Wilayah Tuhan di Muka Bumi



Wilâyah tasyri’i Ilahi pada masa ghaibat dan kehadiran, dilakukan oleh para Imam Maksum As, baik dengan perantara (wali fakih atau siapa saja yang diangkat oleh Imam Maksum As) atau tanpa perantara. Wilâyah tasyri’i ini, sesuai dengan hukum akal, adalah bersifat mesti dijalankan; karena ketaatan kepada Allah Swt bersifat mesti bagi kita dan ketaatan kepada Allah Swt terletak pada ketaatan kepada wali Allah. Tidak terdapat perbedaan terkait dengan kemurahan dan perhatian takwini dan tasyri’i Imam Maksum pada masa ghaibat dan kehadiran. Dan pada pelbagai ragam dimensi seperti, doa, pertolongan ghaib, penggemblengan orang-orang khusus dan sebagainya tetap berlanjut dan berjalan kapan saja.

 

Nampaknya yang Anda maksud dari penggunaan pemeliharaan (rububiyah) Ilahi adalah wilâyah. Terkait dengan wilâyah harus dikatakan bahwa secara eksikal (lughawi), kata “wilâyah” dan “maula” berasal dari kata “wali.” Pakar bahasa telah menyebutkan makna dan arti yang beraneka macam untuk kata ini; seperti mâlik (raja), ‘abd (hamba), mu’tiq (orang yang membebaskan), mu’taq (orang yang dibebaskan), shâhib (pemilik), qarîb (kerabat; seperti keponakan), jâr (tetangga), halîf (rekan sumpah), ibn (putra), ‘am (paman), rabb (pendidik), nâshir (penolong), mun’im (pemberi nikmat), nâzil (orang yang tinggal di suatu tempat), syarik (rekan), ibnul ukht (anak saudara perempuan), muhib (pecinta), tâbi’ (pengikut), shihr (suami anak/saudara perempuan), aula bi at tasharruf (orang yang lebih layak melakukan daya upaya dalam urusan-urusan ketimbang dirinya sendiri).[1]

Secara teknikal (istilahi), yang dimaksud dengan “wilâyah” adalah kemampuan dan kekuasaan untuk ikut campur dan melakukan daya upaya dalam urusan semua manusia di dalam pelbagai aspek, tanpa menafikan hak ikhtiar dan memilih atau kepemilikan orang lain.

