Toleransi Islami dan Doktrin-doktrin Barat



Bukankah Dialog Agama dan Peradaban Tersebut Memiliki Risiko Berbahaya Bagi Kaum Muslimin Dimana Ia Akan Terseret Pada Sebuah Sikap Kompromis dan Acuh Tak Acuh Dalam Masalah akidah? Apa Langkah Prefentif Yang Harus Diambil?

Hal yang ditemukan dan ada pada ayat-ayat Al Qur'an dan riwayat-riwayat para Imam Ma'shum as serta yang terjadi pada sepanjang sejarah hidup Nabi saw dan Para Imam as -terkait dengan masalah ini- adalah bahwa Islam sangat menyambut dan senang dengan dialog, dengan catatan bahwa lawan atau pun musuh tidak menunjukkan sikap permusuhan dan keras kepala.

Al Qur'an yang berkedudukan sebagai aturan-aturan bertabligh, menginformasikan kepada Nabi saw bahwa:

أُدْعُ إِلى سَبِـيلِ رَبِّكَ بِالحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ وَجادِلْهُمْ بِالَّتِي هِىَ أَحْسَنُ ... .



Artinya:"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik…".

Dan ini merupakan penjelasan universal, dimana ia mencakup segala bentuk dialog/kajian dengan setiap individu atau kelompok yang sedang mencari kebenaran dan hakikat; yakni siapa saja yang ingin mendiskusikan salah satu diantara berbagai kajian agama -dengan motif mencapai kebenaran- maka hendaknya menggunakan tiga metode ini: pertama dengan logika dan argumen yang tegas (HIKMAH); lalu dengan saran dan nasihat, kemudian dengan bantahan yang terbaik.

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

وَلا تُجادِلُوا أَهْلَ الكِتابِ إِلاّ بِالَّتِي هِىَ أَحْسَنُ إِلاّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ...



Artinya:" Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka".

Ayat ini berkenaan dengan bentuk dialog dengan Ahli Kitab, dimana ia berisi anjuran untuk tetap menggunakan model bantahan yang terbaik dan tidak boleh menggunakan cara-cara yang dilatari oleh kemarahan, kecuali terhadap Ahli Kitab yang zalim dan bermaksud mengkhianati dan menghantam anda.

Singkatnya, bahwa Islam sangat menyambut dialog yang logis dan penuh keterbukaan dan alasan keterbukaan ini mungkin karena secara mendasar manusia-manusia itu -pada wilayah-wilayah pengetahuan- memiliki sebuah silsilah keyakinan dan kepercayaan dimana untuk merealisasikannya harus memerlukan kerjasama. Sebagaimana kaum Muslimin memiliki kesamaan dalam urusan dan perkara akidah dan keyakinan dengan sebagian Ahli Kitab, seperti Masihi/Kristen dan juga dalam masalah nilai-nilai etika; dan untuk terealisasinya serta tersebarnya keyakinan dan akidah monoteis dan nilai-nilai etika di seantero dunia, harus ada dan memerlukan kerjasama.

Adapun terkait dengan hal-hal yang dipertentangkan, pertama mereka harus memiliki usaha dimana dengan kerjasama mereka bisa sampai dan menemukan jawaban yang lebih meyakinkan dan salah satu caranya adalah dengan dialog dan debat; dan selama dalam masalah-masalah ini mereka belum sampai pada hasil yang meyakinkan, maka hendaknya mereka satu sama lain menjalin hubungan yang sehat dan bersahabat sehingga dengan usaha kerjasama mereka bisa saling membantu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut dan seumpama ada sekelompok yang sampai serta mencapai pada hasil yang benar dan akurat, hendaknya yang lain bisa menggunakan dan memakai capaian tersebut.

Kalau sebuah dialog memiliki tujuan-tujuan seperti ini, maka itu merupakan sebuah cita-cita yang sempurna dan diterima serta sangat ditegaskan dalam Islam.

