Nabi Muhammad Saw; masa kelahiran dan pertumbuhannya



Indikasi Tumbangnya Masyarakat Musyrik

Kerusakan dan kezaliman telah mengkristal di tengahtengah masyarakat Arab di saat sebelum pengutusan Nabi saw. Tak ada satu pun gerakan massa dan tak ada pula karakter-karakter sosial dan kultural yang diciptakan oleh tabiat kehidupan padang pasir yang mampu menghentikan keadaan lemah dan lesu (yang menyeret pada kehancuran). Pelbagai indikasinya telah tampak di tengah-tengah semenanjung Arab. Meski muncul pelbagai aliansi yang merupakan fenomena sosial untuk menentang kelemahan itu, namun keragamannya menunjukkan hilangnya ke kuatan sentral di masyarakat. Kita tidak menemukan satu pun gerakan reformasi yang tercatat dalam sejarah yang berusaha bangkit di tengah masyarakat dan mengajak mereka menuju kehidupan ideal selain gerakan sebagian individu. Gerakan individual ini merupakan ekspresi penolakan terhadap kelemahan dan kezaliman sosial tersebut. Hanya saja, gerakan yang dilakukan oleh sebagian kecil anggota masyarakat Arab ini tampak

tidak „menggigit dan tidak termanifestasi ke dataran teoritis atau gerakan reformis yang aktif di masyarakat. Keretakan masyarakat Quraisy pun dapat kita lihat pada perselisihan mereka seputar pembangunan Ka’bah. Padahal saat itu, kaum Quraisy termasuk kabilah Arab yang paling mulia dan paling solid. Dan kita dapat berargumentasi atas keterpurukan masyarakat dalam kerusakan melalui pelbagai peringatan yang berulang kali dari kaum Yahudi yang tinggal di semenanjung Arab dan informasi yang mereka sebar terhadap penduduk Arab tentang kedatangan seorang reformis dan juru selamat manusia yang membawa risalah langit. Kaum Yahudi berkata kepada mereka, „Sungguh akan datang seorang nabi dan dia akan benar-benar menghancurkan berhalaberhala kalian.

 

Keimanan Orang Tua Nabi saw

Nabi saw dilahirkan dan tumbuh di tengah-tengah keluarga yang bertauhid, berakhlak mulia serta berkedudukan tinggi. Keimanan Abdul-Muththalib, kakeknya, dapat kita lihat pada pembicaraan dan doanya; saat Abrahah, Raja Habsyah mencoba untuk menghancurkan Ka’bah. Saat itu, Abdul-Muththalib tidak berlindung kepada berhala, tetapi beliau bertawakal kepada Allah untuk melindungi KaÂbah. Bahkan kita dapat mengatakan bahwa Abdul- Muththalib telah mengetahui ihwal Nabi saw dan masa depannya yang berkaitan dengan langit melalui berbagai riwayat yang menegaskan hal itu. Dan perhatiannya tampak kepada Nabi saw ketika dia berdoa untuk meminta hujan dengan bertawasul kepada Nabi saw, padahal saat itu beliau masih menyusu. Yang demikian itu karena Abdul-Muththalib mengetahui kedudukan beliau di sisi Allah Yang memberikan nikmat dan Yang menganugerahi rezeki. Bukti yang lain adalah peringatannya terhadap Ummu Aiman agar ia jangan sampai lalai dari menjaganya saat beliau kecil. Demikian juga keadaan pamannya Abu Thalib yang selalu menjaga Nabi saw dan mendukungnya untuk menyam pai kan risalah dan secara terang-terangan mendakwahkannya. Abu Thalib tetap mendukung Rasulullah saw sampai akhir hayatnya yang penuh berkah, meskipun karena itu beliau menanggung pelbagai gangguan dan boikot dari kaum Quraisy serta dikepung di lembah Syi’ib. Kita dapat memahami hal ini dari berbagai riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Thalib dalam beberapa sikap yang berhubungan dengan tekad kuatnya untuk menjaga keselamatan hidup Nabi saw. Adapun kedua orang tua Nabi saw, berbagai riwayat menunjukkan bahwa mereka berdua anti terhadap syirik dan berhala. Cukuplah sabda Nabi saw berikut ini sebagai dalilnya, „Aku senantiasa berpindah dari sulbi-sulbi priapria suci ke rahim wanita-wanita suci. Sabda beliau tersebut mengisyaratkan kepada kesucian para orang tua dan ibu-ibu beliau dari setiap nista dan syirik.

