Sarmadi



Diantara sifat dzati (esensial) Allah Swt adalah keazalian (azaliyah) dan keabadian (abadiyah). Kedua sifat ini bermakna bahwa keberadaan Tuhan tidak berpermulaan dan juga tidak berkesudahan. Terkadang dua sifat ini disebut oleh para teolog dengan nama sarmadi.

Dalam menetapkan keazalian dan keabadian Allah Swt, harus dikatakan bahwa karena Allah Swt itu adalah Wâjib al-Wujud (Wujud Mesti), keberadaan-Nya adalah identik dengan Zat-Nya; karena itu, keberadaan sekali-kali tidak dapat dinafikan dari-Nya; artinya, bila kita menyimak keberadaan-Nya sebagai Wâjib al-Wujud (Wujud Mesti) maka hal itu menuntun kita pada keabadian dan keazalian-Nya;  karena ketiadaan sebuah entitas pada setiap penggalan waktu menandaskan adanya kebutuhan, maka entitas yang demikian lazim disebut sebagai entitas kontingen (mumkin al-wujud). Sementara Zat Allah Swt adalah sebuah Entitas yang pertama, keberadaan-Nya tidak diterima dari luar sehingga kita tidak dapat berkata pada suatu masa keberadaan diberikan kepada-Nya. Kedua, ia juga tidak meminjam entitas dari yang lain sehingga suatu waktu akan diambil dari-Nya. Keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya. Karena itu, Entitas seperti ini senantiasa ada (sebelumnya) dan akan ada (setelahnya). Dan demikianlah makna keazalian dan keabadian Allah Swt.

»  

Di antara sifat dzati (esensial) Allah Swt adalah keazalian (azaliyah) dan keabadian (abadiyah). Kedua sifat ini bermakna bahwa keberadaan Tuhan tidak berpermulaan dan juga tidak berkesudahan. Terkadang dua sifat ini juga disebut oleh para teolog dengan nama sarmadi. Dia adalah Awal dan juga Akhir.[1] Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Zahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Hadid [57]:3)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Keazalian-Nya tidak berawal, dan kebaqaan-Nya tidak berakhir. Ia adalah yang pertama dan azali. la kekal tanpa batas.[2] 

Imam Shadiq As ditanya tentang makna “awwal” dan “akhir”, beliau bersabda, “Dia pertama sebelum bermulanya segala sesuatu sedangkan permulaan tidak mendahului-Nya. Dia akhir yang tidak berpenghujung sebagaimana yang dipahami dari sifat-sifat makhluk. Allah Swt adalah qadim, awwal dan akhir. Dia senantiasa ada dan akan ada, tanpa berpermulaan dan berpenghujung; fenomena tidak akan terjadi pada-Nya dan tidak mengalami perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain; Pencipta segala sesuatu.”[3]

 Sebagai kesimpulannya, keawalan-Nya bermakna bahwa Dia tidak berpermulaan sebagaimana keakhiran-Nya juga bermakna bahwa Dia tidak berpengakhiran. Keluasan eksistensial-Nya mencakup masa dan sebelum masa; karena wujud-Nya adalah metamasa dan berada di atas masa.

Setelah makna keazalian dan keabadian Tuhan menjadi jelas, sekarang giliran untuk menetapkan dua sifat ini bagi Allah Swt. Salah satu dalil terpendek dalam masalah ini terbentuk berdasarkan Wâjib al-Wujud (Wujud Mesti) Allah Swt. Karena itu, sebelum menetapkan keazalian dan keabadian Tuhan, kita akan menyebutkan abstrak salah satu dalil rasional yang paling kuat untuk menetapkan keberadaan Tuhan (Wajib al-Wujud), yaitu argumen imkan dan wujub:



1 2 3 next