-Muslim. Mereka semua sama mulianya sebagai manusia. Barometer keunggulan di antara mereka hanyalah ketakwaan, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw yang mulia, “Kalian semua berasal dari Adam dan Adam sendiri berasal dari tanah. Bangsa Arab tidak lebih unggul daripada non-Arab, begitu juga bangsa ras putih tidak lebih baik daripada bangsa ras hitam, kecuali karena ketakwaan. Sungguh, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”

Kemuliaan manusia berkelindan dengan kebebasannya. Tidak ada kemuliaan bagi orang yang tidak memiliki kebebasan. Memberangus kebebasan seseorang berarti menghancurkan kemuliaannya. Menahan, memenjarakan, menangkap, membatasi kebebasan dalam berbicara dan mengemukakan pendapat, berkeyakinan, dan beribadah sama artinya dengan membatasi kemuliaan manusia dan menurunkan martabatnya. Kebebasan merupakan salah satu nilai-nilai kemanusiaan terpenting, terutama kebebasan berkeyakinan, beribadah, dan menjalankan syiar-syiar agama. Islam menjamin kebebasan akidah dan keimanan seseorang. “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Allah Swt memberikan kebebasan kepada manusia untuk beriman atau memilih menjadi kafir. “...barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah ia kafir....” (QS. al-Kahfi [18]: 29). Namun demikian, sebagian besar orang-orang Barat menuduh Islam tidak memberi pemeluknya kebebasan berakidah karena mereka tidak diperkenankan keluar dari Islam untuk memeluk agama lain. Saya telah berpartisipasi dalam sejumlah konferensi internasional yang membahas soal hak asasi manusia. Ketika membicarakan hak-hak asasi orang Islam, para aktivis HAM mengotot untuk membela muslim, terutama para aktivis LSM feminisme untuk membela hak-hak perempuan muslimah. Menurut mereka Islam tidak membolehkan penganutnya pindah agama, dan hal ini bertentangan dengan Pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Saya berulang kali menanggapi mereka bahwa orang-orang Islam sangat percaya Islam adalah agama samawi terakhir dan menyempurnakan agama-agama samawi sebelumnya. Tidaklah logis orang yang telah memeluk agama yang sempurna dan terakhir ini berpaling ke belakang.

Ada banyak macam kebebasan: kebebasan berpendapat, kebebasan bergerak, kebebasan bertindak, kebebasan emigrasi, dan kebebasan kepemilikan, dan lain-lain. Laki-laki dan perempuan sama-sama dapat menikmati semua kebebasan tersebut, tidak ada bedanya. Negara-negara Barat menghormati kebebasan, terutama kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. Mereka meletakkannya di atas semua nilai, bahkan di atas hal-hal sakral. Mungkin krisis kartun Denmark yang menghina Nabi Muhammad Saw (murka Allah atas pelakunya) merupakan bukti paling nyata atas hal itu (bahwa mereka meletakkan kebebasan berekspresi di atas segalanya).

Kaum Muslimin Eropa sudah berupaya memberikan pemahaman bahwa kebebasan berekspresi ada batasnya dan harus menghormati hal-hal sakral, namun bangsa Eropa menolak semua upaya itu. Mereka bersikeras bahwa kebebasan berekspresi di atas segalanya. Gugatan hukum kaum Muslimin di seluruh negara Eropa terhadap surat kabar dan majalah yang menerbitkan atau menerbitkan ulang kartun tersebut selalu menemui kegagalan. Semua penalaran hukumnya sama, yaitu bahwa kasus ini termasuk ke dalam ranah kebebasan berekspresi, sebuah kebebasan yang dijamin oleh undang-undang dan konstitusi di semua negara Eropa.

Sejumlah ayat dalam Al-Qur’an menerangkan kepada kita cara menerapkan nilai-nilai Islam, terutama perintah Allah dalam Kitab Suci-Nya tentang amar makruf nahi mungkar. Ia merupakan pilar nilai-nilai dan kebajikan yang seandainya diikuti oleh manusia, niscaya dunia ini hidup dalam damai dan harmoni, tidak akan ada kejahatan dan dosa. Amar makruf nahi mungkar diserukan kepada setiap laki-laki dan perempuan beriman, seperti yang dinyatakan dalam ayat, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar....” (QS. al-Taubah [9]: 71).



1 2 3 4 next