Syiah Indonesia Antara Janji dan Harapan



"Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar,untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."  [1] 

“Dan urusan mereka dimusyawarahkan antara sesamanya.” [2]

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” [3]

Pembahasan lika-liku syiah dan kesyiahan di Indonesia merupakan suatu fenomena yang tak bisa kita pungkiri kenyataannya, perjalanan para pecinta ahlulbait dan penungguan Imam Zaman as seperti bola yang digulirkan ke bawah yang tak mungkin berhenti dan dihentikan lagi, sehingga hal tersebut mengkristal dalam jiwa-jiwa para pengharap kebenaran akan kepastian dan janji yang akan terjadi di masa depan. Janji tersebut bukanlah sebuah khayalan tetapi merupakan suatu kepastian tak pasti maksudnya masa depan yang merupakan masa kejayaan untuk orang-orang yang benar dan beriman pasti akan terjadi tetapi tak pasti kapan akan terjadi. Seperti yang kita telah ketahui bahwa masyarakat syiah di manapun dia berada tidak memiliki keyakinan yang buta dan kosong sebab mereka terbiasa dengan sebuah kajian ilmiah yang penuh dengan ketajaman pemikiran. Akalnya selalu bekerja terus menemukan jalan kebenaran diatas kebenaran, sehingga keyakinan masyarakat syiah bukanlah keyakinan  khayal yang muncul hanya dari doktrin tekstual ataupun doktrin lainnya tetapi merupakan keyakinan yang teruji. Tak kalah pula hal tersebut terjadi pada masyarakat syiah Indonesia. Indonesia merupakan bagian dari dunia yang diyakini sebagai bagian dari yang dijanjikan oleh Allah SWT untuk diserahkan dan dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

Namun yang sangat disayangkan sekarang ini adalah kondisi perjalanan syiar ahlulbait as mengalami bentuk yang belum menentu, sehingga apakah keyakinan terhadap janji yang telah disebutkan diatas akan pula terjadi di tanah air Indonesia? Atau mungkin tanah air Indonesia akan hilang ditelan bencana dan tak akan diinjak sedikitpun oleh Imam Zaman as kecuali tanah yang tenggelam? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan merefleksikan benak setiap masyarakat syiah di Indonesia terhadap aplikasi yang berbed-beda, serta akan memberikan reaksi positif bagi orang yang mengambil sikap penuh harapan, dilain hal tak sedikit pula yang menyerah pada keadaan.

Mungkin disini kita perlu mengkaji sejauh mungkin perjalanan syiar Ahlulbait as di Indonesia ini pada tahapan metodelogis, gerak dan siasat syiar bukan hanya pada tatanan teori yang bersumber pada tatanan yang benar tanpa melupakan unsur budaya lokal, sejarah, kondisi dan situasi masyarakat Indonesia secara umum baik yang berupa keyakinan, pemikiran, kehidupan serta mitos yang ada padanya.

Masyarakat Syiah dan  Gerakan Islam Di Indonesia

Kalau kita melihat sejarah jauh-jauh sebelum masa kemerdekaan di zaman kerajaan dan ataupun di zaman berdatangannya para muballigh ke tanah air Indonesia, kita akan dapat melihat bahwa Islam secara cepat tersebar ke seluruh pelosok tanah air baik  melalui kebijakan kerajaan ataupun secara individu-individu yang terorganisir dengan media pondok-pondok pesantren yang tersebar di seluruh indonesia. Pada masa kemerdekaan banyak bermunculan pemikiran-pemikiran Islam yang mengendap pada berbagai macam organisasi. Dan organisasi inilah sebagai alat bagi mereka untuk menyebarkan pemahaman ajaran keyakinannya. Pada hakikatnya model pada masa kerajaan dan masa kemerdekaan memiliki esensi yang sama, yaitu mereka menggunakan konsep bekerja bersama dalam sebuah institusi organisasi tradisional ataupun modern, yang dimana telah diketahui dan sudah menjadi i’tibar yang rasional bahwa bekerja bersama dalam sebuah kinerja yang terprogram dan terorganisasi akan memberikan percepatan hasil dari visi dan misinya.

