Benarkah Sebelum Kedatangan Islam, Bangsa-bangsa Nusantara adalah pemeluk Agama Hindu



Terdapat perkiraan asal-usul penduduk Nusantara yang bukan Hindu atau Budha. Karena terdapat dua wilayah yang secara umum diperkirakan adalah tempat agama Hindu dapat laku dipeluk oleh penduduknya. Kedua tempat itu di dunia adalah hanya di Indonesia dan di India. Akan tetapi fakta pada saat ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia saat ini penduduk muslimnya mencapai 85% dari total populasi. Sedangkan di India justru kebalikannya, di India Hindu-lah yang mencapai 85% dari penduduknya. maka harus dianalisis dan dicari korelasinya adanya fakta tentang peninggalan-peninggalan Peradaban Hindu yang bertebaran di Jawa Tengah pada millennium pertama Masehi, sementara ini teori paling kuat yang kemudian dijadikan kesimpulan bahwa penduduk Indonesia adalah penganut Hindu atau Budha adalah dari candi-candi dan sejarah kerajaan-kerajaan.
Bagaimanapun juga fakta arkeologi membuktikan memang terdapat banyak bertebaran Artefak-artefak Hindu dan Budha. Walaupun memang banyak ditemukan Artefak Peningalan Hindu dan Budha di Nusantara, akan tetapi fakta sejarah sedikit banyak menampilkan fakta bahwa keberadaan kuantitas maupun kualitas monumen-monumen dan situs-situs simbol peradaban dan kepercayaan tidak serta-merta menunjukkan kualitas kadar kepercayaan batin masyarakat terhadap kepercayaan itu sendiri. Demikian cepatnya perubahan struktur batiniah terjadi pada budaya-budaya. Seperti contohnya budaya pagan pra-Islam, dan pagan pra-kristus yang awalnya banyak meninggalkan artefak-artefak. Akan tetapi dalam sekejap masyarakatnya segera meninggalkan kepercayaan lamanya, sementara monumen peninggalan keyakinannya itu masih utuh sampai sekarang.
Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah; apa yang menjadi sebab bahwa Artefak-artefak Hindu dan Budha di Nusantara yang memiliki kualitas lebih tinggi daripada di India, akan tetapi yang terjadi dengan situasi rakyatnya justru kebalikannya. Nusantara dengan peninggalan Artefak Hindu dan Budha dengan ukuran yang lebih besar dan lebih berkualitas justru masyarakatnya akhirnya meninggalkan kepercayaan yang disimbolkan oleh artefak-artefak yang berjumlah banyak tersebut. Sementara India yang Artefak-artefak Hindu dan Budhanya lebih kecil dan tidak begitu berkualitas akan tetapi masyarakatnya tetap kuat memegang kepercayaan yang disimbolkan oleh artefak-artefaknya.
Selain itu juga ada pertanyaan yang mendasar tentang Artefak-artefak Hindu-Budha di jawa tengah. Yaitu bahwa keberadaan Artefak-artefak Hindu dan Budha di Jawa Tengah sebagian besar tidak disertai dengan keterlibatan masyarakat sekitarnya dalam skala besar dan luas terhadap artefak-artefak itu sendiri dengan peringatan-peringatan maupun perayaan-perayaan yang sesuai dengan ukuran kebesaran artefak-artefak itu sendiri. Bahkan sebagian besar monumen-monumen megah dan raksasa di Jawa sebagian besar ditemukan dalam keadaan terkubur dalam tanah. Candi Prambanan ditemukan pada tahun 1733 oleh Orang Belanda C. A. Lons. Bahkan candi yang sangat besar ini terkubur di kedalaman lebih dari 6 meter! Sedangkan mengenai Candi Borobudur, Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya ?bukit!? yang dipenuhi dengan batu-batu berukir! Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.
Bentuk seperti bukit diatas menunjukan bahwa Candi Borobudur bukan diabaikan karena mengalami kerusakan atau tertimbun karena sebab erupsi Gunung Merapi. Selain itu sebab alam tidak mungkin menjadi faktor penghambat bagi dorongan kehendak manusia, apalagi dorongan batin manusia yang sangat penting dan mendasar seperti kepercayaan, ideologi/pemikiran dan keyakinan. Apabila rakyat masih menghargai fungsi monumental Candi Borobudur dan Prambanan sebagaimana fungsi simbolis dari kepercayaan yang disimbolkannya, sebagai sesuai dengan keyakinan rakyat, maka pastilah rakyat akan merenovasinya kembali di saat itu juga setelah erupsi atau langsung segera membangun lagi candi baru yang jauh lebih megah. Sedangkan Erupsi Merapi pada tahun 2010 yang secara jejak rekam erupsinya termasuk erupsinya yang terbesar, dan masyarakat sekitar Merapi diharuskan keluar dari tempat tinggalnya masing-masing, untuk mengungsi ke tempat yang aman. Akan tetapi beberapa hari setelahnya walaupun sudah diperingatkan pemerintah, masyarakat sekitar Merapi yang sudah mengungsi sudah berani secara diam-diam berusaha kembali ke kampung halamannya yang masih berstatus bahaya. Mereka ingin merenovasi dan membangun lagi rumah dan kampungnya yang telah hancur oleh Erupsi Merapi. Karena sebab yang tidak bersifat dorongan hati yang mendasar seperti rumah dan kampung halamannya saja manusia berani menantang maut untuk memperbaikinya. Apalagi sesuatu yang berkenaan dengan kepercayaan dan keyakinan seperti memperbaiki candi-candi sebagai monumen dan simbol keagamaan.
Selain itu ternyata di kemudian hari inisiatif pemulihan dan penggalian candi-candi besar Peradaban Hindu dan Budha di Nusantara lebih banyak dilakukan oleh orang-orang kolonial. Sementara penduduk Pribumi Nusantara yang jumlahnya mayoritas malah mengabaikannya. Apa yang terjadi sehingga Penduduk Mayoritas Nusantara meninggalkan dan mengabaikan monumen-monumennya yang di jaman dahulu sangat besar, megah dan memerlukan biaya pembuatan yang sangat besar. Tidak mungkin pada waktu penemuan Raffles dan C.A Lons terhadap kedua candi itu masyarakat sekitar wilayah candi tidak mengetahui bahwa di tempat candi itu sekarang berdiri pernah berdiri monument raksasa yang mewah dan megah di jamannya. Oleh karena itu besar kemungkinan kedua candi raksasa dan megah ini diabaikan oleh masyarakat karena rakyat tidak memiliki keterikatan hati yang mendasar dengan kedua candi itu
Sering terjadi pada berbagai peradaban di dunia termasuk juga Peradaban Nusantara, dari jaman ke jaman, memiliki struktur kesadaran/kehendak kolektif bangsa yang terbagi menjadi dua. Yaitu kehendak kolektif penguasa dan kehendak kolektif rakyat. Konsep ini tak terkecuali juga berlaku di Nusantara maupun di India. Artefak-artefak monumental yang megah membutuhkan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu semestinya dibangun oleh pihak yang memiliki modal besar. Selain itu keberadaan artefak-artefak yang monumental biasanya lebih dibutuhkan dilakukan oleh pihak penguasa mereka daripada pihak rakyat. pembangunan monumen-monumen di suatu wilayah bagi penguasa wilayah daerah itu adalah sebuah demonstrasi kepada semua pihak akan keberhasilan prestasi mereka dalam memimpin wilayah itu. Oleh karena hal diatas maka ada pula suatu kemungkinan bahwa kepercayaan Islam yang masuk ke Nusantara dan mengislamkan penduduknya memiliki karakter yang berbeda dengan karakter pendakwah islam yang mengislamkan sebagian daerah Pesisir India. Kemudian juga ada kemungkinan bahwa Karakteristik Kehindu-budhaan Orang-orang Nusantara berbeda dengan Karakteristik Kehindu-budhaan Orang-orang India.
Pada buku Fa Xian, Catatan Mengenai Negeri-negeri Budha, Dalam Kong Yuanzhi, Silang Budaya Tiongkok Indonesia, PT Ilmu Buana Populer, Jakarta 2005 pada halaman 15 terdapat didalamnya catatan Fa Xian/ Fa Shien sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411M). ia singgah di Yapoti (julukan untuk Jawa dan Sumatera pada saat itu. Pada persinggahannya selama 5 bulan itu ia menulis,
Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan atau Sumatera) di negeri itu Agama Braham sangat berkembang, sedangkan Budha tidak seberapa pengaruhnya.
Agama Braham, yang dimaksud oleh Fa Hien adalah Agama Nabi Ibrahim atau agama monotheisme.Jejak Sejarah Nusantara yang berasal dari prasasti-prasasti yang berasal dari sekitar abad ke-5 dan ke-6 Masehi sedikit banyak menunjukkan persamaan jejak dengan tradisi yang merupakan peninggalan Nabi Ibrahim. Hal ini pula sedikit banyak menunjukkan bahwa Kehinduan Masyarakat Nusantara sedikit berbeda dengan Masyarakat India. Prasasti yang dimaksud berkenaan dengan prasasti yang meriwayatkan tenang Raja Purnawarman dan Mulawarman. Raja Purnawarman maupun Raja Maulawarman melaksanakan ritual yang mirip Qurban. Qurban oleh Purnawarman Raja Tarumanegara, tertera pada Prasasti Tugu, Cilingcing, Jakarta. Sedangkan oleh Maulawarman, Raja Kutai, tertera pada Prasasti Batu Yupa/Muara Kaman, tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kedua prasasti menceritakan kedua raja agung ini masih melaksanakan adat Millatu Ibrahim. Mereka menyembelih 1000 ekor sapi. Dagingnya dibagikan kepada seluruh rakyat.
Tradisi kurban dengan menyembelih sapi sebagai Tradisi Hindu di Nusantara berbeda dengan tradisi di India. Bagi Agama Umat Hindu Dharma, sapi merupakan hewan suci dan keramat. Penyembelihan sapi pastilah akan dilarang. Walaupun kedua raja tersebut Maulawarman dan Purnawarman adalah pemeluk Agama Hindu akan tetapi sejarah penyembelihan hewan sapi sebagai qurban ini setidaknya mendeskripsikan bahwa minimal sebagian rakyat Kerajaan Tarumanegara dan Kutai besar kemungkinan tidak memeluk Agama Hindu akan tetapi keyakinan lainnya.

