Ilmu Agama



"Ilmu dan para ilmuwan pada setiap lembaga-lembaga akademik dan pusat-pusat pendidikan adalah mengikut identitas budaya lembaga-lembaga akademik dan pusat-pusat pendidikan tersebut. Pada dasarnya yayasan-yayasan pendidikan dan penelitian yang ada merancang dan merealisasikan program kerjanya sesuai dengan budaya dan ideologinya, karena itu gambaran bahwa dengan sistem pendidikan model Barat mampu menghasilkan tujuan secara Islami," Klaim yang disampaikan di atas merupakan sebuah klaim yang mengecoh lantaran sistem tersebut disusun dan diprogram dengan arah dan dimensi sekuler dan tentu saja konklusinya bertentangan dan berseberangan dengan arah dan dimensi Islami.

Klaim penulis di atas tidak hanya berlaku pada lapisan masyarakat umum, akan tetapi para pakar ilmu-ilmu empiris juga dalam bidang disiplin dan spesialisasinya mempunyai asa terhadap agama serta dalam merealisasikan pengembangan ilmu butuh terhadap doktrin-doktrin agama. Jika mereka tidak tumbuh dalam ruang lingkup metafisika agama, maka mereka akan terbelenggu dengan metafisika sekuler.

Masalah ilmu agama, bukanlah suatu kategori wacana yang hanya dipaparkan di dunia Islam; di dunia Masehi (Kristen) juga pada dua dekade terakhir, masalah ini menguat dan bahkan telah dilaksanakan konferensi-konferensi khusus yang membahas tentangnya. Seperti dalam konferensi ilmiah yang berjudul "Science in theistic content" yang dilaksanakan pada musim panas bulan September 1998 di Kanada.[1]

Ilmu modern pada masa berkembangnya Positivisme dan renasains sekuler, menapakkan kakinya di bumi dan tanah air Islami, suatu ilmu yang terpisah dari metafisika ketuhanan dan mengambil jarak dari agama serta menggandeng pemikiran non-agamis dan bahkan terkadang pemikiran anti agama. Dengan dasar ini berkembanglah ide tentang adanya pertentangan antara ilmu dan agama.

Hingga sekarang apakah kita sudah bertanya kepada diri, mengapa ilmu dan filsafat yang telah berkembang di dunia Islam berabad-abad, pada beberapa abad terakhir mengalami kemunduran dan kemerosotan? Bukankah kepemimpinan ilmu dan sains dunia berada di tangan kaum muslimin selama 6 abad? (350 tahun kepemimpinan mutlak dan 250 tahun kepemimpinan bersama kaum Masehi).

Apakah masyarakat Islam tidak melahirkan cendekiawan, ahli matematik, ahli kedokteran, ahli kimia, ahli geologi besar, seperti: Jabir bin Hayan, Râzi, Khârazmi, Mas’udi, Khayyam, Ibnu Sina, At-Tusi, Ibnu Rusyd dan Ibnu Thufail?[2] Herman Randal tentang hal ini berkata: “ Kaum Muslimin pada abad pertengahan menguasai bidang pemikiran ilmiah dan kehidupan industri, dimana pada masa sekarang hal tersebut kita nisbahkan pada masyarakat Jerman.

Kaum muslimin berbeda dengan bangsa Yunani, mereka tidak jemu melakukan observasi dan penelitian dengan sabar serta penuh semangat dan pada cabang kodokteran serta mekanik dan pada hakikatnya dalam seluruh bidang keahlian, menurut tinjauan berkenaan hukum naturalnya, mereka mengarahkan ilmu-ilmu berkhidmat langsung pada kehidupan masyarakat; mereka tidak memandang ilmu hanya sebagai tujuan bagi dirinya (tanpa berhubungan dengan kehidupan)”.[3]

Jadi sekarang mengapa kita mengalami kemunduran?

Sebagian memandang sebab kemunduran adalah pengambilan jarak dari dunia Barat dan satu-satunya jalan penyelesaian mengikuti secara keseluruhan keyakinan-keyakinan bangsa Barat; sebagian memperkenalkan sumber kemunduran dan kemerosotan peradaban tinggi Islam karena ketiadaan keberanian dalam pemikiran dan sebagian berpandangan ketiadaan pemahaman yang benar terhadap doktrin-doktrin agama serta sebagian lainnya berpegang pada akibat penjajahan eksternal dan internal; dan tidak diragukan bahwa seluruh faktor-faktor yang disebutkan di atas merupakan penyebab kemunculan kenyataan ini. Akan tetapi jangan dilupakan peran menyusupnya ilmu sekuler dalam masyarakat Islam dan pengaruhnya terhadap kelanjutan kemunduran kaum muslimin; sebab sebagaimana dalam pembahasan mendatang akan kita buktikan bahwa kita tidak mempunyai ilmu yang kosong dari paradigma, pra-asumsi epistemologi, ontologi, metafisika dan ideologi; Oleh karena itu terkadang proses dan pengembangan ilmu menjadi matang dalam ruang lingkup agama dan metafisika yang meyakini Tuhan dan terkadang matang dalam ruang lingkup pra-asumsi selain agama dan bahkan ruang lingkup yang bertentangan dengan agama.