 

Kelahiran Rasulullah saw

Agama Kristen tidak dapat merealisasikan tujuantujuannya di tengah masyarakat manusia dan tidak mempunyai suatu langkah efektif untuk menyelesaikan badai kesesatan dan penyimpangan yang melanda dunia. Kala itu, semua manusia berada dalam kesesatan fitnah dan kebingungan, sehingga mereka mudah diperdaya oleh kepandiran orang-orang yang dungu. Dan situasi Romawi tidak kalah buruknya dengan musuh mereka di Persia. Bahkan, keadaan semenanjung Arab tidak lebih baik dari keduanya. Alhasil, semua berada dalam tepi jurang api. Al-Quran telah menggambarkan secara memukau tragedi yang dialami manusia saat itu. Demikian juga penghulu Ahlulbait, Ali bin Abi Thalib as·dalam beberapa khotbahnya·melukiskan tragedi yang mengenaskan saat itu dengan suatu lukisan yang terukur, sentimental dan aktual. Di antaranya, penjelasan beliau tentang keadaan masyarakat sebelum diutusanya Nabi saw, „Allah mengutusnya saat terjadinya masa vakum dari para rasul, umat-umat terlelap dalam tidur panjang, dan fitnah semakin berkobar serta tersebarnya berbagai persoalan dan berkecamuknya berbagai peperangan. Dunia kala itu tampak tak bercahaya, kesombongan merajalela, dedaunan mulai layu, buahnya mulai tumbang, dan airnya mulai mengering. Menara-menara petunjuk telah lenyap dan agen-agen kejahatan bermunculan. Mereka bermuka masam di hadapan pendukung dan pencari kebenaran. Mereka mengobarkan fitnah. Makanan mereka bangkai, slogan mereka kecemasan dan selimut mereka adalah pedang. Dalam keadaan pelik yang dilalui oleh manusia itu, terbitlah cahaya Ilahi yang menerangi manusia dan negeri, dan mengabarkan berita gembira tentang kehidupan yang mulia dan kebahagiaan yang abadi. Itu terjadi ketika bumi Hijaz diberkati oleh kelahiran seorang Nabi yang mulia, Muhammad bin Abdillah as pada Tahun Gajah (570 M) dan pada bulan Rabiul-Awwal, sebagaimana disepakati oleh mayoritas ahli hadis dan sejarawan. Berkenaan dengan hari kelahirannya, Ahlulbait beliau telah menetapkannya, dan mereka lebih tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi di rumah. Mereka mengatakan, „Beliau dilahirkan pada hari Jumat, tanggal tujuh belas Rabiul-Awwal setelah terbit fajar. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan Imamiah. Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin, tanggal dua belas Rabiul-Awwal. Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa peristiwa yang unik di hari kelahiran beliau. Misalnya, padamnya api kaum Persia, gempa yang dialami manusia hingga hancurnya berbagai gereja dan peribadatan kaum Yahudi, serta robohnya berbagai hal yang disembah selain Allah Azza Wajalla dari tempatnya, dan tumbangnya berbagai berhala yang diletakkan di Ka’bah. Peristiwa tersebut membuat para tukang sihir dan para dukun terbelalak dan tak berdaya untuk menafsirkannya. Serta terbitlah bintangbintang yang tak terlihat sebelumnya. Demikianlah Muhammad saw lahir dan berkata, „Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah dengan suatu pujian yang banyak dan Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang. Nabi terkenal memiliki dua nama, „Muhammad dan „Ahmad. Al-Quran menyebutkan kedua nama tersebut. Para sejarawan meriwayatkan bahwa kakeknya Abdul- Muththalib menamakannya „Muhammad. Dan ketika beliau ditanya tentang sebab penamaan tersebut, beliau menjawab, „Aku ingin ia (Muhammad) dipuji di langit dan di bumi. Sebagaimana ibunya·sebelum kakeknya· menamakannya „Ahmad. Melalui lisan Nabi Isa as, Injil pun telah memberitakan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw sebagaimana hal ini dikemukakan oleh al-Quran dan dibenarkan oleh Ahlulkitab. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman, „Dan memberi kabar gemberi dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad). Dalam tradisi bangsa Arab dan selainnya, tidak ada masalah bila seseorang memiliki dua nama dan dua julukan.



1 2 next