SYAFAAT; Ajaran Otentik Islam (1)



 

(kutipan pertama)

Penyusun: Markaz Al-Risalah

Penerjemah: Ahmad Hafidh Alkaf

 

Prakata Penyusun

Di masa hidup Nabi Muhammad SAWW, semua persoalan akidah merupakan masalah yang jelas dan gamblang serta tidak diperumit oleh pembuktian-pembuktian teologis atau filosofis. Hal demikian itu disebabkan oleh belum adanya sumber fitnah yang dapat mencabik-cabik persatuan kaum muslimin pada masa itu. Sedangkan permasalahan seputar akidah, biasanya muncul dari syubhah (isu) yang dilontarkan oleh kaum Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), kesalahpahaman sebagian kaum muslimin akan makna yang dimaksud oleh beberapa ayat Al-Quran, kedangkalan berpikir sebagian dari mereka, atau ketidaktahuan mereka tentang banyak hal yang telah diajarkan oleh Nabi SAWW.
Semua faktor di atas tidak banyak mempengaruhi akidah murni Islam pada masa itu karena Nabi SAWW hadir di tengah-tengah kaum muslimin dan selalu tanggap terhadap segala hal yang mungkin dapat merongrong persatuan umatnya. Setiap kali ada permasalahan, beliau akan bergegas menjelaskan segala sesuatunya kepada mereka.
Namun, sunnah Allah yang berlaku untuk semua hamba-Nya menentukan bahwa semua yang hidup pasti akan mati dan berpulang kepada-Nya, termasuk kekasih dan nabi-Nya. Di lain pihak, ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi SAWW menjelaskan bahwa risalah Islam adalah agama dan syariat terakhir yang diturunkan Allah untuk umat manusia dan akan selalu relevan hingga hari kiamat nanti. Oleh karena itu, sangatlah mustahil jika dikatakan bahwa Nabi SAWW wafat dengan membiarkan agamanya menjadi sasaran tipu daya para musuhnya. Sangat mustahil bila beliau wafat tanpa menunjuk seorang pengganti yang siap melanjutkan misi beliau dalam menjaga keutuhan risalah, menolak semua gangguan, dan menjawab semua tudingan yang mengarah kepadanya. Dari sini, kita dapat memahami mengapa beliau SAWW begitu memberi penekanan secara berulang-ulang ketika mengenalkan kedudukan tinggi Ahlul Bait a.s. --keluarga suci Nabi SAWW-- kepada umatnya berikut tugas agung mereka sepeninggalnya. Di antara hadis beliau dalam hal ini adalah hadis tsaqalain yaitu sebagai berikut.
إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل بيتي ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبدا
Artinya: Kutinggalkan untuk kalian dua buah pusaka, yaitu kitabullah dan keluargaku. Jika kalian berpegangan pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.
Nabi Muhammad SAWW berhasil menyampaikan misi kenabiannya dalam menyampaikan ajaran risalah Islam dan menjaganya dari penyimpangan yang sangat mungkin terjadi. Namun, saat beliau SAWW hendak berpamitan dengan umat dan pergi menghadap Sang Penguasa Alam, arus perselisihan pada tubuh kaum muslimin datang dengan bergelombang dan membesar setelah beliau wafat. Perselisihan itu sedemikian hebatnya sehingga merambat ke berbagai permasalahan prinsipil yang menyangkut akidah Islamiah. Keadaan ini diperparah oleh interaksi antarbangsa akibat dari semakin luasnya wilayah teritorial negeri Islam dan masuknya berbagai pemikiran filosofis bangsa Persia dan Romawi ke dalamnya. Gerakan penerjemahan dan perkembangan ilmu kalam (teologi) adalah buah yang dihasilkan oleh keadaan tersebut, meskipun banyak bukti yang menunjukkan bahwa bibit ilmu teologi sudah ada sejak awal masa kemunculan Islam.
Akibat yang wajar dari interaksi yang terjadi antara ideologi Islam dan ideologi lainnya adalah masuknya berbagai istilah dan argumentasi teologi di luar Islam ke dalam pemikiran kaum muslimin. Dari sinilah muncul perselisihan dan pertentangan hebat --menyangkut berbagai masalah teologi-- di kalangan umat Islam yang menunjukkan betapa kaum muslimin telah jauh dari Ahlul Bait Nabi SAWW, pusaka peninggalan Rasul SAWW yang kedua setelah Al-Quran. Padahal, beliau SAWW telah berwasiat kepada kaum muslimin semua untuk berpegangan pada keduanya demi memahami hakikat agama Islam.
Banyak permasalahan teologi yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin sejak dahulu. Namun, di masa-masa berikutnya muncul sekelompok orang yang menentang kesepakatan tersebut, baik karena telah termakan oleh rayuan hawa nafsu, ataupun karena mereka sama sekali asing dari metode yang benar dalam sebuah pengkajian dan penelitian ilmiah. Salah satu dari permasalahan teologi ini adalah masalah syafaat.
Syafaat merupakan sebuah anugerah dan kemurahan Ilahi yang diperoleh melalui doa mustajab (yang dikabulkan) Nabi SAWW untuk umatnya yang berdosa, di hari kiamat nanti. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa syafaat ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hak khusus Nabi Muhammad SAWW dan ada juga yang menjadi hak para nabi yang lain, bahkan para syahid di jalan Allah dan para ulama. Namun, perlu dicatat bahwa syafaat di hari kiamat ini tidak diberikan kepada semua orang yang berdosa. Mereka yang kelak akan mendapatkan syafaat harus memiliki beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Dengan demikian, jangan disalahpahami bahwa dengan adanya syafaat di hari kiamat berarti kita bebas melalaikan kewajiban dan melakukan kesalahan dan maksiat.
Buku kecil ini merupakan sebuah usaha untuk menjelaskan hakikat syafaat lengkap dengan dalil-dalilnya dan menjawab semua permasalahan yang menyangkut hal ini dengan menggunakan metode ilmiah. Semoga Allah menjadikan buku ini bermanfaat bagi para pembacanya. Amin.
Allahlah yang menunjukkan kita ke jalan yang benar.