Menurut pandangan kami, krisis identitas dan dikotomi antara mental dan ruh para peneliti kaum muslimin serta kelompok masyarakat, harus dikembalikan pada faktor-faktor penting ini, sebab suatu masyarakat yang dari segi budaya dan sosial, adalah Islami, ketika mengenal pemikiran-pemikiran sekuler dalam masa studi universitas, terpaksa menemukan krisis identitas dan dikotomi kepribadian.

Untuk menjelaskan lebih dalam esensi ilmu agama, harus dipaparkan terlebih dahulu secara global tema-tema sentral seperti; definisi ilmu, defenisi agama, metafisika, bentuk hubungan antara ilmu dan agama, definisi ilmu agama, motivasi dan pentingnya pemaparan ilmu agama dan beberapa bentuk pengaruh agama pada ilmu.

Apakah Ilmu itu ?

Kata ilmu, adalah musytarak lafzhi (equivocal) dan diaplikasikan dalam makna yang beragam:

- Penggunaan kata ilmu sebagai lawan kebodohan yang dimutlakkan pada semua pengetahuan yang mencakup konsepsi (gambaran) dan tasdik, ilmu hushuli dan ilmu hudhuri, ilmu akal, indrawi, syuhudi dan naqli, serta dalam bentuk satu proposisi hingga dalam bentuk satu disiplin keilmuan.

- Ilmu yang mempunyai makna kepastian dan keyakinan serta hal-hal yang berhubungan dengannya yang menjadi keyakinan manusia; yang mencakup proposisi bersifat yakin, benar dan sesuai dengan kenyataan atau salah dan tidak sesuai dengan kenyataan. Ilmu pada makna ini lawan dari keraguan, persangkaan dan kemungkinan.

- Ilmu dengan makna suatu sistem dari proposisi-proposisi hushuli dimana makrifat yang dihasilkan, diperoleh dengan jalan berbagai metode, seperti: ilmu-ilmu eksprimen, filsafat, sejarah, irfan, sastra dan lain-lain.

- Ilmu dengan makna suatu sistem dari proposisi-proposisi hushuli –non-hudhuri- yang diperoleh dengan metode penginderaan dan eksprimen, serta sudah digolong-golongkan dalam bentuk suatu disiplin ilmu; seperti ilmu-ilmu eksprimen, tabi'i dan humaniora. Dalam pemutlakan ini, ilmu fiqhi, ushul fiqhi, teologi, filsafat, irfan, ilmu-ilmu sastera dan sejarah, tidak dihitung sebagai ilmu.

Ilmu-ilmu eksperimen dibagi menurut dimensi tinjauan yang berbeda-beda. Menurut tinjauan subyek dan yang berhubungan dengannya, ilmu eksperimen terpilah menjadi ilmu humaniora dan ilmu tabi'i (ilmu alam). Ilmu-ilmu yang penelitian dan obsevasinya berhubungan dengan perilaku-perilaku individu dan masyarakat, berkehendak dan tidak berkehendak, didasari pengetahuan manusia dan tidak didasari pengetahuan, disebut dengan ilmu-ilmu eksperimen insani (humaniora). Kelompok ilmu-ilmu ini yang meliputi psikologi, sosiologi, ilmu politik, pedagogi, ekonomi dan manajemen, mendapatkan kekhususan eksperimen dan sistimatika eksprimen; akan tetapi perlu disebutkan bahwa ilmu-ilmu insani juga menerima pengkajian dengan cara dan metode lain, di antaranya: metode rasional, syuhudi dan naqli.

Metode serta cara ini membentuk ilmu-ilmu insani filsafat, irfan dan agama. Adapun ilmu-ilmu yang penelitiannya berhubungan dengan prilaku dan fenomena bukan manusia dan dalam domain menerima kuantitas serta berada dalam sistematika eksperimen, ilmu-ilmu itu dinamakan ilmu-ilmu eksperimen tabi'i; seperti fisika, kimia, biologi dan sebagainya.