Perbandingan Situasi Sosio-Kultural antara Masyarakat Nusantara dan Masyarakat India

Ciri khas peradaban pada masa Hindu-Budha lainnya di Nusantara Kuno dimungkinkan keberadaannya. Diantaranya adalah keberadaan makam-makam kuno Kerajaan-kerajaan Nusantara pada masa Pra-Islam. Pada Agama Hindu yang di India tidak mengenal adanya prosesi pemakaman jenazah. Mereka mengkremasi jenazah kemudian melarungnya di sungai. Selain itu terdapat banyaknya peristiwa politis bahwa pada suatu masa kerajaan-kerajaan di Nusantara pernah dipimpin oleh seorang raja perempuan. Tercatat dalam sejarah Kerajaan-kerajaan Kuno Nusantara nama-nama raja perempuan seperti Ratu Sima, Pramodya Wardhani, Tribhuana Tunggadewi, Gayatri, Rajapatni. Budaya mengangkat seorang perempuan menjadi pemimpin sepertinya juga tidak bernuansa Peradaban Hindu di India. Kedudukan perempuan pada Peradaban Hindu di India adalah inferior. Keadaan diatas menunjukkan bahwa Kehinduan masyarakat di Nusantara berbeda dengan kehinduan masyarakat di India. Terdapat pengaruh-pengaruh yang symbol-simbol ritualnya sama dengan simbol-simbol peradaban monotheis yang populer di dunia ini.
Lalu peradaban apa yang dimaksud oleh Fa Xian atau Fa Shien dengan kalimatnya bahwa Agama Braham sangat berkembang di Yapoti, sedangkan Budha tidak seberapa pengaruhnya. Sementara ini pendapat populer masyarakat menganggap bahwa agama Braham tidak keluar dari derivasi tiga agama, yaitu Agama-agama Yudaisme, Kristen dan Islam.
Seperti telah diuraikan diatas bahwa Sejarah Asia Selatan dan Asia Tenggara sedikit banyak menunjukkan bahwa Peradaban Hindu hanya terdapat di India dan ?Nusantara?. Tapi dua masyarakat yang katanya ?sama-sama? Penganut Hindu ini mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap Peradaban Islam yang monotheisme. Nusantara akhirnya memeluk Islam, sedangkan India hanya hanya 13% yang memeluk Islam. Tentunya latar belakang kedua bangsa merupakan kunci utama untuk menguak misteri ini. Sedikit banyak yang dapat ditemukan dari karya H. Mohammad Said disebutkan bahwa Nusantara merupakan penduduk yang sudah sangat maju sebelum Hindu datang. Peradaban yang maju di dunia biasanya terbentuk melalui proses evolusi panjang dan bertahap. Maka sebelum peradaban Hindu masuk, semestinya telah ada suatu peradaban dunia yang lebih superior dan populer daripada Hindu terlebih dahulu tiba di Nusantara.
Oleh karena itu pelacakan pada suatu peradaban maju yang mempunyai kemungkinan kuat telah masuk ke Nusantara dilakukan dengan cara mencari dan meneliti satu-persatu peradaban maju dan populer serta sezaman dengan Peradaban Hindu di dunia ini. Apabila sudah ketemu suatu peradaban tersebut yang sekiranya cocok dengan kriteria diatas maka kemudian kita bandingkan peradaban yang sezaman dan seusia dengan Peradaban Hindu tersebut dengan peradaban di Nusantara maupun dengan Peradaban India. Langkah yang pertama perlu kiranya kita juga melacak sejarah Peradaban Hindu di tempat asalnya India. Karena pada hakikatnya peradaban-peradaban manusia yang bertebaran di dunia ini berasal dari satu sumber yang kemudian beberapa orang menyempal dari peradaban tunggal yang pertamakali.


