Agama dan modernisme



Dengan memperhatikan bahwa dunia yang kita huni adalah dunia modern dan masanya adalah masa yang senantiasa mengalami perubahan. Apakah agama masih tetap laik pakai? Apa saja yang dapat dilakukan oleh agama?

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan dua tinjauan. Pertama tinjauan teoritis dan kedua tinjauan praktis.

A.            Dari sudut pandang teoritis, jawaban yang kami suguhkan bersifat ringkas bahwa manusia memiliki dua dimensi; dimensi material dan dimensi spiritual. Dimensi jasmani dan dimensi ruhani. Segala perubahan yang terjadi di dunia, lebih banyak berkaitan dengan dimensi material manusia. Adapun kebutuhan-kebutuhan spiritual dan ruhani adalah kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki manusia selama berabad-abad dan millennium. Dan mengingat bahwa agama menyoroti dimensi ruhani manusia, maka ia menyodorkan konsep-konsepnya, pada setiap kondisi dan pada seluruh situasi. Konsep yang ditawarkan agama adalah konsep yang berguna bagi manusia di setiap masa. 

B.            Adapun tinjauan praktisnya harus dikatakan bahwa tantangan modernitas dan agama bukan sebuah persoalan yang hanya dihadapi oleh Islam (ansich)! Seluruh agama berhadapan dengan persoalan ini. Pengalaman Republik Islam Iran menunjukkan bahwa rakyat Iran selama tiga puluh dua tahun menyodorkan sebuah pemerintahan modern yang berdasarkan pada konsep-konsep agama. Kita tidak berkata bahwa pemerintahan ini tidak memiliki cela, dan pada impelementasi pemerintahan tidak terjadi pelanggaran syariat, tidak seorang pun yang mengklaim demikian. Namun apa yang mengemuka adalah bahwa asas pemerintahan ini dan kriteria-kriterianya berpijak pada konsep-konsep agama; artinya rakyat Iran menjadikan sumber kekuasaannya berdasarkan konsep-konsep agama. Dalam filsafat politik Republik Islam Iran, kami jelaskan peran rakyat berdasarkan sebuah penafsiran tentang kedudukan rakyat dalam pandangan agama.

»  

Sebelum menjelaskan inti jawaban kiranya kami perlu mengingatkan bahwa pertanyaan ini tidak semata-mata terbatas pada Iran, melainkan pada kenyataannya bahwa setelah hidupnya pemikiran-pemikiran agama di dunia – yang bermula berkat Revolusi Islam – pertanyaan ini telah berubah menjadi pertanyaan global.

Pada tahun 2008, bertempat di Davos Swiss, pada World Economic Forum yang membahas tentang agama dan modernitas, pertanyaan utama yang mengemuka pada forum tersebut adalah apakah agama masih memiliki tempat pada dunia modern?

Chairman pertemuan itu adalah Toni Blair. Partisipan lainnya adalah Abdullah Badawi, Perdana Menteri Malaysia dan beberapa figur terkenal dari Amerika. Pertanyaan tersebut telah dijawab[1] bahwa kita dapat membahas persoalan ini dalam dua tinjauan: Pertama, tinjauan teoritis. Kedua tinjauan praktis.

A.            Dari sudut pandang teoritis, jawaban yang kami suguhkan bersifat ringkas. Namun jawaban ini juga tetap memerlukan perincian bahwa manusia memiliki dua dimensi; dimensi material dan dimensi spiritual. Dimensi jasmani dan dimensi ruhani. Segala perubahan yang terjadi di dunia, lebih banyak berkaitan dengan dimensi material manusia. Dan kebutuhan-kebutuhan ruhani adalah kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki manusia selama berabad-abad dan millennium. Mengingat bahwa agama menyoroti dimensi ruhani manusia, maka ia menyodorkan konsep-konsepnya, pada setiap kondisi dan pada seluruh situasi. Konsep yang ditawarkan agama adalah konsep yang berguna bagi manusia di setiap masa.  Namun tipologi dan karakteristik Islam di antara agama-agama dan mazhab Ahlulbait As di antara ragam penafsiran yang terdapat dalam Islam menyatakan bahwa Islam tidak hanya berkutat pada dimensi ruhani saja, melainkan juga mengurusi dimensi jasmani manusia. Islam memandang tautan antara dimensi jasmani dan ruhani adalah memiliki satu tautan yang sangat dekat, bahkan berkelindan satu dengan yang lain.  Apabila manusia pada dimensi jasmani berhadapan dengan seabrek persoalan, hal itu boleh jadi akan memberikan pukulan berarti pada dimensi ruhani manusia, sebagaimana meningkat atau menurunnnya berpengaruh penting dalam kehidupan material manusia. Ajaran-ajaran agama Islam menegaskan bahwa apabila manusia kuat imannya maka rezekinya akan melimpah. Dalam Islam ditegaskan hubungan antara urusan jasmani dan ruhani. “Kada al-faqru an yakuna kufran”  apabila manusia terpotong rezekinya maka boleh jadi ia akan menjadi kafir.”[2] Demikianlah hubungan antara jasmani dan ruhani. Islam dengan pandangan “Al-Dunyâ mazra’at al-Akhira[3] menghendaki kita menata dunia sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan akhirat kita. Demikianlah tinjauan teoritis masalah ini. Masalah ini menuntut pembahasan yang lebih jeluk dan luas yang tentu saja mengingat ruang dan waktu yang terbatas tidak akan kita bahas di sini.

Harap diperhatikan bahwa sebagaimana yang telah kami sampaikan[4] bahwa agama adalah sebuah hakikat  yang akan menyampaikan manusia dari sumber tempat manusia diciptakan kepada tujuan dan maksud penciptaannya. Hakikat ini menyoroti seluruh dimensi eksistensial manusia dalam pelbagai situasi dan kondisi. Namun naskah pamungkas hakikat ini yaitu agama terakhir (Islam) terdapat pada madrasah Ahlulbait As yang mencakup seluruh dimensi manusia pada setiap situasi dan kondisi.



1 2 next