Dukungan Bani Hasyim terhadap Nabi Saw



 

Pembelaan Abu Thalib terhadap Rasulullah saw dan Islam

 

Rasulullah saw bukan hanya tidak mengendurkan penye baran risalah Islam, bahkan aktivitas beliau di bidang ini justru semakin meluas. Gerakan beliau dan gerakan para pengikutnya yang beriman padanya pun semakin bervariasi dan meningkat. Maka, agama baru ini semakin menarik banyak orang. Kaum Quraisy mulai menampakkan kemarahannya. Mereka pun menyusun berbagai rencana untuk membendung gelombang pasang ini (Islam) dan menghabisinya. Terkadang mereka berusaha „memanfaatkan Abu Thalib, terkadang pula mereka menggelar berbagai iming- iming untuk memuaskan Rasul agar ia menghentikan dakwahnya dan menarik kembali agamanya, dan terkadang mereka mengunakan ancaman. Mereka berkata kepada Abu Thalib, „Hai Abu Thalib, engkau adalah sesepuh kami dan memiliki kehormatan di antara kami, dan kami telah meminta kamu untuk membujuk kemenakanmu tapi kamu tidak melakukannya. Dan kami demi Allah, tidak dapat bersabar lagi atas hal ini di mana ia (Muhammad) mencela nenek moyang kami dan menganggap kami bodoh serta mempermalukan tuhan-tuhan kami. Ini adalah kesempatan terakhir, apakah engkau memang mau menghentikannya atau kita masuk dalam pertarungan sehingga salah satu di antara kita akan hancur? Dari situ, pemimpin Bani Hasyim (Abu Thalib) mengetahui keputusan tegas kaum Quraisy dan mereka tidak segan-segan menggunakan pelbagai cara untuk membunuh kemenakannya dan agamanya yang masih muda. Oleh karena itu, beliau terkadang berusaha menenangkan situasi, dan terkadang meredam emosi kaum Quraisy sehingga beliau dapat mengambil sikap yang tepat bersama kemenakannya. Tetapi Rasulullah saw bersikeras untuk meneruskan dakwah dan risalah Islam dalam rangka melaksanakan perintah-perintah Allah Swt·apa pun konsekuensi dan hasilnya. Beliau berkata, Wahai pamanku, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan masalah ini, niscaya aku tidak meninggalkannya sehingga Allah memenangkannya atau aku mati karenanya. Kemudian kedua mata mulia beliau berlinangan air mata. Lalu beliau pergi. Ucapan Nabi itu mempengaruhi Abu Thalib dan ia mengetahui kebenaran kemenakannya dan beriman kepadanya. Abu Thalib berkata kepada Nabi, „Pergilah wahai kemenakanku, dan katakanlah apa yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu kepada sesuatu pun selamanya. Kaum Quraisy tidak pernah menghentikan kesesatannya. Kali ini mereka datang lagi ke Abu Thalib dan memintanya untuk memperdaya Rasulullah saw Kalau ini berhasil, mereka akan memberinya pemuda Mekkah yang paling tampan sebagai ganti kemenakannya yang diserahkan Abu Thalib pada mereka. Mereka berkata kepadanya, Wahai Abu Thalib, Imarah bin Walid ini adalah pemuda Quraisy yang paling memikat dan paling tampan. Ambillah sehingga engkau dapat memanfaatkan kecerdasannya dan bantuannya. Jadikanlah ia anakmu, karena ia milikmu. Lalu serah kan kemenakanmu ini kepada kami karena ia telah mencerai-beraikan sekelompok kaummu dan menghina mereka. Kemudian masing-masing kami ikut serta dalam membunuhnya. Abu Thalib menolak permintaan mereka dan beliau tampak marah sekali atas ketidakadilan ini. Beliau berkata, Demi Allah, ini adalah seburuk-buruk perlakuan kalian terhadapku. Apakah kalian akan memberikan anak kalian lalu aku membesarkannya untuk kalian, kemudian aku memberikan anakku untuk kalian bunuh. Demi Allah, ini tidak akan pernah terjadi. Muth’im bin Adi bin Naufal berkata, Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah bersikap adil padamu. Saya heran mengapa engkau sama sekali tidak menerima pendapat mereka. Abu Thalib menjawab, Demi Allah, mereka tidak berlaku adil padaku. Tetapi engkau bersepakat untuk memperdaya aku dan mengajak kaum untuk menentangku. Lakukanlah apa saja yang engkau sukai. Kaum Quraisy mulai sadar bahwa tidak ada jalan lagi bagi mereka untuk memuaskan Abu Thalib agar ia mau mem perdaya Rasulullah saw. Ketika melihat kejahatan meme nuhi jiwa kaum Quraisy, Abu Thalib segera mengambil langkah-langkah pencegahan (preventif) untuk menjamin keselamatan kemenakannya dan kesinambungan upayanya dalam menyebarkan agamanya. Beliau mengajak Bani Hasyim dan Bani Abdul-Muththalib untuk membentengi Rasulullah saw, menjaga dan melindunginya. Mereka memenuhi ajakannya kecuali Abu Lahab. Abu Thalib memaksimalkan sikap Bani Hasyim dan mendorong mereka dan semakin membulatkan tekad mereka untuk terus melindungi Nabi saw.

