Persatuan, Senjata Ampuh Menghadapi Musuh



Melihat Hegemoni Barat terutamanya Amerika terhadap perlakuan yang tidak adil USA dan sekutunya, terutama sikap standar ganda yang korup dan dzhalim atas sesama kaum muslimin dan nasib kaum mustadh'afin selama ini. Dimana kaum muslimin diberikan sanksi sebagai jaringan Teroris Internasional, sementara pada saat yang sama rezim jahat Israel dibiarkan sedemikian rupa menjajah Palestina, dan menguatkan cengkramannya atas kaum muslimin Palestina. Hal ini, kembali memperlihatkan kecongkakan dan tiraninya dengan melanggar kehormatan, mencemari lingkungan suci Masjdil Aqsha serta membunuhi umat Islam.

Rezim ini telah menumpahkan darah para jamaah shalat dan memberondong seorang bocah kecil dalam pelukan ayahnya dengan peluru hingga gugur sebagai syahid. Adegan ganas dan brutal yang dilakukan rezim ini dalam kurun waktu 50 tahun sekarang kembali diperagakan, anehnya Amerika Serikat bungkam seribu bahasa. Bahkan melindungi dan membiarkan perlakuan Zionis Israel tersebut.

Kini kita lihat Tragedi Kemanusiaan di Iraq, setelah diberlakukan embargo ekonomi, kemudian dilucuti senjatanya atas nama PBB, apa yang yang kita perhatikan saat ini. Rezim Amerika dan tentara koalisi Inggris, Ausralia membombardir jutaan amunisi ke seluruh pelosok wilayah kedaulatan Irak. Tak ubahnya mereka sedang beronani di tengah-tengah penderitaan dan ketidak berdayaan rakyat Irak. Rezim ini berangan-angan bahwa mereka akan bisa memadamkan kobaran jihad untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebenaran yang tak kenal lelah. Mereka akan dapat melicinkan proses perdamaian dan memaksakan ambisi secara lebih keras terhadap pihak yang pro-perdamaian.

Namun sebagaimana yang kita ketahui, kejahatan ini pun tidak akan dibiarkan begitu saja. Praktik-praktik kotor dan khayalan-khayalan iblis dalam benak rezim Zionis pasti akan sia-sia. Aksi-aksi tak berprikemanusiaan yang penuh kebencian ini, sudah disusul dengan gelora protes warga muslim di seluruh antero dunia, kekuatan pasca tumbangnya Rusia (Uni Sovyet) ternyata kini beralih antara Amerika, Inggris dan seluruh kekuatan Eropa, Asia dan lainnya, semisal Perancis, Jerman, Rusia, China, dan negara-negara lainnya. Terbukti bahkan di negara aneksasi seperti Amerika, Inggris dan Australia sendiri gelombang besar secara bergantian memprotes serta mengutuk dengan aksi aksi demonya, tak terkecuali di belahan hampir di pelbagai negara Islam.

Tindakan koboi Amerika bak Drunkin Master dengan menembak seadanya tak peduli teman dan rekan sesamanya, terbukti telah banyak korban berjatuhan dari pihak tentara Inggris dan Kuwait akibat ulah tentara koboi Amerika. Jargon demokrasi yang dibawakan oleh Bush, kini nilai "The Dark Crime" dan "The Satanic War", dimana korban tak dapat disangkal lagi berjatuhan dari pihak sipil (anak, istri dan keluarga serta masyarakat yang tak berdosa turut pula dimbantainya). Pasal dan traktat PBB yang mana lagi yang dipatuhi oleh Mr. Bush. War for Oil, demikian alih-alih menyebutnya, karenanya bila kran-kran oildistop ke Amerika kita yakin rakyat dan pemerintah USA, akan menyadari ternyata ketergantungan mereka pada sebahagian negara-negara produksen minyak adalah sangat besar.

Saatnya, kita boikot eksport minyak ke Amerika, dan beralih dengan penggunakan uang Euro, bila belum mungkin menggunakan real/dinar. Saatnya umat Islam bersatu, dibawah panji kebersamaan tauhid, sejarah telah menunjukkan dengan tegas bahwa Hizbullah (Libanon) negara kecil dapat membuat Israel hengkang dari negaranya, dan dipermalukan di dunia internasional. Karenanya gerakan intifadah menemukan spirit baru dan jalan jihad Islam semakin banyak diminati. "Umat Islam yang sadar dan waspada menggelar demonstrasi besar-besaran dan penuh dengan gelora semangat untuk meneriakkan slogan-slogan kebenaran, selanjutnya mendesak pemerintah negara-negara Islam agar membuka jalan jihad dan mengizinkan warga muslim untuk menunaikan tugas ini sebagai satu-satunya jalan demi mengusir para penjajah dari tanah-tanah pendudukan, serta memulangkan warga Palestina ke tanah air dan kampung halaman mereka.

Telah cukup melelahkan mereka, segala upaya dan jalur diplomatik yang ditempuh oleh media Internasional (baca:PBB), yang telah membuahkan hasil resolusi berupa kutukan dan ancaman kepada Israel, tetapi pada saat yang sama itu semua dianggapnya sebagai isapan jempol, dan angin lalu saja. Namun standar ganda ini berbeda dengan Irak, sekali negara muslim Irak ini melanggar resolusi PBB, maka saat itu pula kutukan dan kecaman dan bahkan serangan USA serta sekutu membenarkan atasnya. Nampaknya dunia kian melek, bahwa gelombang kutukan terhadap rezim penjajah Irak maupun Palestina sekarang kian merebak serta meredupkan proses perdamaian. Hal ini akan semakin memperjelaskan kesia-siaan proses perdamaian tersebut di depan mata semua orang.

Dukungan materi, spirit, dan politik kini semakin tercurah kepada gerakan-gerakan jihad dan intifadah. Dan, pada akhirnya dunia yang sadar akan membenarkan tindakan bom bunuh diri sebagai gerakan perlawanan membela diri atas agresor Israel.

Gembar-gembor mereka yang mengaku pembela HAM sekarang sia-sia. Deru gendering skandal para penyokong Israel sudah terdengar sehingga sebagian besar dari mereka bahkan terpaksa turut mengutuk kejahatan rezim Zionis. Tragedi terkutuk ini dilakukan dengan tujuan memaksakan ambisi-ambisi kotor para penguasa Zionis terhadap pihak yang pro perdamaian. Namun, bangsa Palestina yang pemberani mengecam perundingan damai. Bangsa ini akan menyempitkan ruang pihak-pihak yang pro perdamaian, selanjutnya akan mengubah status mereka yang hina.



1 2 next