Maksud kata ilmu, dalam kategori ilmu agama, adalah pemutlakan yang keempat dari ilmu; apakah ia itu dalam bentuk perolehan ilmu yang kongkrit ataukah proses penelitian ilmu ataukah tujuan-tujuan ilmu serta perilaku-perilaku para ilmuan yang menjadi fokus perhatian.

Ilmu-ilmu eksperimen juga mempunyai pembagian lain, yaitu ilmu-ilmu murni dan ilmu-ilmu aplikatif. Ilmu-ilmu murni bertujuan menyingkap keteraturan yang terdapat dalam alam materi dan membuka rahasia-rahasianya; sedangkan ilmu-ilmu aplikatif bertujuan menguasai alam materi dan mengabdikan unsur-unsur alam.

Apakah Agama itu ?

Maksud kami agama dalam wacana ini adalah proposisi-proposisi yang ada dalam teks-teks agama dan doktrin-doktrin agama yang bentuknya pengajaran secara deskriptif dan normatif, dan motif-motif agama dari penganut-penganut agama serta demikian juga pemahaman dan makrifat agama, yakni pendapat yang memiliki landasan dan metodelogik dari para ahli agama (ulama) yang dinisbahkan kepada tek-teks agama, dan juga pembenaran-pembenaran akal yang dinisbahkan pada realitas-realitas keagamaan yang termanifestasi dalam bentuk pribadi dan individual serta keseluruhan dan umum.

Apakah Metafisika itu ?

Metafisik adalah pengetahuan yang berhubungan dengan seluruh eksistensi dan seluruh alam-alam; serta suatu sistem yang terbentuk dari laporan-laporan yang dijelaskan dan diterangkan melalui metode akal. Terkadang metafisik dalam istilah lain bermakna seluruh proposisi-proposisi rasional dan deskriptif yang tidak didapatkan melalui jalan eksperimen; seperti prinsip simplisitas natural yang mana Newton sendiri mengakui hal ini dan menjelaskannya pada pembahasan pengetahuan terhadap tabiat (natural).

Hubungan antara Ilmu dan Agama

Hubungan antara ilmu dan agama adalah pandangan yang telah lama dikemukakan oleh para ulama, filosof dan teolog. Masalah ini telah diungkapkan dari sudut pandang yang berbeda-beda dalam teologi dan filsafat ilmu-ilmu sosial dan filsafat ilmu. Secara general dapat diisyaratkan berbagai hubungan antara ilmu dan agama, antara lain:

- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara pra asumsi-pra asumsi ilmu dan pra asumsi-pra asumsi agama.

- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara makrifat ilmu dan makrifat agama.

- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara proposisi-proposisi ilmu dan proposisi-proposisi agama.

- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara substansi ilmu dan substansi agama.

- Hubungan saling membantu atau bertentangan antara bahasa ilmu dan bahasa agama.

- Pengaruh ilmu terhadap makrifat agama.

- Pengaruh agama dan makrifat agama terhadap teori-teori, tujuan dan metode-metode ilmu.

Apakah Ilmu Agama itu?

Apakah ilmu dan agama dapat bercampur satu sama lain dan keduanya dapat terhidang dalam sebuah hidangan yang dapat diserap secara bersama, dan dalam suatu bentuk dimana keduanya saling berkait satu sama lain dan mendatangkan suatu fenomena yang utuh serta satu sintesa yang sama, dan pada saat yang sama tidak terperangkap singkritisime dan kita tidak kehilangan kemandirian esensialitas ilmu dan agama ? Untuk menjawab masalah ini, sebelumnya diisyaratkan definisi yang beragam tentang ilmu agama dan mengungkapkan pandangan yang menjadi pilihan:

1. Ilmu yang disusun dengan tujuan menerangkan dan menafsirkan kitab serta sunnah, seperti: Ushul Fiqhi, Ulum al-Qur’an, tata bahasa Arab, Logika, Filsafat, Hermeneutik dan lain-lain;

2. Ilmu yang diperoleh dari hasil penafsiran dan penjelasan kitab dan sunnah, dengan kata lain proposisi-proposisi deskriptif yang ada dalam naskah agama yang memberitakan atas alam nyata dan membentuk sistem makrifat seperti: pengetahuan al-Qur’an, pengetahuan sunnah, tafsir al-Qur'an hadis, Fiqih, Teologi dan sebagainya;

3. Ilmu yang mekar dan berkembang dalam atmosfir budaya, peradaban dan masyarakat Islam, seperti: kedokteran, mate-matika, astronomi dan ilmu-ilmu Islam lainnya;

4. Ilmu yang diperoleh dari hasil penyingkapan mukjizat ilmiah al-Qur’an dan Sunnah, dan sesuai dengan kandungan hipotesa-hipotesa ilmu eksprimen;

5. Proposisi-proposisi agama yang menerangkan dasar-dasar metafisika ilmu dan dipandang sebagai landasan penelitian-penelitian eksperimen.

