Untuk Apa Nabi saw Diutus?



Allah Swt mengutus Nabi-Nya, Muhammad di masa kevakuman para rasul as. Beliau merupakan penutup para nabi dan penghapus syariat para rasul as yang datang sebelumnya. Beliau diutus untuk seluruh manusia, baik yang berkulit hitam maupun yang berkulit putih; baik orang Arab maupun orang Ajam (non-Arab). Dan waktu itu, bumi dari arah Barat dan Timur dipenuhi dengan aneka mitos (khurafat) dan pelbagai kebohongan, bidah, kekejian dan penyembahan berhala. Lalu Rasulullah saw mengajak seluruh masyarakat dunia untuk beriman kepada Allah Yang Mahaesa, Yang Memberi rezeki dan Pemilik segala urusan. Di tangan Nya-lah manfaat dan mudarat. Tiada sekutu dalam kerajaan-Nya; tiada pembantu yang hina bagi-Nya; tiada

istri bagi-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada sesuatupun yang semisal dengan-Nya. Rasulullah saw diutus agar ia memerintahkan manusia menyembah Allah Swt dan tidak menyekutukan-Nya. Ia diperintahkan untuk menghancurkan penyembahan berhala dan patung yang tidak mendatangkan manfaat dan madarat, tidak berakal, tidak mendengar serta tidak dapat membela dirinya sendiri, apalagi selainnya. Beliau juga diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, dan diperintahkan untuk memerintahkan kebaikan dan meninggalkan segala keburukan.

 

Kemudahan Syariat Islam dan Kemuliaannya

Manusia hanya diminta untuk mengatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat serta berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan haji ke Baitullah dan berpegang teguh dengan hukumhukum Islam. Dan dengan hanya mengucapkan dua kalimat syahadat (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah), maka seseorang dianggap Muslim dan ia memiliki semua hak yang ada pada kaum Muslim.

 

Keagungan Ajaran Islam

Nabi saw diutus untuk menyampaikan persamaan hak di antara semua orang dan tiada seorang pun yang lebih utama dari lain kecuali dengan ketakwaan. Beliau juga diutus untuk menciptakan persaudaraan di antara semua kaum Mukmin, dan bahwa masing-masing mereka sebanding dengan yang lain di mana masyarakat lapisan bawah pun merasa terlindungi. Beliau juga diutus untuk memberikan amnesti massal kepada siapa pun yang masuk Islam. Beliau membawa syariat yang mengagumkan dan undang-undang yang adil yang diterimanya dari Allah Swt. Undang-undang ini mencakup hukum-hukum ibadah dan muamalah serta apa saja yang mereka butuhkan dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka. Jadi, undangundang tersebut mengandung aspek ibadah, sosial, politik, dan akhlak. Dengan kata lain, apa pun yang akan mungkin terjadi pada kehidupan manusia di masa mendatang, dan apa pun yang diperlukan oleh mereka, pasti telah dibahasnya. Dengan demikian, tak ada peristiwa yang terjadi kecuali syariat Islam memiliki dasar yang pasti yang dapat dirujuk oleh kaum Muslim. Ibadah dalam agama Islam tidak hanya terfokus pada ibadah lahiriah, bahkan di dalamnya terdapat manfaat fisik, sosial, dan politik. Bersuci, misalnya, mengandung makna kebersihan, dalam salat terdapat unsur latihan spiritual dan fisik. Sedangkan dalam salat jamaah dan haji terdapat banyak manfaat sosial dan politik, dan dalam puasa terdapat manfaat kesehatan yang tak dapat dipungkiri. Namun perlu diketahui bahwa memahami manfaat-manfaat lahiriah hukum-hukum Islam, apalagi yang hukum-hukum yang batin (tersembunyi) adalah hal yang sulit. Dan karena dalam agama ini terdapat keindahan dan kebaikan, dan hukum-hukumnya sesuai dengan akal dan mudah serta penuh dengan toleransi dan cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislaman, dan karena di dalam ajaran-ajarannya terdapat keagungan, kepastian dan keseriusan, maka banyak manusia yang masuk Islam secara berbondong-bondong. Kemudian umat Islam memenuhi mayoritas negeri di muka bumi. Dan cahayanya menembus timur dan barat bumi, dan semua negeri tersebut dan daerah-daerah bagiannya tunduk di bawah panjinya. Pelbagai umat justru didekatkan oleh Islam meskipun mereka memiliki keragaman unsur dan bahasa. Tak perlu banyak waktu bagi seorang lelaki itu untuk memasuki Mekkah sebagai penakluk dan pemenang, di mana beliau menguasai penduduknya tanpa ada pertumpahan darah sebelumnya walaupun setetes. Padahal beliau tadinya terusir secara sembunyi-sembunyi dari Mekkah, dan para sahabatnya disiksa dan dihinakan serta dijauhkan dari agama mereka, sehingga terkadang

mereka pergi ke Habasyah secara sembunyi-sembunyi dan terkadang pergi ke Madinah juga secara rahasia. Akhirnya, mereka masuk Islam, baik secara tunduk maupun secara terpaksa. Dan pelbagai tokoh Arab delegasi demi delegasi datang kepada beliau dan menyatakan ketundukannya. Sebelum penaklukan kota Mekkah, beliau mengirim para utusan dan para dutanya ke raja-raja di muka bumi seperti Kisra, Kaisar dan selain mereka berdua. Beliau mengajak mereka pada Islam. Bahkan beliau memerangi negeri Kaisar, meskipun jaraknya jauh. Agamanya unggul atas semua agama sebagaimana dijanjikan oleh Tuhannya. Hal ini dijelaskan oleh Allah Swt dalam surah an-Nashr, al-Fath dan selainnya dan sebagaimana hal itu dicatat dalam kitab-kitab sejarah. Agama ini tidak ditegakkan di atas pedang dan kekerasan sebagaimana dibayangkan oleh mereka yang ingin merusak citranya, tapi sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt, "ā€¨Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Dan Nabi saw tidak memerangi penduduk Mekkah dan seluruh bangsa Arab sehingga mereka yang lebih dahulu memeranginya dan ingin membunuh dan mengusirnya. Dan para pemuka agama lain yang turun kepada mereka kitabkitab samawi mengakui agama umat Islam, sementara Nabi saw tidak memaksa mereka untuk masuk dalam Islam.

 



1 2 next