 

Sikap Kaum Quraisy terhadap Islam dan Rasulullah saw

Banyak ayat al-Quran yang turun selama empat tahun dari gerakan risalah. Ayat-ayat tersebut mengandung penjelasan tentang tauhid dan ajakan kepadanya. Di samping itu, al-Quran juga berisi balaghah (keindahan sastra) yang tak tertandingi dan peringatan serta ancaman kepada para penentangnya, sehingga ia menjadi buah bibir di masyarakat dan memenuhi hati kaum Mukmin serta orang yang dekat ataupun yang jauh tertarik untuk mendengarkannya dan memahaminya. Karena aspek kefasihan (balaghah) memiliki pengaruh paling besar pada jiwa, maka kaum Quraisy menetapkan untuk berusaha mempersempit gerakan Nabi saw dengan berbagai sarana. Mereka, misalnya, melarang Nabi saw untuk melakukan komunikasi dengan khalayak dan berdakwah di tengah-tengah mereka. Sebab, mereka khawatir orang yang datang ke Mekkah akan dapat mendengar ayat-ayat al-Quran yang turun. Yang demikian itu mereka lakukan karena mereka telah gagal merayu (mengiming-imingi) Nabi saw dengan kerajaan, kekuasaan dan harta yang melimpah serta kemuliaan. Kemudian, mereka menyertai hal itu dengan meragukan kebenaran dakwah Nabi saw. Mereka mengklaim bahwa Nabi saw terjangkit suatu penyakit; di mana mereka berusaha menyembuhkannya. Kemudian Nabi saw memberikan jawaban yang penuh dengan  kebaikan, kemuliaan dan kedamaian bagi mereka. Beliau berkata, „Hendaklah kalian mengucapkan satu kalimat yang dengannya bangsa Arab beragama, dan dengannya kaum Ajam (non-Arab) memberikan jizyah (upeti) kepada kalian. Lalu mereka takut terhadap pernyataan Nabi saw, dan mereka mengira bahwa itu merupakan akhir dari segala sesuatu... Nabi saw berkata, Tiada Tuhan selain Allah... Sikap Nabi itu sangat menciutkan nyali mereka. Lalu mereka berdiri dengan penuh kesombongan sambil  berkata, Apakah ia hendak menjadikan bermacam-macam tuhan menjadi satu tuhan. Sesungguhnya ini adalah hal yang sangat mengherankan.

Maka, saat itu mereka menetapkan untuk menggunakan logika kekerasan, penghinaan, dan intimidasi terhadap Nabi saw dan para pengikutnya, yang hari demi hari makin bertambah dan dakwah beliau semakin mengkristal dalam berbagai jiwa. Termasuk yang mewakili sikap mereka adalah apa yang dilakukan oleh Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil. Keduanya menebar duri di pintu rumah Nabi saw dan  rumah Nabi saw bersebelahan dengan rumah keduanya. Abu Jahal pun mulai melawan dan mengganggu Nabi saw dengan perkataannya yang keji. Namun, Allah Swt selalu mengawasi orang-orang yang lalim. Sebab, Hamzah, paman Nabi, ketika mengetahui hal itu, ia membalas penghinaan Abu Jahal di hadapan khalayak kaum Quraisy, dan ia jelas-jelas menyatakan keislamannya. Bahkan ia menantang dan mengancam mereka bahwa siapa pun di antara mereka yang menggangu Rasulullah saw, ia-lah orang pertama yang akan menghadapinya.

 

Kaum Kafir Menolak untuk Mengikuti Akal



1 2 3 4 next