Peradaban kuno Nusantara menurut sejarah umum nasional populer saat ini berakar dari peradaban yang berasal dari Agama dan Peradaban Hindu dan Budha. Oleh karena itu daerah-daerah di Nusantara ini memiliki akar budaya dari India. Kemudian Islam masuk ke Nusantara dan Penduduk Pribumi Nusantara kemudian beralih memilih Budaya Islam menggantikan Budaya Hindu dan Budha yang dianutnya.
Perpindahan masyarakat di Nusantara dari sebelumnya yang beragama Hindu dan Budha menjadi Masyarakat Islam ini sangat unik karena berlangsung hampir secara menyeluruh akan tetapi secara damai. Tetapi hal unik ini tidak terjadi di India. Padahal di India juga terdapat pendekatan-pendekatan para Perantau islam kepada penduduk India setempat. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara situasi menjadi Islamnya masyarakat di Nusantara dengan situasi yang terjadi di India. Prosentase jumlah Muslimin di India saat ini tidak sampai 20% dari total populasi Penduduk India. Memang jika seluruh masyarakat di Asia Selatan yang sebelumnya memeluk Hindu dan Budha seperti Afghanistan, Pakistan dan Bangladesh juga dihitung maka prosentase perpindahan Masyarakat Asia Selatan yang sebelumnya beragama Hindu dan Budha yang kemudian beralih ke Islam menjadi lebih dari 40%. Akan tetapi jika dibandingkan dengan prosentase peralihan kepercayaan masyarakat yang sebelumnya beragama Hindu dan Budha menjadi Masyarakat Islam yang terjadi di Nusantara, maka prosentase perpindahan agama dari Hindu dan Budha menjadi Masyarakat Islam di Asia Selatan ini masih kecil. Saat ini prosentase jumlah populasi Masyarakat Indonesia yang beragama islam mencapai prosentase mendekati 90%.
Apabila dilihat dari fakta perbandingan antara situasi beralihnya kepercayaan Masyarakat Nusantara dengan situasi benturan Budaya Islam dan Hindu di India maka dibutuhkan teori-teori baru berkenaan dengan Karakteristik Kehindu-budhaan Masyarakat Nusantara. Karena apabila mempelajari teori masuknya Islam ke Nusantara versi Dr Snouck, saat Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-15, maka proses beralihnya Masyarakat Nusantara dari ?Hindu-Budha? ke Islam berlangsung dengan sangat cepat. Suatu hal yang agak kurang meyakinkan dapat dilakukan oleh para pedagang yang ilmu keagamaannya pas-pasan. Padahal Masyarakat ?Hindu? di Nusantara pada saat itu tidak dalam keadaan terdesak oleh kelaparan yang menyebabkan mereka dapat beralih cepat meninggalkan keyakinan lamanya. Demikian pula Masyarakat ?Hindu? juga memiliki sedikit banyak ajaran filosofis yang cukup lumayan, sehingga untuk mematahkan argumentasi mereka sedikit banyak dibutuhkan ilmu yang cukup dengan kemampuan filsafat yang memadai.
Selain hal diatas, yaitu penyebaran Dakwah Islam dengan cepat yang terjadi di Nusantara ini tidak terjadi di India. Di India pada awal masuknya, Budaya Islam hanya menguasai wilayah-wilayah pesisir dan daerah-daerah transit. Seharusnya dibutuhkan waktu lama untuk mengislamkan penduduk di Nusantara sebagaimana di India. Kecuali dengan satu alasan. Yaitu Keyakinan Hindu Masyarakat Nusantara berbeda dengan Kehinduan Masyarakat India, maka perpindahan beralihnya Masyarakat Nusantara ke Islam menunjukkan bahwa Agama Hindu dan Budha secara batiniah kurang mengakar di hati masyarakat. Maka bisa jadi bahwa pengaruh Agama Hindu dan Budha pun di Nusantara belum terlalu lama. Perbedaan rentang waktu antara kelahiran Agama Hindu-Budha di India dengan Kehindu-budhaan Masyarakat Nusantara mungkin jauh perbedaannya. Apabila hal ini benar maka akan masuk akal sekali jika Islam dapat berkembang dengan pesat di Nusantara.

Monotheisme/Semi-monotheisme Sebelum Islam: Hipotesa tentang Pengaruh Kebudayaan Persia yang Membentuk Budaya Masyarakat Kebanyakan di Nusantara dan bukannya Peradaban Hindu


Kekaisaran Persia mempunyai posisi yang sedikit lebih strategis daripada pesaingnya Romawi. Ia terletak di tengah-tengah gabungan benua-benua besar Asia, Eurasia, Eropa, dan juga bertepian dengan Samudera Hindia serta laut Kaspia. Wilayah-wilayah sebelah Barat Romawi hanya sebatas sampai di Eropa, tempat Romawi berusaha mengeksploitasi habis potensi masyarakatnya. Sedangkan wilayah-wilayah sebelah Timur Persia masih lebih luas seperti China, Anak Benua India, Asia Selatan, Indochina dan Asia Tenggara. Persia tidak juga berniat mengekspansi wilayah bangsa lain untuk mengeksploitasi masyarakat dan wilayahnya. Persia justru berusaha menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa sekitarnya, walaupun bangsa tersebut lebih lemah. Menurut Orang-orang Persia, daerah-daerah sekitar mereka cocok sebagai sasaran penyebaran pengaruh kebudayaan semi-monotheismenya.
Para Magi (Pendeta Zoroaster) rajin berkelana ke negeri Timur Jauh, sampai ke Daerah China. Kemungkinan sekali terjadi bahwa Orang-orang Persia telah mengarungi Samudera Hindia sejak zaman Bangsa Elamite menguasai Persia, atau pada masa Semi-monotheisme Pra-Zoroaster yang dipeluk rakyat kalangan bawah Persia. Hubungan komunikasi antara Persia dan Asia Tenggara yang tampaknya berlangsung sejak lama ini masuk akal, mengingat perairan Samudera Hindia dianggap suatu daerah impian bangsa-bangsa dunia, dan beritanya telah terkenal sampai bahkan ke telinga Orang-orang Eropa. Berita-berita berkenaan dengan keadaan di Asia Tenggara bisa masuk sampai ke telinga Orang-orang Eropa pada masa itu melalui jalur komunikasi antar benua yang melintas di Wilayah Persia.
Dugaan adanya Budaya Pra-Zoroaster masuk ke Nusantara ini timbul karena terdapat jejak-jejak peradaban manusia yang tinggi sebelum Budaya Hindu masuk. Pada buku Aceh Sepanjang Abad karya Mohammad Said terdapat nukilan informasi disertai dengan sumber riwayat sebagai berikut:
Suatu catatan Tiong Hoa mengatakan bahwa bertepatan pada tahun 132 Masehi, telah datang ke negeri tersebut perutusan Raja Ye Tiao untuk mengantarkan apa yang disebutnya upeti. Ye Tiao mengingatkan Ejaan Sansekerta Yawadwipa juga nama yang ditulis oleh Ptolemaeus: Yabadiou. Permulaan Sejarah Nusantara dapat diatur sejak itu. Bagaimanapun perlu disadari dan dicatat bahwa lama sebelum Orang Hindu datang, Orang Nusantara dimanapun mereka berada di kepulauan ini sudah memiliki kebudayaan sendiri yang tidak dapat dikatakan masih rendah walaupun tidak hendak dikatakan sudah bertaraf tinggi.
Apa yang diingatkan dalam Geschiedenis van Ned. Indie, oleh F.W. Stapel, tentang kekeliruan orang menyebut bahwa Orang Hindu sebagai pembawa kebudayaan/peradaban ke Nusantara atau yang menyebut sebelumnya Orang Nusantara masih liar dan biadab (telanjang seperti orang utan). Tegasnya harus sebaliknya. Yaitu Orang Nusantara sudah berkebudayaan tinggi sebelum Hindu datang.
Pada prasasti di Kutai, Kalimantan Timur ditemukan 4 prasasti. Dari tulisan tersebut diketahui bahwa sekitar abad ke-4 pernah berdiri sebuah kerajaan diperintah Raja Mulawarman. Raja tersebut adalah putra dari Asywawarman, raja sebelumnya. Asywawarman adalah anak Raja Kudungga. Memperhatikan nama Kaudungga ini maka kemungkinan sekali bahwa raja tersebut bukan Orang India tapi Pribumi Nusantara sendiri.
Berita China yaitu dari perutusan Raja Ye Tiao dan pendapat dari F.W. Stapel tentang Penduduk Nusantara yang telah berperadaban tinggi sedikit banyak memunculkan suatu bayangan pertanyaan besar. Adakah kaitan antara budaya Penduduk Nusantara dengan budaya luar Non-Hindu yang berperadaban lebih tinggi, Peradaban Semi-monotheisme Zoroaster atau Semi-monotheisme Persia Pra-Zoroaster misalnya? Masyarakat Nusantara yang sudah maju seperti uraian diatas, selain membutuhkan suatu keadaan masyarakat yang telah berkeyakinan monotheisme atau semi-monotheisme, juga diperlukan suatu keadaan masyarakat yang berperadaban tinggi pula, sehingga terbukti sesuai dengan keadaan di masa setelahnya, yaitu sebagai tempat tumbuh-berkembangnya monotheisme yang paling mutakhir yaitu Monotheisme Islam.
Suatu perbandingan dapat dilakukan pada masyarakat yang tinggal di dekat dengan Wilayah Nusantara, akan tapi sedikit banyak dapat dikatakan bahwa kebudayaan masyarakt di wilayah tersebut belum terlalu tinggi, mereka adalah suatu komunitas yang dapat dijumpai di daerah-daerah Australia dan Polinesia, seperti, Aborigin Australia, Samoa dan Papua Nugini. Penduduk di tempat ini masih sangat sederhana pola hidupnya, cara berpakaian sederhana bahkan kebanyakan masih bertelanjang dada, pengolahan dan cara mendapatkan makanannya masih sederhana. Kehidupan sosial dan sistem norma masyarakatnya juga masih sangat sederhana, berbasis suku dan aturan hukum serta penegakannya belum sempurna, sehingga keadilan sangat relatif. Penduduk-penduduk dengan ciri kehidupan primitif seperti tersebut di atas ternyata sangat sukar beradaptasi dengan suatu peradaban monotheisme yang mutakhir yaitu Peradaban Islam. Kesulitan terjadinya proses akulturasi antara budaya primitif di wilayah-wilayah tersebut dengan Budaya Islam bahkan masih berlangsung hingga masa modern ini. Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada penduduk Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan Pesisir dan Sulawesi ketika Islam masuk ke wilayah tersebut. Setidaknya hal ini dapat membuat sebuah bayangan bahwa pola hidup masyarakat jelata di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan Pesisir sebelum ?Kedatangan Hindu? tidaklah sama dengan penduduk asli di Daerah Australia, Samoa, dan Papua Nugini.
Dari uraian diatas sedikit banyak diketahui bahwa Orang Nusantara sudah berkebudayaan tinggi sebelum Hindu datang. Sementara uraian sebelumnya menyatakan bahwa Budaya Hindu merupakan budaya yang sudah sangat tua. Lalu budaya apakah yang sudah datang di Nusantara sehingga ketika dibandingkan dengan Hindu maka para periwayat dan peneliti sejarah menyatakan bahwa kebudayaan Orang Nusantara telah berbudaya tinggi tapi tidak berasal dari Hindu? Pernyataan para periwayat dan peneliti sejarah secara tidak langsung menyatakan bahwa Orang Nusantara sebelum kedatangan Budaya Hindu telah berperadaban yang minimal sama dengan Orang-orang Hindu, kalau tidak mau dibilang bahwa kebudayaan mereka diatas Peradaban Hindu.
Kebudayaan tinggi pada suatu masyarakat tidak terbentuk dalam waktu yang singkat. Tapi terjadi melalui proses bertahap evolusi mental manusia-manusia sebagai elemen dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu budaya yang telah ada di Nusantara sebelum Budaya Hindu datang paling tidak umurnya seimbang atau lebih tua dengan Budaya Hindu. Budaya yang umurnya relatif sama dengan Hindu adalah Budaya Yahudi, Nasrani dan Persia. Tapi seperti telah dibahas sebelumnya, Budaya Yahudi dan Nasrani pada masa Pra-Hindu belum masuk ke Nusantara. jadi kemungkinan sekali Peradaban Persia yang masuk ke Nusantara pada masa Pra-Hindu.
Peradaban Persia lebih maju daripada Peradaban China dan India. Persia memiliki angkatan perang yang setingkat dengan Romawi, tapi mereka tidak pernah menggunakannya untuk menyerang India dan China yang pada masa itu lebih lemah. Padahal Warga Persia banyak yang menganut semi-monotheisme rakyat tertindas Elam yang hanya dipeluk kalangan rakyat lapisan bawah atau Semi-monotheisme Zoroaster yang rivalitasnya dengan politheisme India terlihat kental pada nama-nama simbol yang dipakai kedua peradaban. Sikap Bangsa Persia kepada bangsa-bangsa tetangganya, terutama India ini sedikit banyak menunjukkan suatu toleransi. Suatu sikap yang menujukkan keberberadaban masyarakatnya. Sementara itu di dalam Negeri India sendiri sering terjadi saling menyerang hanya karena diskriminasi dan perbedaan ras pada sistem pengkastaan. Contohnya penyerangan-penyerangan yang dilakukan Samudra Gupta pada negara-negara kecil yang tersebar di Wilayah Anak Benua India. Samudra Gupta menaklukan Negara-negara Hindu kecil-kecil dan menghukum berat atau menghukum mati raja-raja yang bukan dari Golongan Arya. Sementara raja-raja yang berasal dari Arya tidak diperlakukan demikian.

