Khwajah Nashiruddin Thusi dan Pengikut Mazhab Ismailiyah (1)



Khwajah Nashiruddin Thusi terkenal sebagai seorang filosof, teolog, dan ulama abad ketujuh. Kajian secara serius dan mendalam seputar kehidupannya selalu dilakukan dan menghasilkan banyak kitab. Akan tetapi, semua itu masih menyisakan sisi-sisi yang belum terungkap dari kehidupannya. Diantaranya, tentang mazhab yang dianut beliau. Persoalan ini muncul karena melihat beliau pernah menjalani kehidupannya bersama para pengikut mazhab Ismailiyah selama kurang-lebih 30 tahun dan kitab-kitab yang notabene adalah karyanya namun menunjukan kecenderungannya pada pemikiran mazhab Bathiniyah (salah satu aliran dalam mazhab Ismailiyah). Dengan kata lain, dari sana muncul pertanyaan apakah beliau sepanjang menjalani kehidupannya bersama para pengikut mazhab Ismailiyah, masih meyakini mazhab sebelumnya (Syiah Imamiyah) ataukah telah menjadi bagian dari pengikut mazhab Ismailiyah?

Meskipun, telah banyak buku dan makalah ditulis seputar pribadi Khwajah Nashiruddin Thusi, tetapi, penelitian yang mendalam pada masalah ini masih penting dan harus dilakukan. Dan sejauh kapasitas yang dimiliki makalah ini akan memaparkan dari pelbagai sisi sejumlah pendapat dan teori seputar kehidupan pribadi besar ini. Misalnya, tentang alasan kebersamaan beliau dengan para pengikut mazhab Ismailiyah, mazhab yang dipeluknya selama menjalani kehidupannya bersama para pemeluk aliran Bathiniyah, kitab-kitab dan sejumlah makalah yang ditulisnya berdasarkan pandangan mazhab Ta’limiyah, dan yang terpenting dari semua itu ialah tentang pengaruh pemikiran Ismailiyah pada dirinya dan tulisan-tulisannya di masa-masa berikutnya.

Kehidupan Khwajah

Beliau bernama Abu Ja’far bin Muhammad bin Hasan Thusi adalah seorang fakih, peneliti, ahli falak, ahli matematika, teolog, dan filosof. Beliau dilahirkan pada tahun 597 H.Q. di tengah-tengah keluarga pencinta ilmu di kota Thus. Sebenarnya, kedua orang tua beliau berasal dari Jahrud, sebuah desa di kota Saveh.

Pendidikan beliau pada tingkat ibtidai dalam ilmu fikih, ushul fikih, dan hikmah dilaluinya dengan bimbingan sang ayah, Muhammad bin Hasan, di kota Thus. Setelah itu, beliau menjalani tingkat lanjutan dalam teologi dan filsafat, khususnya kajian kitab Isyarat karya Ibnu Sina, dengan bimbingan Fariduddin Damad. Dan mempelajari matematika dari Kamaluddin Muhammad Hasib.

Kemudian beliau pergi ke kota Bagdad. Di sini beliau mempelajari ilmu kedokteran dan filsafat dari Quthbuddin, matematikan tingkat akhir dari Kamaluddin Yunus, dan fikih dan ushul fikih tingkat akhir dari Mu’inuddin Salim bin Badran Misri. Alhasil, dengan masa yang singkat beliau berhasi menjadi salah seorang ulama terkenal pada abad ketujuh. Dan pada tanggal 18 Dzulhijjah 672 H.Q., beliau wafat dan dimakamkan di samping makam suci Imam Musa bin Ja’far al-Kazhim as., di kota Bagdad.(1)

Mazhab Beliau Sebelum Hidup Bersama Kaum Ismailiyah

Banyak sejarahwan dan ilmuwan meyakini bahwa Khwajah Nashiruddin Thusi sejak awal bermazhab Syiah Imamiyah.(2) Namun, sejumlah orintalis berpendapat bahwa beliau lahir dan dewasa di tengah-tengah keluarga yang bermazhab Ismailiyah.

Vladimir Ivanov (1886-1970),(3) dalam dua makalah yang berbeda; yang satu berjudul, “Yek Atsar Ismaili be Qalam e Nashiruddin Thusi”, dan lainnya berjudul “Raudhatul Muslim”, menyatakan bahwa Khwajah Nashiruddin Thusi lahir dari keluarga Ismailiyah.(4) Bagaimanapun, Ivanov menerima teori yang menyatakan bahwa dikarenakan madrasah-madrasah yang notabene bermazhab Imamiyah Itsna ‘Asyariyah mendominasi dunia pendidikan keagamaan, hingga Khwajah Nashiruddin Thusi pun terdorong untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pendidikan di dalamnya. Pada awalnya beliau berpura-pura sebagai pemeluk mazhab Syiah Imamiyah, lalu setelah beberapa kemudian beliau benar-benar memeluk mazhab ini. Tetapi, beliau khawatir atas intimadasi dari para pengikut Ismailiyah hingga memaksanya untuk merahasiakan keyakinan barunya itu. Dari sisi batin, beliau seorang syiah imamiyah, tetapi dari sisi lahir beliau berbuat seperti halnya pemeluk mazhab Ismailiyah.(5)

Mustafa Ghalib juga menyatakan bahwa Khwajah Nashiruddin Thusi dilahirkan di kota Thus pada tahun 597H.Q. Di masa itu madrasah-madrasah Ismailiyah sangat banyak, dimana beliau aktif menimba ilmu-ilmu keagamaan dan filsafat sampai hari wafatnya.(6)



1 2 3 4 5 6 next