6. Setiap pengetahuan yang diperoleh melalui metode eksperimen, akal dan agama;[4] dalam mempersiapkan suatu pengetahuan gabungan dari metode-metode makrifat yang beragam, mungkin tidak akan dapat sampai pada satu titik yang sama; sebab dalam kedudukan observasi konklusi dari aktivitas-aktivitas, harus menggunakan satu metode penelitian; oleh karena itu mungkin saja metode singkritis akal, eksperimen dan agama dalam kedudukan penemuan adalah berpengaruh; akan tetapi dalam kedudukan penilaian, satu-satunya kondisi yang menerima makna, adalah kita menerima defenisi yang paling akhir dari ilmu agama dan itu bermakna bahwa keyakinan-keyakinan dan prilaku-prilaku keagamaan dan bukan keagamaan juga mempunyai pengaruh dalam pemilihan teori dan penilaian.

7. Setiap bentuk ilmu yang bermanfaat dan diperlukan bagi masyarakat Islam; Ustad Muthahari dalam hal ini berkata: "kesempurnaan dan khatamiyyah (sebagai agama penutup dan terakhir) Islam meniscayakan bahwa setiap ilmu yang berguna dan bermanfaat untuk masyarakat Islam, yang perlu dan niscaya, harus kita pandang sebagai ilmu agama".[5]

8. Menjadikan agama sebagai hakim terakhir; yakni para ilmuan ilmu eksperimen, menyerahkan hasil pekerjaan mereka kepada penilaian (keputusan) agama dan dalam bentuk tidak terdapat pertentangan dengan proposisi-proposisi agama, maka hasil itu diterima.

9. Agama tidak hanya memberikan dorongan kemajuan ilmu, akan tetapi juga mempersiapkan garis-garis universal dan kaidah-kaidah umum ilmu dan sains serta memberikan landasan yang menyeluruh pada ilmu eksperimen, teknologi industri, sistem keamanan dan lain-lain. Sebagaimana ilmu ushul fiqih menggunakan kaidah-kaidah akal dan rasional dalam sebagian nash-nash agama sebagai kunci memahami teks-teks fiqih maka juga adalah mesti dengan media dan wasilah yang sama sebagian dari nash-nash agama yang berkenaan pengenalan terhadap alam dan manusia juga dibahas dan diteliti. Dengan demikian alat dan wasilah untuk melakukan penelitian pada tingkat kemujtahidan ilmu-ilmu lain selain ilmu fiqih, di samping dengan sebagian nash-nash juga menggunakan kaidah-kaidah akal dan rasio, sehingga dapat dipersiapkan medan yang luas dalam ilmu-ilmu tersebut (ilmu tabii dan humaniora) dengan kedalaman penelitian lewat sejumlah nash-nash yang berhubungan dengannya.

10. Seluruh ilmu-ilmu eksperimen mendapat bentuk dari jalan proposisi-proposisi, keyakinan-keyakinan dan prilaku-prilaku keagamaan serta mendapat pengaruh dalam metode, tujuan, motivasi ilmu, pembuatan teori, dan pengarahan ilmu; sebab pengajaran-pengajaran agama dan metafisika non agama senantiasa melekat dan mempengaruhi proses penelitian dan observasi ilmu serta persiapan penelitian ilmu-ilmu eksperimen.

Urgensi Pemaparan Masalah Ilmu Agama

Menguraikan kategori ilmu agama dari dimensi yang beragam merupakan suatu hal yang mesti. Salah satu dari cara kerja masalah bersangkutan adalah hubungan serta pertentangan ilmu dan agama, yang masuk sebagai kategori ilmu agama. Yakni masalah hubungan ilmu dan agama, dapat dipaparkan dengan dua pra asumsi kenyataan, ilmu dan kognisi proposisi-proposisi agama serta penerimaan subyek-subyek yang sama antara ilmu dan agama. Di samping itu dapat juga di konsepsi kondisi saling berhubungan antara statmen-statmen perintah dan normatif agama yang menjelaskan tujuan-tujuan manusia dengan pengajaran-pengajaran ilmu.