Peradaban yang telah ada di Nusantara sebelum kedatangan Hindu kemungkinan besar merupakan Budaya Semi-monotheisme Zoroaster atau Semi-monotheisme rakyat tertindas Elam-Persia asli yang diajarkan anak dari Sam Bin Nuh yang hanya dipeluk rakyat lapisan bawah atau rakyat tertindas Elam/Pra-Zoroaster maupun Zoroaster. Karena berdasarkan pada pola Penyebaran Islam di dunia, akan terlihat bahwa daerah-daerah yang saat ini bersedia menerima Islam adalah daerah-daerah yang pada masa dahulu, penduduknya telah memeluk Agama Semi-monotheisme Samawi Pra-Islam yang ajaran keyakinannya cukup dekat dengan Monotheisme Islam. Seperti Wilayah Afrika Utara yang sekarang sebagian besar penduduknya memeluk Islam, pada masa Pra-Islam penduduk di tempat tersebut banyak yang telah memeluk Semi-monotheisme Kristen yang berpusat di Mesir. Kemudian daerah Syiria, Yordania, Palestina, Turki, Lebanon yang mayoritas penduduknya saat ini Penganut Islam. Pada masa dahulu sebelum kedatangan Islam, wilayah-wilayah tersebut adalah Pusat Kristen.
Penduduk Wilayah Irak banyak yang terpengaruh Ajaran Semi-monotheisme Zoroaster maupun Semi-monotheisme rakyat tertindas Elam yang hanya dipeluk kalangan rakya kebanyakan di Persia pada masa Pra-Zoroaster maupun Zoroaster. Sedangkan Wilayah-wilayah Islam di Eurasia seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kirgyzstan, dan Azerbaijan pada zaman dahulu lebih dikenal sebagai wilayah yang dikuasai oleh Bangsa Scythian. Pada masa awal Kekaisaran Persia, Bangsa Scythian memang sering merepotkan Kekaisaran Persia dengan serbuan-serbuannya. Tapi menjelang masa akhir Kekaisaran Persia, Bangsa Scythian sudah berada di bawah Pengaruh Persia. Oleh karena itu pada masa-masa menjelang Kelahiran Islam, Budaya Semi-monotheisme Zoroaster sedikit-banyak telah memberi pengaruh kepada Masyarakat Scythian.
Wilayah-wilayah Afghanistan, Tajikistan dan Pakistan juga berada dalam Pengaruh Persia dan Zoroaster. Wilayah-wilayah yang sekarang masuk ke Negara India tapi penduduknya Muslim seperti Kashmir dan Gujarat pada masa Pra-Islam juga banyak mendapatkan pengaruh dari Zoroaster. Sementara para Magi Zoroaster pada masa kejayaan Persia juga berhasil mengembara sampai ke China, pengaruhnya kemungkinan sekali cukup kuat di Daerah-daerah China Barat yang saat ini menjadi Penganut muslim China, seperti Masyarakat Muslim yang sekarang tinggal di Propinsi Xinjiang,China.
Dari uraian di atas dapat terlihat bahwa ternyata Masyarakat Muslim sekarang, yang pada jaman dahulu wilayahnya berada di sebelah Barat dari Jazirah Arab dan di bawah kekuasaan Romawi, sebelum kedatangan Islam, mereka telah memeluk peradaban samawi semi-monotheisme, yaitu Kristen. Sedangkan Masyarakat Muslim sekarang yang pada jaman dahulu wilayahnya berada di sebelah Timur dari Jazirah Arab dan di bawah Kekuasaan Persia, sebelum Kedatangan Islam, mereka telah memeluk peradaban Semi-monotheisme Zoroaster atau Semi-monotheisme rakyat tertindas Elam yang hanya dipeluk rakyat kalangan bawah pada masa Pra-Zoroaster. Dari kesimpulan tersebut di depan maka kemungkinan sekali bahwa Penduduk Nusantara yang tinggal di wilayah sebelah Timur Jazirah Arab, dan pada masa ini mayoritas menjadi Pemeluk Islam, maka pada jaman dahulu sebelum Kedatangan Islam, mereka juga berada di bawah pengaruh Kebudayaan Persia seperti Semi-monotheisme Zoroaster atau Semi-monotheisme Elam-Persia Pra-Zoroaster yang dipeluk oleh rakyat kalangan bawah di Persia.
Hal ini juga tampaknya terjadi di Nusantara. Rakyat Nusantara memiliki keadaan yang kurang lebih sama dengan Rakyat Persia, pada akhirnya mereka menjadi pemeluk Islam, oleh karena itu penduduk Nusantara sebelum Agama Islam masuk, tentunya juga memeluk suatu keyakinan kuno yang mirip dengan penduduk Persia, yaitu Semi-monotheisme Zoroaster atau Semi-monotheisme yang dipeluk rakyat tertindas Elam. Hanya keyakinan penguasanya saja yang berbeda. Penguasa Persia menganut Semi-monotheisme Zoroaster sedangkan Penguasa Nusantara menganut Hiper-politheisme Hindu. Hal ini terlihat dari tidak ditemukannya Artefak-artefak Zoroaster di Nusantara, maka terdapat kemungkinan bahwa Penduduk Pribumi sebelum Peradaban Hindu masuk ke wilayah Nusantara, mereka telah menganut semi-monotheisme yang mirip dengan keyakinan rakyat yang tertindas di Susa.
Peninggalan rakyat tertindas di Susa-Elam yang berupa artefak-artefak memang tidak ditemukan di Nusantara. Akan tetapi rakyat tertindas di Susa memang tidak pernah meninggalkan jejak peninggalan materi, bahkan di tempat asalnya, Susa, peninggalan fisik yang tertinggal adalah peninggalan penguasanya yang memang berkeyakinan politheisme. Adapun peninggalan-peninggalan arkeologi di Nusantara yang mirip bentuknya dengan peninggalan-peninggalan arkeologi yang ditinggalkan oleh para penguasa di Susa cukup banyak. Di Nusantara banyak ditemukan patung-patung atau ukir-ukiran setengah telanjang, patung-patung dan ukir-ukiran Pra-Hindu yang sedikit banyak mirip dengan peninggalan di Susa. Hal ini sedikit banyak menyiratkan bahwa struktur politik dan pemerintahan di Nusantara mirip dengan struktur politik pemerintahan di Susa, yaitu terdapat keterpisahan dan benturan kehendak antara rakyat dengan penguasanya.