Imâmah” (kepemimpinan) Imam As atas umat Islam sangat nampak jelas dan pemerintahannya terkait dengan urusan-urusan sosial, politik masyarakat, dan urusan pemberian petunjuk kepada manusia menuju masyarakat Islam dan menjawab segala kebutuhan-kebutuhan agama dan hukum mereka. Apabila umat manusia tunduk di bawah pemerintahan dan menerima kepemimpinannya serta mengambil pelajaran dari cara, metode, karakter dan perjalannya maka mereka akan mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kemudahan materi dan maknawi di dunia dan akhirat. Dan apabila mereka berpaling dari kepemimpinannya dan menerima kepemimpinan orang lain, tidak ada yang menjadi nasib mereka selain kerugian bagi mereka. Padahal, baik mereka tahu atau tidak tahu, mengikutinya atau berpaling darinya, mereka menjadikan beliau sebagai tempat merujuk dalam hal politik, hukum, agama dan akhlak. Dan baik mereka merujuk atau tidak merujuk, Imam Maksum adalah saksi yang meliputi semua manusia baik Syiah atau selain Syiah, Muslim atau non-Muslim. Imam Maksum mengetahui segala sesuatu baik yang lahir maupun yang batin dan memiliki kemampuan dalam mengurusi urusan-urusan mereka. Bahkan dalam hukum takwiniyah beliau mampu merubah batu-bata menjadi emas, menghidupkan gambar yang ada di tabir, menyembuhkan penyakit yang tidak ada obatnya dan memudahkan segala kesulitan dan membebaskan orang yang bertawasul kepadanya dari jalan buntu, akan tetapi dari kemampuannya ini tidaklah ia lakukan karena sia-sia, tidak ada hikmahnya dan bertentangan dengan kebiasaan. Jadi, tidak seharusnya “wilâyah” dalam bahasa para periset (muhaqqiq) Syiah disetarakan dengan Imâmah. Akan tetapi yang harus dikatakan adalah: “wilâyah” adalah hal yang paling penting yang diperlukan untuk “imâmah”; yakni salah satu syarat penting imâmah. Selama wali ada, orang lain tidak bisa menjadi pemimpin kaum muslimin dan memegang kendali urusan agama dan dunia mereka dan menuntun mereka untuk mengikuti maksud dan niatnya!; sebab ini adalah hal yang rasional dan jelas; selama yang paling utama dan yang paling sempurna ada, tidak tersisa kesempatan untuk yang lainnya, kecuali “wali mutlak” memberikan izin wewenang kepadanya, -seperti wali faqih di zaman gaibnya Imam Keduabelas Imam Mahdi Ajf,  dan di bawah pengawasannya wali faqih ini mengatur urusan-urusan kaum muslimin di ruang lingkup terbatas yang telah diberikan dan tidak melampaui di atasnya. Oleh karena itu kedudukan “wilâyah ilahi” yang dinisbatkan kepada para Imam Maksum As dan Nabi Saw adalah kedudukan “khalifatullâh” yang merupakan tujuan penciptaan manusia dan karena derajat dan kedudukan inilah para malaikat bersujud.[2]

Namun harap diperhatikan bahwa wilayah terbagi menjadi dua bagian:[3]

Pertama, Wilâyah Takwini: Meski  makna wilâyah dapat diketahui dari penjelasan sebelumnya namun dengan menjelaskannya dapat kita katakan bahwa wilâyah takwini ini diadopsi dari ayat-ayat al-Quir’an. Sesuai dengan ajaran-ajaran al-Qur’an bahwa segala penguasaan pada setiap entitas dan makhluk adalah mungkin saja terjadi sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki.[4] Hal ini sebagaimana disinggung dalam al-Qur’an, “Rabbunalladzi a’tha kulla syai tsumma hada” (Tuhan kami adalah yang menciptakan segala sesuatu kemudian memberikan petunjuk atasnya, Qs. Thaha [20]:50) Jenis wilayah ini berlaku bagi insan kamil (hujjah Tuhan) sesuai dengan izin Tuhan.[5] Pada sebagian doa disebutkan bahwa para tidak terdapat perbedaan bagi para Imam Maksum As apakah mereka hidup atau mati, Hal ini persisnya bermakna bahwa sekarang ini Imam Zaman Ajf yang bertanggung jawab atas wilâyah takwini seluruh makhluk dan ghaibnya Imam Zaman (Imam Mahdi Ajf) sama sekali tidak berpengaruh terhadap wilâyah takwini yang dimilikinya. Pada masa ghaibat, dari sudut pandang ini, keberadaannya merupakan suatu hal yang niscaya lantaran kalau tidak bumi dan seluruh isinya akan binasa.”[6]

Kedua, wilâyah tasyri’i: wilâyah tasyri’i bersumber dari ayat-ayat yang menjelaskan bahwa wilâyah tasyri’i seperti syariat, hidayat, irsyad, taufik dan semisalnya bersifat tetap bagi Allah Swt.[7] Wilâyah ini bermakna pemerintahan dan pengaturan secara lahir urusan-urusan duniawi dan ukhrawi manusia. Artinya seorang wali Allah yang mendapat tugas dari sisi Allah Swt untuk mengelolah urusan agama dan dunia masyarakat (terlepas dari apakah tugas ini mengarahkan masyarakat kepada wilâyah wali Allah dan menjadi penyebab terealisirnya pemerintahan atau tidak).



1 2 3 next