Dalam masalah ini, orang-orang seperti Galileo mengungkapkan pemisahan antara ruang lingkup ilmu dengan ruang lingkup agama dan juga Kant mengeluarkan masalah-masalah matafisika dari keterbatasan akal teoritis dan membatasi akal teoritis pada wilayah permasalahan-permasalahan ilmu dan fenomena-fenomena zaman dan tempat.[6] Karl Bart, Paderi Masehi Protestan juga mempunyai pandangan bahwa subyek ilmu dan filsafat ketuhanan adalah memanifestasinya Tuhan pada Isa al-Masih, sedangkan subyek ilmu adalah alam tabiat. Ia dengan membedakan subyek keduanya sampai juga pada pembedaan metode di antara keduanya.[7]

Sekelompok orang juga menawarkan pemisahan dalam wilayah tugas dan fungsi ilmu dan agama; dengan makna bahwa tugas ilmu sebagai media hipotesa, estimasi, dan kontrol; bukan penjelas; dan agama hanya sebagai pengatur dan penertib kehidupan individu dan masyarakat; bukan penjelas perkara-perkara realitas.[8] Sebagian lagi menjelaskan pemisahan tujuan ilmu dan agama. Tujuan agama adalah memberi hidayah dan memberi kebahagiaan pada manusia, sedangkan tujuan ilmu adalah menerangkan hakikat-hakikat alam natural. Kelompok lainnya, mengungkapkan pemisahan bahasa agama dan bahasa ilmu serta bermaknanya proposisi-proposisi ilmu dan agama, atau pandangan tidak bermaknanya proposisi-proposisi agama lewat kaum positivisme, atau pemisahan fungsionalisme bahasa ilmu dan agama dari filosof analitik bahasa.

Metode lain yang telah diuraikan dalam hubungannya dengan pertentangan ilmu dan agama, adalah kategori ilmu agama; dengan makna bahwa hanya ilmu agama yang dapat memecahkan kandungan ketidaksesuaian asumsi dan postulat agama dengan ilmu-ilmu eksperimen; sebab dengan pengaruh metafisika agama, ruh, dan motif agama para ulama agama atas proses, teori dan tujuan ilmu, tidak diperoleh kandungan-kandungan ketidaksesuaian ilmu dengan agama.

Motif Pemaparan Ilmu Agama

Terdapat dua motif yang dapat dikonsepsi bagi orang-orang yang memaparkan esensi ilmu agama, antara lain: pertama, memecahkan pertentangan ilmu dan agama serta proposisi-proposisi ilmu dengan proposisi-proposisi agama dan pertentangan-pertentangan lainnya; dan kedua, tinjauan posisi agama atau sekuler ilmu-ilmu eksperiman dalam kehidupan dan peradaban manusia.

Pada dasarnya, masalah ilmu agama, di samping mempengaruhi pra asumsi-pra asumsi agama atas ilmu-ilmu, mengarahkan pengambilan posisi agama terhadap hasil-hasil ilmu, juga membantu memecahkan pertentangan ilmu dan agama.