Peninggalan Persia yang jejak antropologi masyarakatnya masih membekas di Nusantara mungkin dapat terlihat pada Masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengaku bahwa mereka memeluk Keyakinan ?Hindu-Parsi.? Suatu hal yang sedikit-banyak menunjukkan bahwa Pengaruh Persia telah masuk ke Nusantara pada masa Hindu. Hanya saja patut diketahui bahwa di Persia tidak ada Peradaban Hindu sama sekali. Jadi besar kemungkinan bahwa yang dimaksud oleh Orang-orang Tengger sebagai ?Hindu-Parsi? tersebut adalah Semi-monotheisme Zoroaster.
Orang-orang Tengger adalah keturunan Bangsawan Majapahit yang melarikan diri dari Pengaruh Islam. Jadi kemungkinan besar sebelum melarikan diri, mereka adalah Penganut Hindu. Tapi setelah terdesak oleh Islam, mereka kemudian berubah keyakinan manjadi pemeluk keyakinan bekas rakyatnya dahulu sebelum Islam datang ke Pulau Jawa. Hal ini sedikit banyak menunjukkan bahwa rakyat Nusantara Pra-Islam pada masa dipimpin oleh Penguasa Hindu, mereka tetap memeluk keyakinan monotheisme atau semi-monotheisme yang berasal dari Persia. Ketika Islam datang mereka kemudian memeluk Islam. Sedangkan bekas penguasanya beralih memeluk keyakinan bekas rakyatnya dulu, yaitu ?Hindu-Parsi? atau Semi-monotheisme Zoroaster. Hal ini terjadi di belahan bumi manapun. Misalnya pada saat sekarang ini, para Pemeluk Budaya Semi-monotheisme Kristen, pada masa dulu sebelum Kelahiran Monotheisme Islam, mereka masih menjadi penganut politheisme pagan. Baru setelah Kelahiran Islam maka mereka menjadi Pemeluk Semi-monotheisme Kristen. Sementara masyarakat yang pada masa sebelum kelahiran Islam merupakan pemeluk keyakinan semi-monotheisme Kristen, maka pada masa setelah Kelahiran Islam, mereka beralih menjadi Pemeluk Monotheisme Islam.

Rakyat yang tertindas jarang meninggalkan jejak arkeologis, pencarian jejak peninggalan Semi-monotheisme rakyat tertindas Elam di Nusantara pada masa Peradaban Hindu tidak bisa dilakukan dengan bertumpu pada jejak arkeologis. Tetapi dimulai dengan bertumpu pada salah satu konsep dasar antropologi masyarakat, yaitu konsep dualisme kehendak kolektif suatu bangsa. Argumentasi konsep ini menyimpulkan bahwa terdapat kecocokan antara peradaban Rakyat Nusantara (bukan penguasanya) sebelum kedatangan Islam dengan Peradaban Islam. Penerimaan masyarakat kepada Islam yang terjadi melalui proses yang sangat damai dan cepat, pada masa Agama Islam masuk ke Nusantara, secara otomatis menunjukkan terdapat kecocokan antara budaya awal Pribumi Nusantara dengan Peradaban Islam. Islam diterima dengan damai di Nusantara, hal yang tidak terjadi di India sebagai daerah dulu dianggap ?sama-sama? berbudaya Hindu.
Dualisme konsep kehendak atau kesadaran kolektif membentuk dua kutub visi dan misi bangsa yang saling bertentangan. Seperti dualisme kehendak kolektif bangsa antara kehendak penguasa dengan kehendak rakyat, kehendak kaum bangsawan dan kehendak kaum proletar, kehendak kaum pemilik modal dan kehendak kaum buruh dll. Dan interaksi keduanya bisa berupa benturan keras seperti konflik dan peperangan, maupun benturan lunak seperti arbitrasi, dialog dll.

