Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk”



   

Kedudukan Hadis “Nabi SAW Melihat Allah SWT Dalam Sebaik-baik Bentuk” [1]

Sebagian orang mempercayai bahwa Allah SWT bisa dilihat di dalam mimpi, mereka berdalil dengan hadis bahwa Nabi SAW pernah melihat Allah SWT dalam sebaik-baik bentuk di dalam mimpi. Sayang sekali keyakinan mereka itu tidak berlandaskan hadis-hadis yang shahih. Hadis-hadis seputar masalah ini ternyata bersanad dhaif mudhtharib dan tidak dapat dijadikan hujjah apalagi jika hal itu berkaitan dengan aqidah atau keyakinan. Dalam tulisan ini kami akan membawakan hadis-hadis tersebut [yang dapat kami temukan] dan memaparkan illat atau penyakit dalam setiap hadisnya.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh berbagai sahabat dengan lafaz yang bermacam-macam dan semuanya dhaif

  • Riwayat Ibnu Abbas
  • Riwayat Abdurrahman bin Aaisy Al Hadhrami
  • Riwayat Muadz bin Jabal
  • Riwayat Abu Umamah
  • Riwayat Jabir bin Samurah
  • Riwayat Tsauban
  • Riwayat Abu Rafi’

Dengan mengumpulkan hadis-hadis tersebut maka lafaz-lafaz hadis tersebut dapat dibagi menjadi dua

  • Lafaz hadis yang menunjukkan bahwa Melihat Allah SWT terjadi di dalam mimpi
  • Lafaz hadis yang tidak memuat keterangan tentang mimpi

Membedakan kedua lafaz ini jelas sangat penting untuk melihat sejauh mana klaim sebagian orang bahwa fenomena ini terjadi di dalam mimpi bukan dalam keadaan sadar. Berikut akan dibahas terlebih dahulu riwayat Ibnu Abbas

Hadis Ibnu Abbas

Hadis Ibnu Abbas ini memiliki matan yang bermacam-macam diantaranya ada yang menyebutkan lafal pemuda amrad, ada yang menyebutkan Nabi melihat Allah SWT saja tanpa lafal “sebaik-baik bentuk” dan ada yang menyebutkan lafal “sebaik-baik bentuk”. Yang akan dibahas disini adalah hadis dengan lafal “sebaik-baik bentuk”

ثنا عبد الرزاق أنا معمر عن أيوب عن أبي قلابة عن بن عباس ان النبي صلى الله عليه و سلم قال أتاني ربي عز و جل الليلة في أحسن صورة أحسبه يعني في النوم فقال يا محمد هل تدري فيم يختصم الملأ الأعلى قال قلت لا قال النبي صلى الله عليه و سلم فوضع يده بين كتفي حتى وجدت بردها بين ثديي أو قال نحري فعلمت ما في السماوات وما في الأرض ثم قال يا محمد هل تدري فيم يختصم الملأ الأعلى قال قلت نعم يختصمون في الكفارات والدرجات قال وما الكفارات والدرجات قال المكث في المساجد والمشي على الاقدام إلى الجمعات وإبلاغ الوضوء في المكاره ومن فعل ذلك عاش بخير ومات بخير وكان من خطيئته كيوم ولدته أمه وقل يا محمد إذا صليت اللهم اني أسألك الخيرات وترك المنكرات وحب المساكين وإذا أردت بعبادك فتنة ان تقبضني إليك غير مفتون قال والدرجات بذل الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام

Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar  dari Ayub dari Abi Qilabah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi SAW bersabda “RabbKu Azza wa Jalla datang kepadaku malam tadi dalam sebaik-baik bentuk” –Aku mengira maksudnya adalah dalam tidur- Lalu Dia berfirman “Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Beliau berkata “tidak”. Nabi SAW bersabda “Lalu Dia meletakkan tangan-Nya diantara dua pundakku hingga aku dapati dinginnya antara dua dadaku. Atau Beliau bersabda “antara tenggorokanku”. Maka tahulah aku apa yang ada di langit dan di bumi. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?”. Beliau bersabda ‘Aku berkata “ya , mereka bertengkar mengenai Al Kafarat dan Ad Darajat?”. Apa itu Al Kafarat dan Ad Darajat?. Diam di masjid, berjalan kaki untuk berjama’ah, menyempurnakan wudhu dalam kondisi tidak menyenangkan, barangsiapa melakukan hal itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik. Dia bersih dari dosa seperti baru dilahirkan Ibunya. Dan katakanlah wahai Muhammad bila kamu selesai shalat “Ya Allah sesungguhnya aku memohon KepadaMu kebaikan-kebaikan, meninggalkan hal yang mungkar dan cinta kepada orang-orang miskin. Dan bila Engkau menginginkan fitnah bagi para hambamu maka cabutlah nyawaku kepadaMu dengan tanpa fitnah”. Dan Ad Darajah adalah dengan memberikan makanan, meyebarkan salam dan shalat malam saat manusia tidur”. [Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad 1/368 no 3484 dan Sunan Tirmidzi 5/366 no 3233]

Syaikh Ahmad Syakir menyatakan bahwa hadis ini shahih sedangkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mendhaifkannya. Hadis ini tidaklah shahih karena sanadnya munqathi’ (terputus). Abu Qilabah tidak mendengar dari Ibnu Abbas. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 5 no 388 dan disebutkan pula oleh Al Hafiz Abu Sa’id Al ‘Alaiy dalam Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasiil no 362.

حدثنا محمد بن بشار حدثنا معاذ بن هشام حدثني أبي عن قتادة عن أبي قلابة عن خالد بن اللجلاج عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال أتاني ربي في أحسن صورة فقال يا محمد قلت لبيك ربي وسعديك قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت ربي لا أدري فوضع يده بين كتفي فوجدت بردها بين ثديي فعلمت ما بين المشرق والمغرب قال يا محمد فقلت لبيك رب وسعديك قال فيم يختصم الملأ الأعلى ؟ قلت في الدرجات والكفارات وفي نقل الأقدام إلى الجماعات وإسباغ الوضوء في المكروهات وانتظار الصلاة بعد الصلاة ومن يحافظ عليهن عاش بخير ومات بخير وكان من ذنوبه كيوم ولدته امه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Qatadah dari Abi Qilabah dari Khalid bin Al Lajlaaj dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW yang bersabda “RabbKu mendatangiku dalam sebaik-baik bentuk”. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “Aku penuhi panggilanMu Ya Rabb”. Dia berfirman “tentang apakah Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Aku menjawab “Wahai RabbKu aku tidak tahu”. Maka Dia meletakkan tangan-Nya diantara kedua pundakku, ketika itu aku merasakan dingin diantara kedua dadaku dan aku mengetahui apa yang ada antara timur dan barat. Kemudian Dia berfirman “Wahai Muhammad”. Aku menjawab “Aku penuhi panggilanMu Ya Rabb”. Dia berfirman “tentang apakah Al Mala’ul A’la (para malaikat) bertengkar?. Aku menjawab “Tentang Ad Darajat dan Al Kafarat, melangkahkan kaki menuju shalat berjama’ah, menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, duduk menunggu setelah shalat. Maka barangsiapa yang melakukan itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik serta bersih dari dosa seperti baru dilahirkan oleh ibunya. [Sunan Tirmidzi 5/367 no 3234]



1 2 3 4 5 6 7 8 9 next