Pengaruh Agama dan Metafisika terhadap Ilmu

Apakah proposisi-proposisi agama dan makrifat agama berpengaruh terhadap ilmu eksperimen? Apakah proses ilmu menerima bentuk hanya dari sisi pengaruh pengetahuan dan penafsiran individu yang berhubungan dengan dunia kedua, ataukah pengetahuan agama umum dan spesifik (disipliner) yang berhubungan dengan dunia ketiga juga berpengaruh dalam proses ilmu? Pengaruh-pengaruh ini berada di wilayah bagian mana dari organ tubuh ilmu eksperimen? Menyebabkan bangkit dan meningkatnya ilmu atau sebaliknya? Apakah ada kemungkinan mempengaruhi? Apakah terjadi dan mengaktual? Mencapai tujuan ataukah tidak? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini serta konsepsi dan afirmasi ilmu agama, kita harus menggunakan metode eksperimen dan penelitian sejarah; yakni penelitian-penelitian eksperimen dan hasil-hasil ilmu kita tinjau dalam wilayah sejarah ilmu sehingga kita menghasilkan dengan jalan penelitian ilmiah pengaruh metafisika agama dan sekuler; ketika itu akan diketahui bahwa ilmu, bukanlah deskripsi hakiki dari alam realitas. Pemahaman-pemahaman keilmuan bukanlah hasil penyingkapan sempurna dari alam natural dan pemahaman-pemahaman rasional serta landasan metafisika memiliki pengaruh terhadap teori-teori keilmuan. Tujuan ilmu para cendikiawan dan tinjauan umum pandangan dunia mereka juga berpengaruh dalam sisi pengambilan bentuk ilmu; sebab tujuan ilmu para cendekiawan berada di bawah pengaruh bentuk pertanyaan-pertanyaan teoritis mereka. Dengan memperhatikan pandangan dunia dan atmosfir pemikiran yang berkembang di zaman mereka dan dengan di bawah pengaruh keberadaan paradigma-paradigma, mereka memandang bentuk-bentuk khusus dari pertanyaaan-pertanyaan layak untuk diteliti dan dibahas. Dan pengaruh ini tidak hanya dalam tataran pengumpulan ilmu, akan tetapi juga nampak dalam tataran penerimaan penelitian dan penghukuman. Pada masa ini, filsafat ilmu melalui klaim positivisme, dimulai melalui penyaksian dan indera serta kedahuluan penyaksian atas teori-teori dan asumsi-asumsi. Positivisme juga mengakui bahwa Penyaksian-penyaksian serta persepsi-persepsi indrawi yang netral merupakan landasan meyakinkan dalam dimensi pembangunan pengetahuan empiris yang obyektiv, dan satu-satunya metode menyingkap proposisi-proposisi kesaksian atas kaidah-kaidah umum, adalah metode induksi. Pada tataran pembentukan keilmuan, mental manusia melakukan aktivitas, tidak hanya pasiv dan tinggal seperti sebuah wadah yang hanya di isi dimana pemberian-pemberian panca indra di gudangkan di situ. Adapun obyektivitas bermakna penyaksian dan pengetahuan terhadap fenomena-fenomena, yang jauh dari imajinasi-imajinasi, yakni pra asumsi-pra asumsi metafisika telah dinafikan secara keseluruhan; sebab: pertama, pengetahuan panca indra dan pengalaman tidak mungkin kosong dari pewarnaan teoritis dan kosong dari setiap pra asumsi, dikarenakan pembelajaran dan pengalaman sebelumnya seorang penyaksi menyebabkan penyaksi tersebut melihat titik khusus dan lalai dari titik lain dan orang lain yang tidak memperoleh pembelajaran dari suatu disiplin ilmu, tidak mempunyai kemampuan untuk mendeskripsikan masalah yang berhubungan disiplin ilmu tersebut. Maka dari itu setiap penyaksian dan pengalaman adalah diwarnai dengan pewarnaan teori-teori. Kedua, penyaksian dan persepsi panca indra tidak netral; sebab persepsi panca indra didahului dengan suatu ikatan khusus, soal tertentu atau masalah khusus. Ketiga, bahasa manusia, mengandung penemuan-penemuan ontologis, epistemologis, kebudayaan, dan idiologis dan setiap kali menurun, apakah dalam ilmu atau seni atau setiap kategori lain, muatan kebudayaan dan filsafat juga menyertainya menurun. Oleh karena itu, ketika seorang ilmuan dalam fisika berkata: dengan masuknya cahaya, dari suatu lokasi, seperti perpindahan udara pada lokasi lain disebabkan air, maka cahaya menjadi terurai. Pada dasarnya, konsepsi-konsepsi filsafatnya menerima prinsip keberadaan cahaya, gerak dan lainnya. Keempat, tidak hanya penyaksian-penyaksian yang didahului dengan teori dan tidak hanya bahasa eksprimen yang didahului dengan teori-teori, bahkan kelahiran ilmu bergantung kepada sangat banyak dari pra asumsi-pra asumsi ontologi dan epistemologi; tanpa mereka ilmu tidak dapat merangkak setapak demi setapak. Oleh karena itu, klaim bahwa proposisi-proposisi penyaksian merupakan sandaran meyakinkan untuk membangun istana pengetahuan eksprimen, juga adalah tidak sempurna; sebab pemberian-pemberian ilmu dan proposisi-proposisi penyaksian, meskipun senantiasa bersandarkan atas pemberian-pemberian alam yang sama dan berserikat antara seluruhnya, akan tetapi pemberian-pemberian ini apakah ia dihasilkan dari jalan penyaksian dan deskripsi ataukah diperoleh dari jalan eksperimen yang terkontrol serta pengukuran terkuantitatifkan, tidak akan pernah kenyataan sesuatu itu sejati dan keberadaannya murni, tapi senantiasa disertai dengannya percampuran penafsiran.[9] Pemahaman-pemahaman seperti energi, entropi, gen, molekul, perasaan di bawah sadar, hati nurani, normatif dan lainnya yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam dan humaniora, tidak dapat disaksikan secara langsung, akan tetapi digunakan dengan perantara produk-produk mental untuk menjelaskan fenomena-fenomena luar yang disaksikan.[10] Kelima, induksi bukanlah metode yang dapat diyakini untuk menetapkan kaidah-kaidah ilmu; yakni dengan induksi tidak mungkin qadiyah-qadiyah penyaksian dan partikuler yang terkhususkan dengan zaman dan tempat tertentu dijadikan pengganti dari teori-teori ilmu dan qadiyah-qadiyah universal.