Untuk mengetahui psikologi masyarakat masa lampau sedikit banyak mungkin dengan membandingkan kenyataan Perpolitikan Nusantara dari periode ke periode, sejak jaman dahulu kala, hingga jaman pra kemerdekaan, jaman orde lama, jaman orde baru hingga masa kini. Kalau ditarik mundur pola politik antara perpolitikan di jaman sekarang ke pola perpolitikan di jaman dahulu maka terlihat bahwa polanya tidak mengalami perubahan. Selalu terdapat dua kehendak kolektif besar yang berada dalam satu kehidupan berbangsa di Wilayah Nusantara ini. Yaitu kehendak kolektif penguasa dan kehendak kolektif rakyat.
Akan tetapi benturan yang terjadi di Nusantara oleh kedua belah pihak yang mempunyai kehendak kolektif elemen bangsa berbeda adalah benturan yang bersifat moderat. Untuk mengatasi perbedaan kehendak kolektif antar dua kutub elemen bangsa, Pribumi Nusantara lebih memilih jalur dialog, arbitrasi dan negosiasi. Walaupun lebih sering pihak penguasa ketika memberikan ruang untuk wilayah tarik ulurnya dalam bernegosiasi dengan pihak rakyat hanya menyediakan ruang toleransi yang minimum. Akan tetapi pihak rakyat lebih sering mampu atau bersedia menerimanya.
Sikap Rakyat Nusantara ketika bernegosiasi dengan pihak penguasanya lebih mengambil posisi mengalah, bukan kalah akan tetapi mengalah atau dalam peristilahan Bahasa Jawanya ngemong. Hubungan antara pihak penguasa dengan rakyat pada Bangsa Nusantara mungkin dapat diibaratkan lebih-kurang seperti hubungan sosial antara anak dengan orangtuanya pada sistem keluarga. Orangtua akan selalu mengalah pada anaknya. Orangtua selain bertujuan memberikan kesenangan kepada anaknya juga memberi ajaran kepekaan. Supaya anaknya dapat mengerti tanpa diberi tahu langsung, tapi dengan cara belajar sendiri dengan cara menyelami perasaan yang ada pada dirinya sendiri/pengalaman batin. Istilahnya dalam kalimat adalah seperti Ungkapan Jawa Tut Wuri Handayani. Maknanya menunggu dulu, biarkan anak mencoba mencari tahu sendiri dahulu; hikmah yang dapat mereka tangkap dibalik tindakan mengalah orangtuanya.
Tetapi kehendak rakyat biasanya akhirnya selalu menang. Pada situasi apa pun kehendak mayoritas pasti akan menang dan minoritas akan mengikutinya. Hal ini terjadi pada situasi misalnya pada masa Orde Baru. Selama 32 tahun, rakyat mengalah kepada kroni-kroni Pak Harto. Tetapi kemudian sebelum hampir habis kesabaran rakyat. Maka kehendak kolektif penguasa segera mengubah pendiriannya. Demikian pula pada masa Orde Lama. Pada masa Orde Lama sebenarnya rakyat hampir habis kesabarannya terhadap pihak penguasa yang memberikan toleransi dan peluang besar kepada komunisme. Perilaku orang-orang komunis tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Maka ketika rakyat sudah diambang batas kesabarannya, penguasa mengubah pendiriannya, walaupun penguasa yang mengubah pendiriannya sudah berganti orang akan tetapi siapa pun yang menjadi penguasa baru saat itu maka akan mengikuti kehendak rakyat saat itu.
Pola seperti pada uraian diatas dapat pula ditarik terus, diterapkan pada situasi di masa yang lebih lampau lagi, misalnya untuk melihat keadaan masyarakat Majapahit di jaman lampau. Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Hindu yang berarti kehendak kolektif keyakinan penguasanya adalah Berkeyakinan Hindu, akan tetapi kerajaan ini tidak bisa mencegah kehendak rakyatnya untuk Masuk Islam. Pada Jaman Majapahit, terdapat dua agama yang dipeluk masyarakatnya. Yaitu Agama Hindu dan Islam. Agama Hindu dipeluk oleh para penguasa dan keluarga bangsawan. Sedangkan Agama Islam dipeluk oleh rakyat.
Pada Artefak-artefak Peninggalan Majapahit telah ditemukan peninggalan-peninggalan jejak arkeologis Masyarakat Majapahit yang menganut keyakinan monotheistik. Keyakinan monotheistik yang dianut sebagian besar Rakyat Majapahit saat itu adalah Keyakinan Islam. Banyak dijumpai makam-makam dengan kaligrafi-kaligrafi kalimat-kalimat syahadat, kalimat takbir, tahlil dan kalimat-kalimat dzikir lainnya. Kalimat-kalimat Simbol Islam tersebut juga tampak pada ornamen-ornamen rumah, ornamen-ornamen bangunan yang diduga masjid, mata uang dll.
Pada batas kesabaran, akhirnya Rakyat Majapahit menghendaki bahwa tidak hanya mereka yang Beragama Islam, akan tetapi penguasa yang memerintah mereka pun supaya Beragama Islam. Pada akhirnya ketika penguasa tetap tidak mampu menerima Islam maka Kerajaan Majapahit ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri. Tidak teriwayatkannya Proses Islamisasi Masyarakat Jawa setelah terjadi perpindahan ibukota kepenguasaan Jawa dari Majapahit ke Demak, menyimpulkan bahwa Masyarakat Jawa sudah Islam sejak lama jauh sebelum Keruntuhan Majapahit dan Kelahiran Demak.
Sebenarnya Majapahit tidak mengalami keruntuhan. Kerajaan tersebut hanya mengalami perubahan keyakinan negara. Negara Majapahit yang awalnya adalah suatu negara berdasarkan Agama Hindu kemudian menjadi berdasarkan Islam. Kemudian pergantian nama, yang awalnya bernama Negara Majapahit menjadi Negeri Demak. Akan tetapi rakyat dan penguasanya tetap. Sultan Demak yang pertama adalah putra dari Raja Majapahit yang terakhir. Hanya saja penguasanya yang baru ini (putra Raja Majapahit yang terakhir) juga menjadi Seorang Muslimin.
Memang terdapat komunitas peninggalan masa lalu yang sampai sekarang masih eksis dan merupakan penganut Peradaban Hindu. Seperti Komunitas Hindu dan Budha di Tengger dan Bali. Akan tetapi patut diketahui bahwa Masyarakat Tengger merupakan keturunan Bangsawan Majapahit yang menjauhkan diri dari kuatnya Pengaruh Islam di bekas Wilayah Majapahit dahulu. Moyang mereka bukan dari kelompok rakyat. Oleh karena itu pada masa Pra-Islam mereka adalah pihak penguasa. Wajar kalau mereka berusaha mempertahankan Kehinduannya. Hal tersebut sesuai dengan konsep dualisme kehendak kolektif berbangsa. Kehendak keyakinan penguasa Nusantara pada masa itu adalah keyakinan politheis (Hindu). Cikal-bakal masyarakat Bali juga merupakan Bangsawan Medang yang melarikan diri ke Bali setelah ada huru-hara di Medang. Oleh karena itu moyang Orang Bali juga pada hakikatnya adalah kelompok bangsawan, paling tidak mereka adalah keturunannya. Oleh karena itu kehendak kolektif keyakinan mereka (Masyarakat Bali) juga keyakinan politheisme.
Pengabaian bahkan keluar dari kekuasaan penguasa politheis yang terjadi di Majapahit ini pula yang terjadi pada kasus peninggalan-peninggalan Hindu-Budha yang amat spektakuler di Jawa Tengah pada masa sebelumnya lagi. Pada masa jauh sebelum Majapahit. Peninggalan-peninggalan simbolis representasi keyakinan Hindu dan Budha di Jawa Tengah itu ternyata tidak merepresentasikan kehendak kolektif keyakinan rakyat sehingga walaupun bangunannya sangat spektakuler, megah dan mewah tapi pada akhirnya mengalami abandonment atau pengabaian oleh rakyat/tetap ditinggalkan oleh rakyat.
Peninggalan-peninggalan Hindu-Budha itu memang dibuat oleh Penguasa Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra yang memimpin rakyat saat itu. Tentu saja pembuatan Monument-monumen Hindu dan Budha itu melibatkan rakyat, para pekerjanya adalah rakyat. Akan tetapi kehendak pembuatannya adalah oleh penguasa saat itu yaitu Wangsa Sanjaya dan Syailendra. Rakyat bersedia saja mengerjakannya seperti hubungan antara pihak pekerja dan pihak yang mempekerjakan, hubungan yang berorientasi pada profesionalitas kerja dengan mekanisme imbal-balik antara jasa dan profit. Rakyat memberikan jasa dan penguasa memberikan gaji yang akan menjadi profit bagi rakyat. akan tetapi hubungan tersebut tidak menyentuh wilayah keyakinan. Karena jika dicermati tampak bahwa Peninggalan-peninggalan Hindu-Budha itu dalam kurun waktu yang amat singkat sejak dari pembuatannya, segera mengalami abandonment atau pengabaian /ditinggalkan oleh rakyat.
Dualisme kehendak kolektif antara kehendak penguasa versus kehendak rakyat di Pulau Jawa tampak seperti pada uraian-uraian Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris. Begitu besarnya perhatian Raja-raja Jawa pada para Brahmana Hindu dan Budha, memberi mereka kebebasan dari pajak, bahkan tanah-tanah otonomi/tanah perdikan. Akan tetapi mereka menarik pajak kepada rakyatnya. Sistem hirarki pada jaman Pra-islam pada hirarki pertama adalah para brahmana. Raja dan bangsawan menempati hirarki kedua. Sedangkan rakyat menempati hirarki yang terakhir. Disebutkan bahwa raja sering menjamu para brahmana dengan acara-acara mewah seperti berburu. Pada acara itu para brahmana ikut berburu dan melempar lembing bersama-sama para bangsawan.

