Sejarah singkat aliran Maturidiyah



Dengan memperhatikan secara seksama sejarah aliran Maturidiyah, secara jelas akan terbukti bahwa pemikiran-pemikiran teologis aliran ini bersumber dari Abu Hanifah. Karena sebelum masuk ke dalam pembahasan-pembahasan fikih, Abu Hanifah pernah memiliki halaqah kajian teologi. Sejak awal ketika masalah-masalah teologi secara sederhana muncul di tengah-tengah Islam, pada waktu itu sudah terbentuk dua kelompok di tengah-tengah kaum muslimin.

1. Kelompok Ahlul Hadis yang dikenal dengan Hasywiah, Salafiah dan Hanabilah. Kelompok ini, seluruh keyakinannya disandarkan kepada makna-makna lahir dari ayat-ayat Qur’an dan sebagian besar dari keyakinan tersebut bersumber dari hadis. Mereka tidak menganggap akal sebagai sesuatu yang bernilai, dan jika di dalam kelompok ini ditemukan keyakinan-keyakinan seperti menyerupakan Tuhan dengan makhluk (tasybih) dan menganggap Tuhan adalah benda (tajsim), keterpaksaan atau determinisme (jabr), berkuasanya qadha dan qadar atas perilaku-perilaku bebas manusia, dan atau bersikeras atas keyakinan berkenaan dengan bahwa Tuhan dapat dilihat di hari kebangkitan, semuanya adalah akibat-akibat dari hadis-hadis yang tersebar di antara mereka, dan biasanya jejak tangan ulama-ulama Yahudi dan pendeta-pendeta Nasrani terlihat di dalam hadis-hadis tersebut. Mereka meyakini bahwa kalam Ilahi (Qur’an) adalah sesuatu yang sudah ada sebelum diciptakannya semesta ini (qadim). Seperti halnya kebanyakan orang Yahudi menganggap Taurat sebagai sesuatu yang ada tanpa didahului oleh sesuatu apapun (azali) dan begitu juga orang-orang Nasrani yang menganggap Al Masih azali, mereka juga menganggap Al Qur’an sebagai qadim dan azali.

2. Kelompok Mu’tazilah yang menganggap akal sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai, mereka menolak hadis dan riwayat yang bertentangan dengan hukum akal, dan sumber keyakinan-keyakinan mereka diambil dari teks-teks ayat Qur’an dan hadis Nabi Saw yang pasti dan juga dari hukum akal. Sesuatu yang perlu dikritisi dari mereka adalah sikap mereka yang memberikan penilaian terlalu tinggi terhadap akal melebihi kapasitasnya dan begitu banyak teks-teks Qur’an yang pasti yang ada di syariat suci Islam dikesampingkan, karena dianggap muatannya mengandung pemikiran yang bertentangan dengan akal.

Bertahun-tahun lamanya berlangsung peperangan pemikiran yang tiada hentinya di antara kedua kelompok ini, dan kemenangan salah satu kelompok atas kelompok yang lainnya bergantung kepada bantuan-bantuan para penguasa di masa lalu; penguasa-penguasa tersebut berpihak kepada salah satu kelompok dan berusaha melemahkan kelompok yang lain.

Pertarungan ini berlanjut dengan intensitas yang semakin tinggi sampai permulaan abad 300 Hijriah, akan tetapi pada permulaan abad keempat, dua orang yang berasal dari dua wilayah yang berbeda menunjukkan dirinya dan melahirkan sebuah aliran yang pada hakikatnya adalah sebuah aliran yang moderat dan tidak berpihak kepada dua aliran sebelumnya, baik itu Ahli Hadis ataupun Mu’tazilah. Salah satu dari dua orang ini adalah Abul Hasan Asy’ari (260-324 Hijriah) di Irak yang keluar dari aliran Mu’tazilah dan bertobat karena telah meyakininya, dan mengumumkan dirinya sebagai kawan dan pendukung Ahmad bin Hanbal, dan saat ini terdapat campur tangan dalam aliran Ahmad bin Hanbal dan secara perlahan aliran ini menjadi aliran resmi Ahlu Sunnah. Dan orang yang kedua adalah Abu Mansur Maturidi Samarqandi (250-333 Hijriah) di belahan timur dunia Islam, seorang pendukung aliran Ahli Hadis yang melakukan persis apa yang dilakukan oleh koleganya Asy’ari, dan yang luarbiasa adalah walaupun kedua orang pendiri ini hidup pada satu masa yang sama dan melangkah pada satu jalan yang sama, akan tetapi mereka tidak saling mengenal satu dengan lainnya.

Wilayah timur dunia Islam saat itu adalah pusat pembahasan masalah-masalah teologi, seperti juga halnya Basrah yang merupakan tempat lahirnya Asy’ari adalah titik pertemuan pandangan-pandangan keyakinan yang berbeda-beda, dan begitu juga pemikiran-pemikiran asing yang masuk ke dalam Islam dari Negara-negara yang berbeda pada saat kemenangan-kemenangan yang diraih Islam sebagai pemikiran-pemikiran impor yang berpindah ke dunia Islam.

Dari sisi fikih, aliran Hanafi menyebar di daerah Khurasan secara sempurna, pada saat yang sama kebanyakan penduduk Basrah bermazhab Syafi’i, dari sudut pandang ini para pengikut mazhab Hanafi memiliki kecenderungan yang tinggi kepada aliran Maturidiyah, sedangkan para pengikut mazhab Syafi’i lebih dari yang lainnya memilih aliran Asy’ari. Sebagian dari pemikiran aliran Maturidiyah diperoleh dari Abu Hanifah dan terpengaruh oleh bukunya yang berjudul Fiqhul Akbar yang membahas permasalahan keyakinan. Oleh karena itu kebanyakan pengikut aliran Maturidiyah hidup di Khurasan dan dalam masalah fikih mereka adalah pengikut mazhab Hanafi, seperti:

1. Fakhrul Islam Muhammad bin Abdul Karim Bazwadi (493 Hijriah).

2. Abu Hafs Umar bin Muhammad Nasafi (573 Hijriah).

3. Sa’adudin Taftazani (791 Hijriah).



1 2 3 4 5 6 7 next