Pandangan umum tentang keyakinan Ismailiyah



Ismailiyah berkeyakinan bahwa Dzat Allah Swt lebih tinggi dari khayalan (wahm), akal dan pikiran. Allah Swt lebih tinggi dari batasan sifat, tidak ada satu sifat pun, keyakinan dan definisi baik itu berupa negasi atau penegasan yang bisa dikatakan untuk Tuhan(1). Sang Pencipta bukanlah sesuatu dan bukan juga bukan sesuatu, Dia tidak terbatas dan juga tidak tak terbatas, dan Dia juga tidak disifati sekaligus tidak tak disifati, Dia tidak berada di satu tempat, juga tidak tak berada di suatu tempat.

Oleh karena itu, pensucian (tanzih) dalam masalah terpancarnya (emanasi) sesuatu yang beragam (katsir) dari Allah Swt, dan untuk mencegah terjadinya masalah terpancarnya keragaman (katsir) dari keesaan (wahid), mereka berkeyakinan bahwa dari amr Allah Swt (perintah Allah Swt) dengan menggunakan kata ibda’ (penciptaan dari ketiadaan), terciptalah Akal Kul (akal universal) atau akal pertama, kemudian nafse kuli (jiwa universal), dari kata amr, terwujud dengan perantara akal pertama tadi, dari nafse kuli dengan penegasan dari akal universal, tabiat dan sifat-sifat (tabaye’), dan dari tabaye’ ke ummahat (kualitas-kualitas utama, major categories), dan dari ummahat ke fi’il ijrom-e samawi (perantara tubuh-tubuh samawi), penciptaan keberadaan semesta dapat diterima. Terpancarnya akal universal dari kata amr dengan jalan ibda’ dan terpancarnya keberadaan-keberadaan spiritual dan jasmani lain yang terwujud melalui perantara akal dan jiwa universal berdasarkan amr Allah Swt adalah dengan jalan ibda’ dan inbi’ats (kebangkitan). Perbedaan antara ibda’ dan inbi’ats yaitu, inbi’ats adalah sesuatu yang tidak dilingkupi ruang dan waktu, akan tetapi dia ada disebabkan oleh sesuatu yang lain, sementara ibda’ juga adalah sesuatu yang tidak dilingkupi ruang dan waktu, dan keberadaannya tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain(2).

Para pengikut aliran Ismailiyah mengatakan: Kita jangan mengatakan Tuhan itu ada atau tidak ada, berilmu atau bodoh, kuat atau lemah; karena menetapkan sebuah hakikat meniscayakan adanya partisipasi antara Dia dan keberadaan-keberadaan yang lain, ini adalah partisipasi dan penyerupaan (tasybih). Mereka mengatakan: Tuhan tidak qadim (tidak pernah tidak ada) dan juga tidak muhdats, akan tetapi yang qadim adalah amr (perintah)-Nya dan perkataan-Nya dan Muhdats (pernah tidak ada) adalah makhluk dan ciptaan-Nya(3).

Para ulama Ismailiyah mengkritik keras sebagian pendapat para filosof yang meyakini al-qudama al-khamsah (lima sesuatu yang tidak pernah tidak ada), yaitu ke-qadim-an lima unsur utama: Tuhan, jiwa, substansi atau hakikat, ruang dan waktu. Mereka membuktikan bahwa empat yang terakhir tidak bisa tidak pernah tidak ada (qadim); karena ketika seperti itu, maka jumlah unsur utama ini akan menjadi tidak terbatas dan selain itu, jika pendapat tentang lima unsur utama itu benar, maka di antara kelima unsur tersebut, mana yang menjadi sebab terciptanya alam semesta ini?(4)

