SAYYID ALI KHAMENE’I: TENTANG YAUMUL GHADIR



 

 

Peristiwa Ghadir [1]
 yang Bersejarah
Mengenai asal peristiwa Ghadir, mereka yang menyukai kajian sejarah hendaknya tahu bahwa Ghadir Khum adalah peristiwa yang memang benar-benar telah terjadi. Tak ada keraguan di sini.

 

Bukan hanya Syiah yang meriwayatkannya tetapi juga para muhaddits dari kalangan Sunni, baik para muhaddits  Sunni terdahulu maupun masa pertengahan dan kontemporer. Mereka menukil dan meriwayatkan kisah bersejarah ini. Peristiwa ini terjadi di tempat bernama Ghadir Khum pada waktu Nabi Muhammad Saw bepergian untuk melaksanakan Haji Wada’. [2]

Sebagian anggota rombongan besar Nabi Saw berjalan di depan dan telah mendahului beliau. Nabi Saw mengirim utusan dan meminta mereka untuk kembali. Beliau sendiri memerintahkan rombongan yang bersamanya untuk berhenti di sana menantikan rombongan yang berada di belakang mereka. Terjadilah perkumpulan kolosal. Sebagian menyebutkan bahwa jumlah mereka 90 ribu orang, sebagian menyebut angka 100 ribu dan sebagian bahkan meyakini jumlah mereka yang hadir waktu itu mencapai 120 ribu orang. 

Udara saat itu panas menyengat. Bahkan, banyak orang yang meski tinggal di gurun pasir dan wilayah pedesaan yang tandus di Jazirah Arabia dan terbiasa dengan hawa panas tak kuasa menahan teriknya panas saat itu. Pasir di bawah kaki terasa membakar sehingga mereka terpaksa meletakkan kain selendang di bawah kaki sekedar untuk menawar rasa panas. Masalah ini juga disinggung dalam riwayat di buku-buku hadis Ahlussunnah. Dalam kondisi seperti itu, Nabi Muhammad Saw berdiri di hadapan mereka dan mengangkat tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) di depan umat sambil bersabda; 

«من كنت مولاه فهذا على مولاه، اللهم وال من والاه و عاد من عاداه» 

“Barang siapa meyakini aku sebagai pemimpinnya maka ini Ali adalah pemimpinnya pula. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.” 

Tentunya kata-kata Nabi Saw itu ada awal dan lanjutannya. Namun yang tadi disebutkan adalah bagian terpenting dari riwayat ini. Nabi Saw lewat sabdanya secara jelas mengangkat masalah wilayah -yakni kepemimpinan Islam-. Beliau menobatkan Amirul Mukminin Ali (as) sebagai sosok pemimpin. Masalah ini disebutkan dalam kitab-kitab yang diakui oleh saudara-saudara Sunni kita, bukan hanya dalam satu atau dua kitab saja tetapi dalam puluhan kitab mereka. Allamah Amini telah melakukan studi terkait hal ini dan hasilnya beliau catat dalam kitabnya, ‘Al-Ghadir’. Selain karya beliau tadi ada banyak kitab lain yang ditulis terkait masalah ini. 



1 2 3 4 5 next