Khwajah Nashiruddin Thusi dan Pengikut Mazhab Ismailiyah (3)



Khwajah dan Pemikiran Mazhab Ismailiyah

Hal ini tak perlu diragukan bahwa Khwajah Nashiruddin Thusi adalah pemeluk mazhab imamiyah saat runtuhnya kekuasaan ismailiyah nazari hingga akhir usianya. Sepanjang priode itu beliau telah menulis sejumlah kitab yang kental dengan warna ajaran mazhab ini. Tetapi, pada sebagian kitab-kitab tersebut terdapat beberapa hal yang menarik perhatian yangmana sampai pada batas tertentu menunjukan keterpengaruhan beliau oleh pemikiran dan akidah ismailiyah. Atau paling tidak dapat dikatakan beliau mengalami semacam karaguan dan karancuan. Di bawah ini disebutkan sebagian contoh-contohnya.

1. Raj’ah.

Raj’ah merupakan salah satu pokok ajaran mazhab syiah. Para ulama dan teolog syiah sebelum dan setelah masa Khwajah Thusi selalu membahasnya(44), bahkan meninggalkan banyak tulisan seputar pokok bahasan ini.(45) Tetapi, meskipun demikian, Khwajah Thusi tidak menyebutkannya dalam kitab-kitabnya. Kemungkinan muncul dugaan ini ada bahwa tidak adanya pembahasan seputar persoalan raj’ah ini karena beliau tidak meyakininya. Lebih lagi, bila kita memerhatikan persoalan-persoalan akidah yang dibawakan dalam kitab Tajrid al-Itiqad, hampir semua pokok pembahasan dalam akidah syiah imamiyah ada, hingga tema “kemashahatan” (ashlah), “penggantian” (awadh), “rezeki”, namun, beliau tidak menyinggung masalah raj’ah sama sekali. Hal ini jelas memunculkan pertanyaan dalam pikiran kita.

2. Bada’

Masalah bada’ sejak dulu telah menjadi tema penting yang selalu dibahas oleh para teolog dan ulama hadits syaih imamiyah. Khwajah Thusi pun pernah membahasnya. Tetapi, karena beliau melihat hanya ada sebuah riwayat dan termasuk kategori khabar wahid sebagai dalil atasnya, akhirnya beliau mengenyampingkan masalah ini. Dalam komentarnya tentang kisah bada’ dan taqiyah yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Jarir Zaidi melalui fakhrurazi, beliau mengatakan:

“Imamiyah menolak bada’. Karena, masalah ini hanya didukung oleh sebuah riwayat yang dinukil dari imam Ja’far Shadiq as. Dalam hadits ini dijelaskan bahwa imam Ja’far Shadiq as. menetapkan putra beliau, Ismail. sebagai calon penggganti beliau as. Tetapi, ia justru wafat selagi imam Ja’far Shadiq as. masih hidup. Imam Ja’far Shadiq as. ditanya tentang kejadian itu. Dalam jawabannya beliau bersabda: “Allah telah menetapkan bada’ bagi Ismail.” Jadi, masalah bada’ ini karena hanya didukung oleh sebuah riwayat dan itupun adalah khabar wahid, maka tidak dapat menghasilkan keyakinan dan membuahi amal perbuatan.”(46)

Dari sini diketahui kalau Syekh Thusi menolak prinsip bada’. Padahal, jelas-jelas para teolog syiah imamiyah membenarkanya. Bahkan, Mir Damad pernah menyatakan bahwa masalah bada’ ini diriwayatkan secara mutawatir.(47)

3. Ta’lim (Belajar)

Pokok bahasan lainnya yang dikaji oleh Khwajah Thusi adalah masalah ta’lim. Tetapi, dalam penjelasannya seputar pokok bahasan ini ditemukan beberapa hal yang ganjil dan kontradiktif.



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 next