Menurut keyakinan Ismailiyah, manifestasi akal universal di alam ini adalah keberadaan orang yang berakal (natiq) dan orang-orang yang berakal tersebut adalah para nabi ulul azmi yang berjumlah tujuh orang, yaitu: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan Ismail bin Ja’far(5). Setiap yang berakal (nabi) memiliki wasi dan pengganti yang selama masa hidup nabi, dia berada di kota ilmunya. Sepeninggal setiap orang-orang berakal (nabi-nabi), kemudian akan ada tujuh Imam yang akan melanjutkan tugas mereka. Masa setiap nabi adalah seribu tahun, dan setelah masanya selesai, maka akan muncul nabi yang lain yang akan menasakh (menghapus) syariatnya. Orang yang berakal atau nabi pertama adalah Nabi Adam as dan wasinya adalah Syish. Nabi kedua adalah Nuh as dan wasinya adalah Sam. Nabi ketiga adalah Ibrahim as dan wasinya adalah Ismail as. Nabi keempat adalah Musa as dan wasinya adalah Harun as (Yusya’). Nabi kelima adalah Isa as dan wasinya adalah Syam’un As Shafa (Petrus). Nabi keenam adalah Muhammad Saw dan wasinya adalah Ali as. Orang yang berakal ketujuh adalah Ismail. Karena Nabi Saw menjadikan Ali as sebagai wasi dan setelahnya adalah Hasan as dan Husain as, Zainal Abidin as, Muhammad Baqir as dan Ja’far Shadiq as dan yang ketujuh adalah Ismail ia adalah imam yang bangkit (qa’im), dan mereka menganggap para imam setelahnya adalah para imam di masa kebangkitan atau qiyam. Natiq adalah yang menetapkan syariat baru serta menghapus (nasakh) syariat lama dan pondasi atau wasi adalah alim atau orang yang memiliki ilmu untuk menjelaskan syariat, dan kewajibannya adalah menjelaskan rahasia-rahasia dan batin dari syariat.

Para ulama Ismailiyah mengkritik keras pendapat para filosof yang yakin akan al-qudama al-khamsah atau lima asli yaitu: Tuhan, nafs, hayula, waktu dan tempat, dan mereka mengatakan: waktu tidak bisa qadim. Waktu adalah kuantitas gerak aflak (alam semesta) dan diukur dengan terbit dan tenggelamnya matahari, oleh karena itu waktu bisa dihitung dan berakhir dan tidak bisa qadim, dan demikian pula tempat dia tidak bisa qadim. Karena kalau tempat pun qadim, maka enam arah dan muhit atas tempat haruslah qadim juga, karena tempat tidak bisa kosong dari enam arah. Maka bilangan qudama akan menjadi tidak terhingga. Apabila pendapat al-qudama al-khamsah itu benar, maka mana di antara mereka yang menjadi ilat (sebab) dari huduts(non-eternity) alam ini?(7)

Para penganut Ismaili menta’wilkan ayat al-Qur’an dan hadis serta hukum-hukum syar’i seperti para ahli sufi, dimana mereka tidak mengetahui secara benar zahirnya tetapi cenderung pada batinnya. Kebanyakan argumentasi mereka bersandar pada makna-makna huruf al-Qur’an, hadis dan prinsip (rahasia) mereka. Dikatakan, karena tersembunyinya makna-makna yang tidak semua orang bisa memahaminya, maka manusia butuh pada seorang imam yang akan menjelaskan makna-makna tersebut.

Dikatakan, bahwasannya masyarakat karena berdasarkan kualitas pengetahuan mereka akan makna batin, maka terbagi menjadi beberapa derajat dan atas dasar ini para pengikut Ismailiyah menganggap diri mereka sebagai ahli tarbiat. Tujuh derajat adalah sebagai berikut: 1. Mustajib, 2. Madzun, 3. Da’i, 4. Hujah, 5. Imam, 6. Asas, 7. Natiq.

Seseorang yang baru percaya pada keyakinan mereka (Ismailiyah) disebut dengan Mustajib. Dan seseorang yang teguh dan kokoh di jalan mereka serta mendapatkan izin untuk berbicara disebut dengan madzun. Yang sudah sampai pada derajat dakwah, maka disebut dengan da’i; dan yang sudah sampai pada derajat para pemimpin da’i, maka disebut dengan hujah, yakni perkataannya adalah hujah Tuhan untuk masyarakat. Dan apabila sudah mendapatkan derajat wilayah dan tidak membutuhkan lagi pada ilmu, maka disebut dengan imam. Setelah derajat imam, maka akan sampai pada derajat wasi atau asas, dan terakhir akan sampai pada derajat natiq(8).

Madzun dan da’i memiliki 2 derajat, yaitu; mahdud (terbatas) dan mutlak (tidak terbatas). Kadangkala mereka meyakini antara derajat hujah dan imam ada derajat lain yaitu derajat bab (pintu). Dan kadangkala derajat da’i pun dibaginya pada tiga derajat yaitu da’i balagh, da’i mutlak dan da’i mahdud.



1 2 next