Shalat Mengokohkan spiritualitas dan Etika



 

Shalat merupakan mikraj (perjalanan spiritual) mukmin. Jika seseorang melaksanakan shalat dengan etika khusus, ia akan meraih kemuliaan dan perangai-perangai kemanusiaan. Shalat menolak segala kehinaan dan menjunjung tinggi kemuliaan.

Dr Alexis Karel mengatakan, "Ibadah sangat berpengaruh pada mental dan tubuh manusia. Selain itu, ibadah dapat mengokohkan sentuhan irfan dan etika secara bersamaan. Sifat dengki dan perilaku buruk tidak begitu menonjol pada wajah-wajah yang tidak meninggalkan ibadah, bahkan rasa tanggung jawab dan keinginan berbuat bail lebih nampak pada diri mereka dibanding lainnya. Ibadah menampakkan karakter-karakter spesifik pada diri manusia seperti ketulusan hati, kegigihan, konsentrasi, keceriaan, kepercayaan diri, kesiapan menerima petunjuk dan kebenaran, serta kepasrahan akan kerelaan Allah Swt."

Dalam kesempatan kali ini, kami kembali akan menyinggung poin-poin lain shalat yang merupakan ibadah terindah. Rasulullah Saw bersabda, "Mukmin selalu ceria dan senyum." Terkait hal ini, sebuah pepatah Iran menyebutkan, "Keceriaan adalah penawar segala penyakit."

Di zaman sekarang ini, ilmu kedokteran membuktikan bahwa orang-orang yang ceria mempunyai resiko sakit lebih sedikit dibanding orang-orang yang pesimis dan tidak bermoral. Bahkan disebutkan pula bahwa segala hal yang mempersembahkan kebahagiaan pada manusia, akan membantunya dari sisi kesehatan jiwa dan raga. Akan tetapi poin penting yang disinggung ilmu kedokteran, menyebutkan bahwa kebahagiaan dan kemurungan manusia seringkali dipengaruhi perubahan materi-materi kimia yang terdapat dalam tubuh manusia. Sebagai contoh, emosi tanpa sebab yang biasa muncul pada pagi hari disebabkan perubahan atau banyak dan sedikitnya sejumlah komposisi kimia pada darah.

Meningkatnya cortisol dalam tubuh manusia dapat membuat manusia bahagia. Hormon itu bertambah saat pagi hari. Jika seseorang bangun tidur pada pagi hari, ia akan merasakan keceriaan tersendiri yang tentunya akan berpengaruh pada sepanjang hari. Untuk itu, para psikolog berkeyakinan bahwa ibadah dan shalat di pagi hari akan membantu manusia tampil ceria dan bahagia sepanjang hari. Di samping itu, shalat dan ibadah yang merupakan perjalanan spritual, juga berperan penting dalam kebahagiaan manusia.

Pada intinya, kewajiban shalat Subuh mendorong seseorang bangun di pagi hari. Melalui bangun pagi, manusia akan merasakan keceriaan sepanjang hari. Apalagi aktivitas pertama pada pagi hari dimulai dengan beibadah kepada Allah Swt. Banyak penemuan ilmiah yang berhubungan dengan shalat Subuh. Selain itu, banyak riwayat yang membicarakan dampak shalat dalam kesehatan dan kebahagiaan jiwa. Para psikolog menyebut bangun pagi dan ibadah pada saat itu sebagai salah satu faktor yang mengantisipasi guncangan jiwa. Riset membuktikan bahwa 75 persen pengidap stres mengalami kesulitan tidur.

Psikolog agamis menyebut bangun pagi dan beribadah saat itu sebagai salah satu antisipasi guncangan jiwa dan stres. Al-Quran juga menekankan doa dan ibadah pada pagi hari. Ibadah pada pagi hari sangat bermanfaat, bahkan dapat menyebabkan berkurangnya guncangan jiwa. Shalat membangunkan setiap orang yang tidak lalai kepada Allah Swt, pada pagi hari. Pada hakekatnya, seseorang ketika bangun pagi dan beribadah, dapat mengurangi tekanan jiwanya dan membangkitkan keceriaan sepanjang hari. Pada pagi hari, seseorang melakukan kontak ibadah kepada Allah Swt dan memenuhi kebutuhan spritualnya, sehingga ia memulai harinya dengan rasa tawakal dan percaya diri. Imam Ali as bersabda, "Allah Swt setiap kali menghendaki kebaikan bagi hambanya, menuntunnya untuk kurang tidur, kurang makan dan kurang berbicara."

Materi Mendorong Manusia Melupakan Tuhan

Rabiah bin Kaab duduk di ujung kamarnya dalam kondisi menunduk. Ia dikenal sebagai sahabat dekat Rasulullah Saw. Bertahun-tahun, Rabiaah bin Kaab berada di samping Rasulullah Saw, bahkan ia selalu mendampinginya dalam berbagai perang. Oleh karena itu, Rabiah berulangkali disiksa oleh orang-orang musyrik. Akan tetapi tak satupun dari kalangan sahabat melihat bahwa ia mengharapkan sesuatu dari Rasulullah Saw. Suatu hari, Rasulullah Saw kepada Rabiah berkata, "Tujuh tahun, kamu bersama aku, tapi tidak ada permintaan dari kamu. Apakah kamu menghendaki sesuatu dari aku?" Mendengar hal itu, Rabiah langsung menundukkan kepalanya dengan rasa malu, dan berkata, "Wahai Rasululah,..berikanlah aku kesempatan untuk berpikir mengenai hal ini."



1 next