Pengaruh Agama terhadap Ilmu

1.Pengaruh Metafisika Agama terhadap Hipotesa-hipotesa Ilmu

Pengaruh metafisika terhadap penemuan dan perubahan hipotesa-hipotesa dan juga pengaruh pandangan-pandangan metafisika atas komprehensi-komprehensi, model-model, prinsip-prinsip dan macam-macam teori ilmu, kurang lebih terdapat kesepakatan; akan tetapi terdapat perbedaan tentang kebagaimanaan pengaruh dan klasifikasi pandangan-pandangan metafisika. Hasil kata, hipotesa-hipotesa ilmu menjadikan pra asumsi pandangan-pandangan metafisika sebagai bagian dari motifnya dan motif ini menjadi benih penemuan dan perubahan hipotesa-hipotesa ilmu.

Sebagai contoh, seseorang yang meneliti dalam ilmu-ilmu humaniora, pra asumsi-pra asumsi ia dalam motif manusia, merupakan pemberi ilham untuk bentuk tertentu dari komprehensi-komprehensi, asumsi-asumsi, model-model, metode-metode dan teori-teori ilmu-ilmu humaniora, dan pengetahuan-pengetahuan agama dalam motif manusia dapat berperan sebagai pra asumsi ilmu-ilmu humaniora. Bentuk pengaruh ini lebih banyak nampak dalam ilmu-ilmu humaniora aplikatif, seperti manajemen, kepemimpinan, dan ilmu-ilmu pendidikan.

Poin yang perlu diperhatikan bahwa ilmu-ilmu humaniora di samping dari dimensi subyek, tujuan, dan metode berbeda dengan ilmu-ilmu alam, juga terpaksa dalam pemahaman fenomena-fenomena alam menggunakan metode penafsiran sebagai ganti dari metode penguraian dan untuk penganalisaan dan penafsiran prilaku-prilaku individu dan masyarakat, menggunakan pemahaman-pemahaman seperti keputusan, kehendak, tujuan dan lainnya[11] dan doktrin-doktrin agama berpengaruh pada keseluruhan pemahaman-pemahaman, analisa, dan penafsiran-penafsiran tersebut. Oleh karena itu, dalam ilmu-ilmu humaniora dibicarakan tentang perubahan-perubahan seperti pemikiran, keinginan, kehendak, keputusan, perasaan, dan lainnya, dan pengetahuan-pengetahuan agama berpengaruh terhadap kelompok perubahan-perubahan ini.

Sebagai contoh dapat diisyaratkan dengan teori evolusi Darwin yang mengungkapkan tentang perubahan dan pergantian specis-specis. Perubahan ini mengambil bentuk dengan jalan keberuntungan dan pemilihan tabii. Dengan melalui informasi-informasi biologi dan pemberian-pemberian simpel hasil eksperimen, hal ini tidaklah menafikan kepenciptaan Tuhan; akan tetapi ilmuan metafisika sekuler, mengarahkan penafsirannya terhadap pandangan Darwin akan penafian kepenciptaan Tuhan.[12]

2. Pengaruh Doktrin-doktrin Agama Terhadap Ilmuan Empiris

Semua aktivitas manusia mengarah pada maksud dan tujuan tertentu. Penemuan arah itu lahir dari motivasi yang ada pada manusia dan motivasi itu juga menerima pengaruh dari tinjauan, nilai-nilai dan tujuan. Berasaskan ini, keterikatan para ilmuan terhadap doktrin-doktrin agama berpengaruh atas aktivitas-aktivitas penelitian dan keilmuan mereka serta berpengaruh juga dalam penerimaan dan penolakan mereka terhadap ilmu atau perkembangan ilmu. Sebagai contoh dapat diisyaratkan pada pandangan benar agama beberapa abad dalam Islam, dimana dengan penafsiran yang benar terhadap komprehensi-komprehensi seperti zuhud, sabar, cintai dunia, penantian dan juga dengan memandang penting terhadap pengetahuan alam natural serta pengetahuan terhadap ayat-ayat âfâqi Tuhan, telah membuka jalan untuk terciptanya ilmu-ilmu eksperimen dan menambah motivasi para ilmuan untuk melakukan penelitian-penelitian ilmiah. Akan tetapi kemudian, dengan meningkatnya kesufi-sufian dan penafsiran yang tidak benar terhadap zuhud, cinta dunia, sabar dan komprehensi-komprehensi lainnya, penelitian-penelitian ilmu eksperimen menjadi tertutup dan motivasi terhadap ilmu menjadi merosot dikalangan kaum muslimin. Demikian juga dapat diisyaratkan pemikiran Masehi dalam abad pertengahan dan ketiadaan perhatian sama sekali terhadap wahyu dan akal serta ketiadaan perhatian terhadap penelaahan eksperimen dan pengkajian ilmu alam yang menjadi sumber berkembangnya ketuhanan rasionalisme dan ketuhanan wahyu.