Adapun poin yang Al Qur'an -dalam pada ini- sangat peringatkan adalah hendaknya kita ketahui bahwa kaum musyrikin selalu tidak punya maksud dan tujuan baik dari dialog-dialog semacam ini dan mungkin sekedar ingin melakukan konspirasi dan penipuan belaka.

Allah Swt berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ المُشْرِكِـينَ اسْتَجارَكَ فَأَجِرْهُ حَتّى يَسْمَعَ كَلامَ اللّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ... ؛



Artinya:" Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar (dan merenungkan) firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya".

(Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat yang mana menunjukkan sikap keras terhadap kaum musyrikin yang sering memberikan sumpah palsu) dan mengatakan:

(bahkan tentang kaum musyrikin yang kita anggap boleh membunuhnya) kalau sebagian dari mereka menginginkan dari kamu sebuah perlindungan sehingga mereka merasa aman dan mereka bisa -dalam urusan dakwah kamu- berdialog dengan kamu, maka berilah mereka perlindungan sehingga mereka mendengar kalam dan firman Allah Swt dan kejahilan serta kebodohan mereka dapat hilang dan berikanlah rasa aman kepada mereka dimana mereka bisa kembali ke tempat semula dan mendapat waktu yang cukup untuk mengkaji serta menganalisis dalil-dalil kenabian dan kebenaran agama dan kaum Muslimin -pada kesempatan ini- jangan sampai mempersulit mereka.

Dari ayat dapat diperoleh bahwa, pada dasarnya dialog itu merupakan hak kaum musyrikin dan hal itu harus disambut; namun pada ayat-ayat berikut telah disebutkan beberapa hakekat yang menunjukkan bahwa jangan sekali-kali merasa yakin sepenuhnya pada janji-janji dan perkataan-perkataan lembut kaum musyrikin:

كَيْفَ وَ إِنْ يَظْهَرُواعَلَيْكُمْ لا يَرْقُبُوا فِـيكُمْ إِلاًّ وَلا ذِمَّـةً يُرْضُونَكُمْ بِأَفْواهِـهِمْ وَتَأْبى قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فاسِقُونَ



Artinya:"Bagaimana bisa (perjanjian orang-orang musyrikin itu bernilai), sedangkan jika mereka memperoleh kemenangan terhadapmu, mereka tidak menggubris hubungan kekerabatan dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian terhadapmu? Mereka menyenangkan hatimu dengan mulut mereka, sedang hati mereka menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik".

Oleh karena itu, Al Qur'an telah mengumumkan bahwa hendaknya kalian waspada dan berhati-hati terhadap dialog-dialog dan perjanjian-perjanjian yang kalian adakan dengan kaum kafir dan musyrikin, jangan sampai terperdaya dengan mulut manis mereka, mungkin saja ada konspirasi jahat dibalik itu semua.

Di era kita sekarang ini, hal semacam ini sangat terasa dan sebagaimana hasil tulisan-tulisan sebagian penulis Barat yang sampai ke tangan kita, bahwa Barat menganggap dirinya sebagai pemilik budaya terbaik dan dengan jalan dialog peradaban, mereka dihadapkan serta berurusan dengan peradaban non-Barat yang pada akhirnya bisa menghapus mereka (peradaban Barat). Dan sebagaimana sebagian pemikir Muslim telah menemukan, bahwa kecenderungan konsentrasi dan monopoli dalam proses hubungan Barat dengan yang lain, yang dibangun diatas metode menangani dan cara berinteraksi dengan yang lain dan menaklukkan mereka serta menghilangkan identintas dan pribadi serta kemampuan mereka, sedang berusaha sehingga risalah orisinil peradaban mereka itu bisa diimpor dan dipredikasikan kepada yang lain dan dalam istilahnya mereka itu diberadabkan.

Dasar-dasar Pandangan Benturan Peradaban-peradaban Di Barat



1 next