Ilmu Sejarah Dalam Perspektif Umat Islam



Sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu yang sistematis pertama kali disusun oleh umat Islam. Merekalah yang pertama kali memandang sejarah sebagai sumber ibrah dan pelajaran, untuk mengenal perjalanan waktu dan peristiwa yang terjadi di dalamnya. Perspektif seperti ini diajarkan kepada mereka oleh al-Qur'an dan Nabi Besar Muhammad Saw.

Al-Qur'an mengajarkan kepada umat Islam dasar dan metodelogi perjalanan sejarah dan menetapkannya sebagai kisah perjalanan yang tersusun rapi dengan berbagai ibrah dan pelajaran kehidupan. Kitab suci ini membawakan kisah-kisah yang juga disinggung dalam kitab-kitab suci sebelumnya yang terkadang dengan lebih rinci dan terkadang pula secara ringkas.

Seiring dengan itu, Nabi Muhammad Saw menyeru umatnya untuk memerhatikan al-Qur'an sebagai khazanah agung untuk mengenal ilmu dan makrifat. Abdullah bin Masud salah seorang sahabat Nabi Saw yang mulia meriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda, "Al-Qur'an ini adalah jamuan Allah yang terhampar luas. Manfaatkanlah ia semampu kalian. Al-Qur'an adalah tali Allah yang tak terputus, cahaya penerang dan obat penawar bagi segala penyakit yang tak tersembuhkan. Tak ada kata usang dan tak ada penyimpangan padanya. Al-Qur'an adalah kitab yang tak pernah lapuk dengan banyak membacanya."

Kajian sejarah membuktikan bahwa umat Islam menemukan jalan dan medote ilmiah penulisan sejarah berkat bimbingan al-Qur'an. Fakta ini diakui dalam banyak literatur yang akan disinggung secara singkat yang salah satunya adalah buku berjudul ‘Umat Islam dan Penulisan Sejarah' karya Abdul Alim Abdurrahman Khidr. Buku ini ditulis berdasarkan telaah atas dua kelompok sumber rujukan kuno Islam dan sumber-sumber rujukan Barat. Setelah menjelaskan definisi sejarah dan hubungannya dengan ilmu-ilmu sosial, penulis membawakan hasil kajiannya tentang ilmu sejarah dalam perspektif umat Islam seraya menyebutkan sejumlah karya sejarawan besar Muslim. Selanjutnya di bagian akhir, penulis menerangkan metodelogi al-Qur'an dalam menceritakan kisah sejarah.

Banyak yang meyakini Ibnu Khaldun sebagai bapak dan pencetus filsafat sejarah. Pasalnya, dia adalah orang pertama yang menulis demikian; Sejarah adalah bagian dan anak cabang dari makrifat yang merujuk pada fenomena-fenomena sosial. Sejarah juga faktor yang sangat berpengaruh pada fenomena-fenomena zaman. Dengan kata lain, Ibnu Khaldun memandang sejarah bukan sekedar metode untuk menuliskan peristiwa zaman, tetapi juga menjelaskan tentang hubungan sosial.

Pada Pasal keempat penulis buku ‘Umat Islam dan Penulisan Sejarah' secara ilmiah menyorot pandangan Ibnu Khaldun tentang sejarah. Dia menulis demikian:

"Sejarah bagi Ibnu Khaldun adalah ilmu yang sistematis dan kokoh. Sejarah baginya bukan hanya laporan dan keterangan tentang peristiwa semata tetapi juga mengajak untuk mencari faktor penyebab lahirnya setiap peristiwa. Ibnu Khaldun mengatakan, sejarah secara lahirnya adalah catatan kisah tentang para pendahulu, pemerintahan-pemerintahan dan peristiwa di masa lalu. Tapi di balik itu sejarah sebenarnya pemikiran dan pencarian yang jeli akan faktor munculnya alam. Sejarah adalah ilmu tentang faktor-faktor penyebab hakiki lahirnya peristiwa, karena itu ia bersumber dari hikmah kebijaksanaan."

Penulisan sejarah Islam dilakukan dengan berbagai metode. Ada yang menulis sejarah berdasarkan kisah-kisah dan gaya kehidupan bangsa Arab, ada pula yang menulis sejarah politik, sejarah penciptaan, sejarah agama, sejarah para tokoh, serta ada yang menulisnya dalam bentuk kisah sastera dan syair. Namun, kesemua metode itu memiliki kesamaan yaitu mencari hakikat dan meletakkan dasar bagi sebuah metodelogi ilmiah dalam mengkaji sejarah. Metodelogi ini memiliki keteraturan zaman dan kronologi peristiwa yang didukung dengan periwayatan yang teliti. Dalam buku-buku karya para sejarawan Muslim banyak dijumpai metode penyaksian langsung lalu periwayatannya secara sempurna.

Dari sisi lain, tradisi Timur menganggap sejarah sebagai sumber inspirasi dan ibrah bagi para penguasa dan masyarakat umum. Tradisi ini juga diyakini dalam Islam. Bahkan, dalam sebuah buku sejarah abad 17 Masehi atau 10 hijriyah, disebutkan bahwa salah satu syarat untuk memimpin masyarakat Muslim adalah mengenal sejarah dengan baik. Tak heran jika penulis buku ‘Umat Islam dan Penulisan Sejarah' menyatakan bahwa sejarah dikenal luas di tengah masyarakat Muslim dari penguasa tertinggi sampai para pegawai, ulama serta ilmuan dan semua orang yang mengerti soal budaya. Bahkan tentara didorong untuk membaca kisah perang-perang awal Islam dan biografi para tokoh. Sejarah menceritakan bahwa terkadang ilmuan sejarah diberi jabatan sebagai komandan pasukan tempur untuk memanfaatkan kisah-kisah sejarah dalam mengambil keputusan.

Kini yang menjadi pertanyaan, dari manakah datangnya kecenderungan umat Islam kepada penulisan sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu? Sebagian besar isi al-Qur'an adalah sejarah termasuk kisah-kisah peristiwa yang terjadi di zaman Nabi Saw. Abdul Alim Abdurrahman Khidr penulis ‘Umat Islam dan Penulisan Sejarah' dalam pasal ketujuh bukunya menulis:



1 next