Dari sudut pandang bahasa, Tomy Pires bahkan mengatakan bahwa tidak ada tempat lain di dunia yang sifat angkuhnya menonjol sedahsyat di Jawa yang mempunyai dua bahasa, satu bahasa untuk bangsawan dan satu bahasa untuk rakyat. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya batasan dualisme kehendak kolektif antara penguasa dan rakyat di Pulau Jawa. Dan tentu saja fenomena keangkuhan yaitu batas-jelas bahasa yang dimaksud Tomy Pires pastilah keangkuhan dari kehendak kolektif penguasa. Suatu pendikotomian kedudukan yang jelas, penguasa atau orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi adalah pihak yang harus lebih dihormati oleh bawahan atau orang-orang yang kedudukannya lebih rendah. Secara tidak langsung Tomy Pires menyatakan bahwa perbandingan antara keangkuhan penguasa di Jawa kepada rakyatnya dengan keangkuhan penguasa kepada rakyatnya pada hubungan pemerintahan-rakyat lain di dunia ini adalah yang terburuk. Hal ini sedikit banyak menunjukkan kemungkinan bahwa budaya lisan merupakan sarana kehendak perjuangan sosial rakyat pulau Jawa yang dimarjinalkan oleh penguasanya.
Sedangkan di India situasi benturan kehendak antara rakyat versus penguasa yang terjadi adalah berkebalikan dengan situasi di Nusantara. Konsep struktur dualisme kehendak kolektif yang membentuk elemen bangsa memang tetap ada. Di India juga terdapat dua kehendak kolektif berbangsa dan bernegara. Dualisme antara kehendak/keyakinan penguasa dengan kehendak/yaitu antara keyakinan rakyat. Hanya saja perbedaan situasi berbangsa di India dengan situasi di Nusantara adalah bahwa kehendak penguasa dan kehendak rakyat di India justru berkebalikan dengan keadaan kehendak kolektif rakyat di Nusantara. Kehendak kolektif keyakinan rakyat India adalah politheistik, dan kehendak kolektif keyakinan penguasanya justru yang monotheistik. Jadi kehendak kolektif keyakinan penguasa di India malah sama dengan kehendak kolektif rakyat di Nusantara. Kemudian kehendak kolektif rakyat di India justru sama dengan kehendak kolektif penguasa di Nusantara.
Seperti keadaan di Nusantara, setelah lahirnya Agama Islam dan pengaruhnya sampai ke Asia Selatan maka para Penganut Keyakinan Monotheistik Persia di India dengan segera menerima dan menjadi Pemeluk Agama Islam. Perbedaannya dengan keadaan transformasi masyarakat di Nusantara adalah jika di Nusantara para Penganut Semi-monotheistik Persia yang kemudian menerima dan menjadi Pemeluk Islam adalah kalangan rakyat bawah. Maka di India Penganut Semi-monotheistik Persia yang mentransformasikan diri dan menjadi Pemeluk Islam adalah kalangan penguasa.
Itulah sebabnya berkebalikan dengan situasi di Nusantara, bangunan-bangunan yang megah-megah di India justru bangunan-bangunan lambang kebudayaan monotheistik (Islam). Seperti contohnya adalah Delhi dan Taj Mahal. Sedangkan bangunan-bangunan politheistiknya/Hindu tidak seberapa megah dibandingkan bangunan-bangunan monotheistik di India ini. Tapi bangunan-bangunan megah monotheistik tersebut tidak mampu menarik Masyarakat India mayoritas. Karena kehendak kolektif keyakinan mayoritas rakyat India adalah Keyakinan Politheistik/Peradaban Hindu (Dravida).
Bangsa India lebih sering dipimpin oleh kepemimpinan monotheistik walaupun rakyat yang dipimpinnya adalah masyarakat politheistik. Seperti di masa Kesultanan Islam India pada jaman Dinasti Mughal. Dan ternyata di India pihak yang lebih sering mengalah atau kalau dalam peristilahan kata Bahasa Jawa ngemong, adalah pihak penguasa kepada rakyatnya. Dinamika pergerakan-pergerakan sosial, politik, Bangsa India ketika berjuang membebaskan diri dari Penjajahan Inggris sedikit banyak memperlihatkan hal tersebut. Pada Bangsa India, pihak penguasa yang berlaku seperti layaknya orangtua kepada anaknya, anak pada pengibaratan hubungan dualisme di India ini diperankan oleh Rakyat India/Peradaban Hindu (Dravida). Ketika Inggris berniat menjajah India sering terjadi betapa penguasa mengalami perjuangan yang amat berat karena mengalami kesulitan mengajak rakyat untuk bahu-membahu mengusir Penjajah Inggris.