Dalam berhadapan dengan pemikiran Masehi di atas, pemikiran protestanisme yang memperkenalkan bahwa kesibukan dunia sebagaimana kesibukan agama mempunyai nilai dan bernilai tinggi serta pemikiran ini juga memperkenalkan keutamaan dan manfaat dari pengetahuan alam yang kemudian menjadi sumber dari kemajuan penelitian ilmu dan ekonomi.

3. Pengaruh Agama atas dasar-dasar dan postulat-postulat Ilmu Empiris

Pra asumsi-pra asumsi metafisika seperti pembatasan wujud pada materi, pemisahan epistemologi dan ontologi alam nâsut (materi) dan alam jabarût (non materi), kemungkinan pengenalan terhadap alam natural, skeptisisme dan kenisbian epistemologi, sangat merpengaruhi dasar dan landasan ilmu-ilmu empiris.

Sebagai penjelasan, bahwa ilmu-ilmu empiris dimulai dari penyaksian dan pengalaman, sedangkan pra asumsi-pra asumsi serta motif filsafat berpengaruh atas dasar dan landasan ilmu-ilmu, dan kemudian pra asumsi-pra asumsi filsafat juga dipengaruhi oleh pandangan dunia agama dan epistemologi yang diambil dari kitab dan sunnah.

4. Pengaruh Doktrin-doktrin Agama Terhadap Tujuan dan Metode Ilmu

Setiap aktivitas manusia mempunyai tujuan. Begitu juga ilmu sebagai bagian dari aktivitas manusia niscaya memiliki tujuan. Dan dari sisi tujuannya, ia mengambil sumber ontologis, epistemologis, dan teologis dari para ilmuan dan ilmu itu tumbuh dalam kaca mata metafisik tertentu dan motif pandangan-pandangan agama tertentu. Perubahan dalam tujuan dan perubahan penyingkapan rahasia-rahasia alam, sebagai tujuan ilmu-ilmu, berpengaruh terhadap penguasaan alam tabiat serta peningkatan teknologi di tengah masyarakat manusia dan perubahan metodelogi ilmu dari keapaan menjadi kebagaimanaan. Dan perubahan ini juga membawa sekularisme pada puncak perkembangannya serta menumbuhkan pengingkaran terhadap tujuan tabiat dan pencipta yang berkuasa dan mengelola secara mutlak alam. Sebagai contoh: jika observer dan peneliti berasaskan aliran filsafat yang menerima pandangan dan term kecenderungan pada determenisme, maka motif kecenderungan tujuan ia juga mengalami perubahan demikian.

Kesimpulan dari uraian di atas adalah: pertama, aktivitas penelitian seorang ilmuan mempunyai kerangka pemahaman khusus dan dalam ruang lingkup serta motif tertentu menerima aplikasi ontologi dan epistemologi. Dan motif serta pandangan metafisik ini berpengaruh dalam pembolehan dan pengharaman baik dalam kondisi pengumpulan maupun dalam kondisi penghukuman.

Kedua, semakin kita dekatkan kerangka ilmu-ilmu empiris tabii kepada kerangka ilmu-ilmu empiris humaniora, maka kecenderungan pandangan metafisik –agama- menguat atas pengkonstruksian teori dalam ilmu-ilmu. (www.alhassanain.com)


[1] . Mahdi Gulsyani, Az Ilm-e Sekulâr tâ Ilm-e Dini, Hal. 146.

[2] . G. Sarton, Introduction to the History of science, pp 520-780.

[3] . Muhammad Ridha Hakimi, Dânesy-e Muslimin, Hal. 123.

[4] . Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Akhlak dar al-Qur'ân, Jld. 2, Hal. 25-26.

[5] . Murtadha Muthahari, Dah Guftâr, Hal. 146-147.

[6] . Din wa Negarasy Nuwîn, Hal. 308-317.

[7] . Michael Peterson dan lain-lain, Aql wa I'tiqâd-e Dîni, Hal. 366.

[8] . Ibid. Hal. 388.

[9] . Khusru Panoh, Kalam Jaded; Ilm wa Din, Hal. 171.

[10] . Ibid, Hal. 172.

[11] . Merujuk pada kitab: Falsafah Ulum-e Ijtimâi, Hal. 19-20.

[12] . Merujuk pada kitab: Az Ilm-e Sekuler To Ilm-e Dini, Hal. 158.