Markaz Al-Risalah

 

Mukadimah

Sebenarnya, syafaat adalah sebuah permasalahan yang telah disinggung dalam nash-nash Al-Quran Al-Karim dan hadis mutawatir. Selain itu, para ulama pun telah menekankan kebenarannya dalam kajian-kajian ilmu kalam (teologi) mereka. Karena itu, tidak ada lagi alasan bagi seorang muslim pun untuk mengingkarinya. Namun sayangnya, pada beberapa abad terakhir, khususnya di zaman kita sekarang, muncul sebuah aliran yang mencoba mengaburkan permasalahan ini dengan menebarkan serangkaian isu yang dapat membuat sebagian orang meragukan realitas syafaat ini.
Melihat pentingnya permasalahan ini dan demi menghilangkan segala keraguan yang mungkin ada, kami berusaha untuk mengetengahkan sebuah kajian mengenai syafaat dan segala permasalahan yang berkenaan dengannya.
Dalam studi ini, kami berusaha semampu kami untuk menjadikan ayat-ayat suci Al-Quran Al-Karim dan hadis-hadis Nabi SAWW yang kebenarannya telah disepakati oleh kaum muslimin secara umum sebagai landasan dan argumen kajian.
Selain itu, kami juga berusaha untuk menjelaskan permasalahannya dengan baik sehingga mudah dipahami dan tidak terkesan mengada-ada seperti yang sering kita dapatkan dalam pembahasan mengenai syafaat ini, baik dari pihak yang menerima, ataupun yang menolak konsep syafaat ini.
Seperti yang akan Anda saksikan sendiri, buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut.
Bagian pertama adalah mengenai pengertian syafaat dalam bahasa Arab dan dalam Al-Quran Al-Karim. Dalam bagian ini kami bawakan beberapa ayat suci Al-Quran dan hadis Nabi SAWW yang berkenaan dengan masalah syafaat.
Dalam bagian kedua, akan kami ketengahkan pendapat beberapa ulama besar dari kalangan Ahlus-Sunnah dan Syi’ah, lalu akan didiskusikan kritik yang mungkin dilontarkan dalam hal ini.
Bagian ketiga memuat fenomena syafaat di dunia dan alam akhirat.
Sedangkan di bagian akhir, kami membahas mengenai para pemberi syafaat dan kriteria mereka yang berhak mendapatkannya.
Dalam seluruh kajian ini, kami berusaha untuk mempergunakan metode yang mudah dan benar dalam sebuah telaah dengan tetap menjaga nilai keilmiahan sebuah penelitian.
Semoga Allah selalu menuntun kita semua ke jalan yang lurus.

 

 

Bagian Pertama:

Syafaat dalam Bahasa, Al-Quran, dan Sunnah

Pertama: Syafaat dalam Bahasa dan Istilah

Dalam Bahasa Arab, شفع   berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Syafaat, yang diambil dari kata syafa‘a ini, dalam istilah berarti memohonkan ampunan untuk dosa yang telah diperbuat. Syafaat juga berarti permohonan ampun oleh seseorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak mendapatkannya. Jadi, syafaat Nabi SAWW atau manusia-manusia suci lainnya untuk sekelompok umat berarti doa, permohonan ampun, atau juga permintaan atas sebuah hajat ke hadirat Allah SWT untuk umat yang menerima syafaat. Ringkasnya, makna syafaat tidak jauh berbeda dari doa.

Kedua: Syafaat dalam Al-Quran Al-Karim

Dalam kitab suci Al-Quran Al-Karim, kata syafaat dipergunakan untuk menunjukkan beberapa arti yang berlainan. Jumlah seluruh ayat yang secara langsung menyebut masalah syafaat ini adalah 25 ayat yang tersebar di delapan belas surat Al-Quran. Semua ayat tadi menunjukkan arti permohonan ampun atas dosa-dosa seperti yang disebutkan dalam arti istilah syafaat yang pertama dan tidak mengacu pada permohonan akan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.

Tema syafaat dalam Al-Quran Al-Karim dapat kita bagi ke dalam dua permasalahan, yaitu sebagai berikut.



1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 next