Peradaban Zoroaster dan Peradaban Hindu

Peradaban Zoroaster
Zoroaster adalah agama yang sudah sangat tua umurnya di Persia. Pandangan para ahli sejarah dalam menentukan masa kelahirannya beragam. Ada yang beranggapan bahwa Zoroaster muncul pada antara tahun 700-600 SM. Kemudian ada yang beranggapan bahwa Zoroaster lahir pada tahun 1500 SM. Jarak antara pendapat para pakar mempunyai rentang yang cukup jauh. Tapi kami berpendapat bahwa tahun 6000 SM sebagai tahun Kelahiran Zoroaster. Karena pendapat yang menyatakan bahwa Zoroaster lahir pada tahun 1500-1100 SM semestinya mengacu kepada masa perkiraan dibuatnya Gatha yaitu bagian tertua dari Avesta, kitab Agama Zoroaster.
Sedangkan yang berpendapat bahwa Zoroaster lahir pada tahun 700-600 SM adalah kelompok pakar yang lebih menjadikan sejarah sebagai sudut pandang penilaian utama. Para ahli bahasa berpendapat bahwa perkiraan perkiraan 1500-1100 SM sebagai Kelahiran Zoroaster berdasar pada analisa usia pada bahasa dan tulisan yang digunakan untuk menulis Avesta. Avesta ditulis dengan bahasa Sanskrit (bahasa Arya) yang diperkirakan muncul di Persia pada tahun 1500-1100 SM. sesungguhnya analisa usia suatu keyakinan dari sudut pandang bahasa yang menuliskan kitab suatu keyakinan tidak memiliki makna historis, karena penggunaan suatu bahasa oleh suatu kelompok manusia tidak bisa dipastikan waktu dan periodenya. Bahasa Sanskrit diperkirakan usianya oleh para ahli bahasa dengan membandingkan penyebaran bahasa tersebut dengan bahasa-bahasa yang mirip dengan bahasa tersebut di dunia.
Mereka menilai bahwa Bahasa Sanskrist adalah bahasa induk dari Bahasa-bahasa Latin, Eropa, Celtic, dll. Para ahli bahasa juga menetapkan masa Kelahiran Gatha dan Rigweda (Kitab Hindu yang paling tua) juga digunakan untuk menetapkan masa migrasi Persia-Arya ke Persia dan Indo-Arya ke India. Oleh karena itu menurut para ahli Bahasa Zoroaster dianggap lahir pada tahun 1600 SM. Padahal suatu keyakinan manusia atau suatu bangsa mempunyai usia yang seiring dengan keberadaan manusia atau bangsa itu sendiri, sedangkan suatu pengadopsian suatu bahasa dalam tulisan atau bahasa oleh suatu bangsa dapat datang dan pergi silih-berganti.
Perbandingan sederhana dapat diambil pada suatu keadaan masyarakat di lain, misalnya masyarakat di Pulau Jawa yang pada masa lalu memeluk keyakinan Spiritual Kejawen. Secara umum diketahui bahwa spiritual kejawen ditulis dengan Bahasa Jawa. Apabila hal ini kemudian diyakini bahwa keyakinan Spiritual Kejawen telah berumur 1000 tahun, (yaitu waktu perkiraan akan usia Bahasa Jawa), maka hal ini akan menimbulkan distorsi informasi akan usia keyakinan Spiritual Kejawen. Karena pada kenyataannya usia keyakinan Spiritual Kejawen telah berumur 1400 tahun, Karena pada prinsipnya Spiritual Kejawen berasal dari inti Ajaran Islam. Pada masa kedatangannya ke Pulau Jawa untuk pertamakali keyakinan Spiritual Kejawen bahkan tidak dituliskan menggunakan Bahasa Jawa. Dari semua uraian diatas maka dapat ditarik benang merahnya bahwa usia akan suatu bahasa tidak dapat memberikan kesimpulan apa pun akan usia suatu keyakinan yang ditulis pada suatu kitab dengan bahasa tersebut. Jadi Keyakinan Zoroaster yang kitabnya ditulis dengan Bahasa Sanskrit yang telah berusia 1500 SM, tidak serta merta meniscayakan bahwa Keyakinan Zoroaster tersebut juga berusia 1500 SM, lebih besar kemungkinannya usia Keyakinan Zoroaster bisa berasal dari masa yang jauh lebih tua lagi.
Sedangkan para pakar sejarah malah lebih naif lagi dalam menetapkan Kelahiran Zoroaster, yaitu antara tahun 700-600 SM, karena disesuaikan dengan sejarah berdirinya Imperium Median di Persia. Kekaisaran Median mempunyai data dan fakta serta alur sejarah yang cukup jelas demikian pula terdapat catatan-catatan riwayat yang disertai dengan angka masanya. Secara sejarah yang lebih rinci, Zoroaster memang seolah muncul di masa Kekaisaran Median. Kekaisaran Median cukup meriwayatkan agama ini. Pada masa mereka ini para Magi (Pendeta Zoroaster) diberi keleluasaan dalam menjalankan peribadatan dan berdakwah kepada umat manusia sampai keluar dari Wilayah Persia. Simbol-simbol Zoroaster juga terdapat pada peninggalan Kekaisaran Median.
Akan tetapi Kekaisaran Median juga masih menampilkan simbol-simbol politheisnya. Jadi pada masa itu di Persia masih bercampur antar simbol-simbol semi-monotheis dan simbol-simbol politheis. Simbol-simbol politheis adalah bawaan dari Orang-orang Median. Orang-orang Median (Medes) sebelum mendirikan kekaisaran di Persia sebenarnya adalah bangsa pendatang. Mereka berasal dari wilayah yang sekarang menjadi wilayah sekitar Turki. Mereka membawa datang ke Persia sambil membawa keyakinan lamanya. Tapi setelah tiba di Persia banyak pula dari mereka yang kemudian meninggalkan keyakinan lama dan menjadi Penganut Zoroaster. Hal ini telihat dari diperhatikannya perkembangan Agama Zoroaster oleh Kekaisaran Median.
Setelah Median runtuh dan diganti oleh Dinasti Achaemenid maka bisa dikatakan bahwa hampir semua Orang Median akhirnya memeluk Agama Zoroaster. Karena Dinasti Achaemenid masih merupakan sambungan dari Median. Cyrus Yang Agung, pendiri Dinasti Achaemenid merupakan Orang Median, ia menggulingkan kakeknya yang merupakan raja terakhir Kekaisaran Median. Tapi apabila mencermati Sejarah Median di Persia maka dapat disimpulkan bahwa Zoroaster bukanlah agama awal Orang Median, karena di awal kepemimpinan, mereka masih menampilkan simbol-simbol politheisnya. Lebih besar kemungkinan Zoroaster adalah Agama Penduduk Persia sebelum kedatangan Orang-orang Median, dan kemudian mereka mengadopsi Agama Penduduk Persia. Hal ini tampak dari sikap Cyrus yang berusaha mengkaitkan hubungan antara Median di masanya (Achaemenid) dengan Orang-orang Persia sebelum kedatangan mereka.


Peradaban Hindu
Peradaban Hindu adalah sebuah budaya politheisme yang jika tidak hendak dikatakan merupakan sebuah budaya politheisme yang ekstrim. Bangsa Arya sebelum mereka masuk ke India memang merupakan bangsa yang berkeyakinan politheisme. Akan tetapi setelah mereka masuk ke India dan berinteraksi dengan Masyarakat Dravida kemudian terbentuklah Peradaban Hindu yang merupakan peradaban hyper-politheisme. Hindu tidak saja punya banyak Dewa, tapi bahkan terdapat Dewa-dewa di Peradaban Hindu yang diberi atribut yang buruk, seperti Dewa Perusak, Penghancur, Dewa Kematian, dll. Dan setiap Penganut Hindu bisa memberikan peribadatannya pada sesembahan mereka masing-masing.
Terdapat dua teori untuk menjelaskan asal-usul Peradaban Hindu. Teori pertama berdasar pada peninggalan jejak-jejak arkeologi di Daerah Asia Selatan yang meliputi India Barat Laut dan sekitar Lembah Sungai Indus. Berdasar pada teori ini maka asal-muasal Peradaban Hindu berasal dari Lembah Sungai Indus. Di tempat itu ditemukan bekas kota kuno Mohenjo Daro dan Harappa yang telah berumur ribuan tahun. Penemuan-penemun benda arkeologi yang berupa patung-patung menunjukkan pola yang sudah mengarah pada Peradaban Hindu.
Teori kedua berdasar pada riwayat-riwayat Sejarah India. Terutama sejarah latar belakang Masyarakat India dan Sejarah Hindu. Peradaban Hindu menurut versi riwayat mereka sendiri menyatakan Bahwa Hindu berasal dari Bangsa Arya yang memasuki India Barat Laut, kemudian menggeser suku asli yaitu Dravida ke Selatan.
Dari berbagai paparan sebelumnya, bahwa Semi-monotheisme Zoroaster mendapatkan ajaran semi-monotheismenya dari rakyat tertindas Elam. Kemudian darimana Peradaban Hindu mendapatkan kontribusi kepolitheisannya sehingga membentuk budaya yang hiper-politheis, yang mana budaya hiper-politheis biasanya terbentuk dari perpaduan dua budaya politheis yang berakulturasi. Salah satu budaya politheis yang membentuk Peradaban Hindu di India adalah Budaya Arya. Salah satu budaya lagi tentunya budaya lokal India sebelum Arya masuk ke wilayah itu, yaitu Budaya Dravida.
Bangsa Dravida merupakan bangsa turunan dari Peradaban Mohenjo Daro-Harappa. Apabila melihat dari usia Peradaban Daro-Harappa, maka peradaban ini mempunyai usia yang hampir menyamai usia Peradaban Sumeria. Sumeria muncul pada tahun 3500 SM, sedang Daro-Harappa muncul pada tahun 3300 SM. Oleh karena itu kemungkinan sekali bahwa Bangsa Daro-Harappa adalah orang-orang yang berpindah dan menyempal dari Bangsa Sumeria di Mesopotamia pada masa awal. Alasan yang paling kuat dari suatu kelompok manusia untuk menyempal dari induk komunitasnya pada masa lalu adalah alasan perbedaan keyakinan. Karena kehidupan yang keras di masa lalu sangat menyulitkan bagi kelompok manusia yang lebih kecil. Semakin kecil jumlah manusia pada suatu kelompok, maka akan semakin sulit pula kehidupan kelompok tersebut.
Dari semua hal itu maka pada situasi bentukan keyakinan masyarakat yang terjadi di India kemungkinan sekali adalah akulturasi antara Politheisme Arya dan Politheisme Dravida. Sehingga terjadi proses pengakselerasian politheisme pada penyatuan kedua budaya politheisme dan terbentuklah Peradaban Hindu yang hiper-politheisme. Hal ini tidak terjadi pada wilayah tetangga India yang juga didatangi oleh Bangsa Arya, yaitu situasi yang terjadi di Persia. Bangsa Arya selain bereksodus ke India mereka juga bereksodus ke Persia pada waktu yang bersamaan. Tetapi kedatangan Arya di Persia telah membentuk suatu budaya semi-monotheisme Zoroaster.

Asal-usul Persaingan Peradaban Zoroaster dan Peradaban Hindu



1 next