Gerakan Islam yang ada sekarang menggunakan metode dari konklusi yang mana hipotesanya telah dibuktikan di masa yang lalu. Tumbuh berkembangnya sebuah organisasi dan gerakan Islam Indonesia bukan hanya dilatarbelakangi oleh keyakinan akan doktrin mereka, tetapi sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap sikap dan ajaran yang dibawa oleh mereka. Misalnya kita dapat melihat fenomena gerakan NII, PKS, HT dan organisasi yang sudah lama berdiri seperti NU, Persis, dan muhammadiah. NII dengan doktrin negara Islam Indonesia nya memiliki pola kerja yang menganut sistem komando dan kerahasiaan, yang memiliki kader yang konsisten dengan doktrin yang dibawanya dengan mengharapkan “mau’ud” proklamasi negara Islam Indonesia kembali disuarakan lagi. Kalau kita lihat dari sejarah mereka tidak sedikit para pembesar mereka berasal dari ulama daerah masyarakat Indonesia, sehingga mereka memiliki akar yang kuat di wilayah tersebut, walaupun sekarang-sekarang ini sudah banyak masyarakat meninggalkan mereka. Dikarenakan konsep yang ditawarkan oleh mereka tak bisa diterima oleh masyarakat dan juga kondisi yang bersitegang dengan penguasa, serta propaganda yang anti terhadapnya sehingga semakin jauh masyarakat bahkan banyak pula yang melawan mereka. Hal tersebut terjadi selain dari masalah luar organisasi NII, masalah internalnya pun mejadi ukuran kemundurannya misalnya dengan banyaknya konsep yang tidak dipahami oleh masyarakat, dan juga tak luput dari tidak adanya transparansi akan jati diri mereka di depan masyarakat.

Fenomena PKS yang sekarang ini marak di kalangan mahasiswa dan partai politik, tentunya tidak lepas perkembangan organisasi mereka dan pertambahan jumlah kader mereka dikarenakan sistem yang mereka buat. Mungkin jikalau kita bandingkan dilihat dari jumlah pemilu yang ada dan jumlah kader di mahasiswa, mereka lebih bisa diterima oleh kalangan muda bahkan sekarang kalangan tua pun ikut berpartisipasi di dalamnya. Sistem PKS yang lebih transparan dan moderat dibanding dengan NII memberikan harga jual yang lebih bagi masyarakat Indonesia. Sistem kader yang terpola berhalaqah-halaqah dan bertahap, kegiatan ruhani yang terprogram, dan penanaman basis ormas di wilayah-wilayah dan daerah-daerah  serta memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan poin penting dalam membantu kemajuan organisasi mereka. Kecenderungan para tim asatid dan pembesar ataupun boleh dikatakan ulama pada tubuh PKS yang merupakan buah dari jamiah At-Tarbiah yang  memiliki persatuan dan tali silaturahmi yang kuat dalam tubuh mereka, sehingga mereka dapat menjalin kerja yang baik di dalam organisasi tersebut, walaupun kelemahan mereka tidak memiliki basis yang kuat dalam keilmuan kepesantrenan yang menjamur di Indonesia, sehingga masyarakat akan dibawa menggantung hanya pada “coblos partai” saja.  Adapun organisasi seperti NU, Muhammadiah dan Persis sedikit demi sedikit sudah mulai dijauhi oleh oleh kalangan muda dan sudah mulai meninggalkan dan hijrah ke organisasi seperti HT ataupun PKS. Walaupun kita pernah melihat keberhasilan yang gemilang selama periode pra dan pasca kemerdekaan dimiliki oleh organisasi NU. Sebab NU memiliki basis ulama yang kuat di masyarakat serta basis yang kuat di pondok-pondok pesantren di Indonesia. Dengan pola pesantren pengkaderan dengan ilmu-ilmu kitab kuning kepada murid-muridnya memberikan kepercayaan akan sakralnya ilmu yang dimiliki oleh para guru-guru mereka di daerah-daerah, sehingga penghormatan yang penuh kepada para guru-guru mereka menjadi pola tersendiri bagi garis ketaatan dan komando pada tubuh organisasi tersebut, berbeda dengan PKS ataupun HT. Guru-guru mereka di daerah dan pesantren dihormati dan dikultuskan  sebagai tokoh daerah dan masyarakat sekitar yang pada akhirnya menjadi wakil bagi mereka di tingkat nasional. Berbeda dengan PKS yang dimana kekiayiannya hanya diakui di dalam wilayah internal kader organisasi tidak di masyarakat. Begitu bagusnya bergulir pola keorganisasian NU dengan pola guru atau ustad atau kiayi yang sebenarnya polal tersebut dilakukan jauh-jauh pada masa kerajaan islam di Indonesia, sehingga pola tersebut telah menjadi kebiasaan umum yang membudaya sampai tersebar di wilayah nusantara yang kebanyakan dari mereka memiliki pemahaman akan ke NU annya. Walaupun sangat disayangkan akhir-akhir ini prestasi mereka menurun dikarenakan terjadi perpecahan di dalam tubuh NU yaitu di dalam tubuh ulama NU dan bergabungnya sebagian kubu NU tersebut ke dalam wilayah partai praktis.



1 2 3 4 5 next