Mengenal Tuhan



Mengapa kita harus berkata bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan? Misalnya, mengapa kita tidak berkata bahwa planet bumi berasal dari planet lainnya dan planet tersebut juga berasal dari planet lain hingga sampai pada sebuah planet yang tidak diciptakan dan bersifat qadim. Sebagaimana dengan bantuan argumen tasalsul kita sampai kepada Tuhan yang tidak ada yang mewujudkan-nya. Dengan demikian kita dapat berkata bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada?

Dalam pertanyaan, Anda menyinggung satu burhan yang tidak dapat Anda pahami dengan baik maknanya. Dari sisi lain, muncul anggapan bahwa Anda menyangka dapat menyelaraskan dan mencocokkan sifat Allah Swt pada entitas-entitas material dan terbatas kemudian menghukumi bahwa Tuhan itu tidak ada.

 Dengan demikian, perlu kiranya diperhatikan bahwa pertama: Kita akan mengenal dengan baik makna burhan kemustahilan (absurditas) tasalsul yang sebenarnya. Dan kedua, menjelaskan makna Tuhan yang sebenarnya dan menerangkan bahwa obyek (instanta luaran) Entitas seperti ini yang tidak dapat terhimpun pada satu entitas materi yang terbatas:

1.     Yang dimaksud dengan tasalsul yang popular dikenal orang adalah silsilah rangkaian beberapa perkara yang tidak terbatas. Para filosof memandang tasalsul itu sebagai sesuatu yang absurd dan mustahil. Farabi berargumentasi dalam rangka menetapkan absurditas tasalsul bahwa pada sebab-sebab hakiki, rangkaian sebab-sebab dan akibat-akibat setiap sebab pada gilirannya adalah akibat bagi sebab lainnya. Terkait dengan seluruh silsilah ini dapat dikatakan bahwa semuanya bergantung pada sebab yang lain. Dan pada puncak silsilah, sebab lain harus ditetapkan sebagai bukan merupakan akibat dari sebab lainnya. Karena itu silsilah sebab ini mesti memiliki sumber dan titik-mula.

 Teori kehakikan wujud (ashâlat wujud) dan ketergantungan esensial akibat kepada sebab, merupakan argumen lainnya yang dapat ditegakkan pada ujung sebab-sebab pemberi keberadaan. Apabila di balik silsilah sebab-sebab, dimana masing-masing dari sebab tersebut tidak identik dengan ketergantungan entitas mandiri yang mutlak, maka kemestiannya adalah munculnya pelbagai kebergantungan tanpa adanya sisi bergantung.

 

2.     Tuhan, yaitu Entitas yang Qadîm dan Wâjib al-Wujud, tidak terdapat kebutuhan pada Zat-Nya dan seterusnya. Lantas bagaimana dapat dikatakan bahwa bumi (yang nota-bene merupakan sebuah fenomena dan benda) tidak membutuhkan entitas lainnya, padahal setiap entitas benda secara esensinya adalah membutuhkan; karena ia membutuhkan bagian-bagiannya dan sebagainya.

Dengan kata lain, dengan burhan kemustahilan tasalsul kita ingin menetapkan Wâjib al-Wujud dan Wâjib al-Wujud yaitu adanya entitas mandiri yang ada dengan sendiri-Nya (Swa-Ada) dan tidak memerlukan sebab bagi keberadaan-Nya. Tipologi entitas seperti ini tidak dapat ditetapkan bagi benda dan kebendaan seperti planet bumi; karena planet bumi adalah benda (jism) dan benda merupakan entitas kontingen (mumkin) dan entitas kontingen bergantung pada entitas Wajib.

 



1 2 3 next