Filsafat Perubahan Kiblat



Nabi Muhammad saw. selama tiga belas tahun pasca pengangkatan dirinya sebagai nabi (bi’tsah) di Mekah dan beberapa bulan setelah hijrah ke Madinah, atas perintah Allah swt., beribadah menghadap Baitul Maqdis. Baitul Maqdis adalah tempat lahirnya Nabi Isa as. dan kiblatnya orang-orang Yahudi serta Nasrani. Padahal Ka’bah bagi penduduk Mekah pada saat itu memiliki posisi yang sangat penting, sedemikian rupa hingga mereka menjadikannya sebagai rumah berhala.

Namun, ketika Rasulullah saw. datang ke Madinah dan shalat menghadap Baitul Maqdis, orang-orang Yahudi Madinah mulai mencari-cari alasan, memprotes dan melakukan propaganda terhadap kaum Muslimin. Mereka mengatakan bahwa kaum Muslimin tidak memiliki kemerdekaan dan independensi atas diri mereka sendiri, dan shalat menghadap kiblat kaum Yahudi adalah dalil atas kebenaran kaum Yahudi. Semua ini adalah dalih untuk memukul dan menyudutkan Rasulullah saw. Masalah ini membuat beliau sangat menderita; setiap malam senantiasa menengadahkan wajahnya ke langit seraya menanti-nantikan turunnya wahyu berkenaan dengan masalah ini.

Akhirnya, pada suatu hari, ketika Rasulullah saw. baru menyelesaikan dua rakaat dari shalat Dzuhurnya, Jibril diperintahkan oleh Allah swt. untuk menyampaikan wahyu pada beliau. Jibril memegang lengan Rasulullah saw. dan menghadapkan tubuh beliau ke arah Ka’bah, “Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit (menunggu penentuan kiblat). Maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke arah kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui bahwa ketentuan itu adalah benar (telah datang) dari Tuhan mereka; dan Allah tidak akan lengah dari apa yang mereka kerjakan” (Qs.Al-Baqarah [2]: 144).

Setelah terjadi perubahan kiblat, orang-orang Yahudi sangat kecewa dan mulai melakukan propaganda yang menyudutkan kaum Muslimin dalam bentuk yang lain. Mereka mengeluarkan pernyataan tentang apa yang menjadi sebab kaum Muslimin berpaling dari kiblat para nabi sebelumnya, pada akhirnya mereka menebarkan keragu-raguan: apakah pekerjaan mereka sebelumnya itu salah atau pekerjaan yang sekarang dilakukan ini keliru. Allah swt., seperti disinyalir pada ayat yang telah dikutip di atas, menjawab mereka dengan menyatakan bahwa seluruh tempat berhubungan dengan-Nya, dan ke arah manapun yang Dia perintahkan maka shalat pun harus menghadap ke arah tersebut, dan satu perkara mana pun yang tidak memiliki legitimasi perintah Allah, maka tidak memiliki kemuliaan esensial apa pun pada dirinya. “Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat (Baitul Maqdis) yang selama ini mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Hanya milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus” (Qs.Al-Baqarah [2]: 142).

Penentuan arah kiblat di Madinah merupakan salah satu mukjizat Rasulullah saw. Tanpa menggunakan peralatan astronomi, kaidah-kaidah geometris atau observatorium dan sumber-sumber garis bujur dan garis lintang lain, beliau menentukan arah kiblat tersebut dengan kecermatan dan ketepatan yang sangat tinggi. Beliau berdiri menghadap Ka’bah dan bersabda, ”Mihrabku ada di atas mizan.” Maksudnya, mihrab beliau tepat mengarah ke arah kiblat.

Madinah dan Mekah kira-kira berada di satu wilayah Da’irat Nisf Al-Nahar yang sama, yakni sebuah garis edaran matahari imajinatif yang melengkung dari barat sampai ke timur, menjauhnya matahari dari titik tengah garis ini -Nisfu Nahar- ke arah timur digunakan sebagai patokan untuk menentukan masuknya waktu shalat Dzuhur. Sementara garis bujur Madinah sedikit lebih panjang dibandingkan Mekah; garis lintangnya pun sekitar empat derajat lebih panjang dari Mekah, dan arah kiblat Madinah dari arah selatan sedikit serong ke arah barat. Yang menarik, talang air Ka’bah pun berada di sebelah baratnya.

Ketika Rasulullah saw. berada di Mekah dan shalat menghadap Baitul Maqdis, Ka’bah beliau posisikan di antara diri beliau dan Baitul Maqdis, namun hal ini tidak bisa dilakukan di Madinah, karena seseorang yang berada di Madinah, yakni ketika menghadapkan dirinya ke arah Mekah, maka mau tidak mau dia harus membelakangi Baitul Maqdis, dan begitu sebaliknya. Akan tetapi, ketika berada di Mekah, tepatnya di sebelah selatan Ka’bah, ia bisa menghadap Ka’bah sekaligus menghadap Baitul Maqdis. Sebagaimana Nasir Khosro dalam Siyahatnomeh mengatakan, “Madinah adalah sebuah kota yang terletak di pinggir padang pasir dan di sana kiblat berada di sebelah selatan.”

Farhad Mirza dalam kitabnya yang berharga menjelaskan bahwa garis lintang Mekah adalah 21 derajat dan 33 menit arah utara, dan garis bujurnya 40 derajat dan 10 menit arah timur dari Greenwich (observatorium London). Garis lintang Madinah adalah 25 derajat arah utara dan garis bujurnya 39 derajat 55 menit, maka perbedaan antara dua nisf al-nahar Mekah dan Madinah adalah 15 menit. Atlas Larus menggambarkan Mekah dan Madinah kurang-lebih berada pada satu garis nisf al-nahar yang sama.

Filsafat Perubahan Kiblat

Merujuk sumber-sumber Islam, nampaknya filsafat perubahan kiblat dapat dirangkum dalam poin-poin sebagai berikut:



1 next