STUDY ILMIAH TENTANG AL-QUR’AN



 

KRITIK HISTORY ALQUR’AN DAN PEMAHAMAN KEMUTLAKAN

Oleh: SA. Ramadhan

Keyakinan yang mendarah daging dalam hati sebagian umat islam bahwa alqur’an adalah produk Tuhan yang tak bisa dibantah, dijamah dan dikritik dari berbagai segi adalah sangat memprihatinkan. Terlebih lagi pemahaman yang mengatakan bahwa, pemegang otoritas tertinggi pemaknaan kitab suci berada dalam genggaman satu orang dan bersifat sentralistik, (seperti dikatakan sdr. Jakvar Shadiq  dan Samik Jengguk (aktivis al-muhibbin, Probolinggo dalam diskusi bertajuk: Dekontruksi Nalar Islam Arab Menuju Nalar Islam Indonesia, Rabu 4/11/09).

Baik sengaja dikondisikan maupun lewat doktrin-doktrin para kaki tangan penguasa, sikap seperti ini sudah ada sejak beberapa abad lampau dan diteruskan hingga kini oleh orang orang pengkhayal pada kejayaan zaman nabi dulu. Penguasa yang dimaksud dalam hal ini bisa berupa individu yang duduk dipemerintahan dan punya tujuan tujuan politik atau para ulama yang mengklaim dirinya orang paling dekat dengan Tuhan.

Penskralan terhadap Alqur’an yang keberadaannya diselimuti oleh ruang dan waktu justru akan membuat yang bersangkutan menjadi permata yang sulit untuk dipegang apalagi dikritik dipentas ilmiah. Akibatnya bisa ditebak, pengkafiran dan pensesatan atau minimal tidak mau bicara, dengan mudah dituduhkan terhadap individu yang berani mengkritisi Alqur’an. Jangankan menelaah secara kritis isi dan kandungan alqur’an, kritik terhadap sejarah (history) keberadaannya saja sudah menjadi barang haram dan bisa dihalalkan darahnya.

Padahal, saat ini gagasan kritik terhadap historysitas Alqur’an semakin menarik untuk didiskusikan. Setidaknya hal itu tercermin dengan menjamurnya tulisan baik makalah maupun buku yang membahas tema tersebut. Tulisan ini mencoba ikut meramaikan gagasan kritik Alqur’an, terutama berkaitan dengan aspek historisitasnya. Pertama kali yang perlu kita pahami adalah bahwasanya umat Islam itu meyakini Alqur’an (Alqur’an yang kita terima sekarang adalah mushaf usmani) sebagai firman Tuhan, dan karenanya sakral, absolut, mutlak, dan umat manusia harus meyakininya. Kontan saja umat Islam tidak berani mengkritiknya. Pelarangan kritik Alqur’an sebetulnya hanyalah siasat politik bangsa Arab-Quraisy (termasuk kaum intelektualnya seperti Imam Syafi’i) sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat dan mempertahankan hegemoninya atas nalar Islam, khususnya atas nalar bangsa Arab yang beretnis selain Quraisy. Padahal, imbas dari sakralisasi Alqur’an ini mengakibatkan Alqur’an yang hakikatnya profan menjadi sakral. Alqur’an itu profan karena ia terkait dengan ruang dan waktu. Pun ia juga terbatas historisnya karena ia sudah berhenti dalam membaca realitas sejak kewafatan Gusti Kanjeng Nabi Muhamad saaw. Di sinilah perlunya kritik Alqur’an yang ditujukan untuk membaca Alqur’an apa adanya, sebagai sebuah teks historis yang memiliki ruang dan waktu, bukan sesuatu yang absolut dan trans-historis (Nashr Hamid Abu-Zayd; 1992).

Kritik Historis Alqur’an

Agenda kritik Alqur’an yang paling utama adalah melakukan analisa kritis atas teks Alqur’an dan membongkar nalar Arabisme dan kepentingan politik di balik kehadirannya. Akhir yang dituju dari gagasan ini adalah ingin meruntuhkan hegemoni Alqur’an yang “produksi” bangsa Quraisy itu. Karenanya, ketika ada orang yang mensakralkan Alqur’an berarti ia telah terperangkap siasat Arab-Quraisy tersebut. Karena itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk melarang gagasan kritik Alqur’an. Dalam kritik Alqur’an, pertama kali yang harus dikritik adalah studi Alqur’an yang hanya terkubang pada wilayah teologis-dogmatis, sehingga membuat umat terlelap dalam absolutisme. Padahal, Alqur’an adalah sesuatu yang menyejarah, yang berpijak pada realitas lokal Arab 14 abad silam, karenanya ia itu relatif, tidak absolut. Dari sinilah, kita semestinya menggeser studi Alqur’an dari teologis-dogmatis menuju rasionalisme-kritis dan dekonstruktif.

Studi ini terasa semakin menggairahkan setelah terbantu teori teks dan teori kritik wacana dari berbagai aliran filsafat kontemporer seperti strukturalisme, post-strukturalisme, semiotika, linguistik, antroposentrisme, hermeneutika, dekonstruksi, arkeologi, dan genealogi. Walau kita tidak ingin menganggap teori-teori tersebut sebagai satu-satunya teori paling valid untuk studi Alqur’an. Namun, setidaknya, teori-teori tersebut bisa membantu dan melengkapi teori-teori klasik seperti teori asbab an nuzul yang sudah kita kenal sebelumnya. Satu hal cukup penting dalam studi Alqur’an adalah kritik nalar dan kritik teks. Kritik nalar bertujuan mengkritik nalar umat yang terhegemoni teks hingga tidak bisa menerima kebenaran di luar teks yang dibacanya, karena setiap teks punya strategi untuk mempertahankan kebenaran yang di kandungnya. Sementara kritik teks bertujuan untuk membongkar ideologi yang menyertai kehadiran sebuah teks, mengingat kehadiran sebuah teks sangat terkait dengan relasi kuasa yang melingkupinya. Mohamad Arkoun, pemikir Islam dari Perancis, pernah mengajak umat Islam untuk melakukan klarifikasi historis (al-ida’ah at-tarikhiyyah) dengan memikir ulang kesejarahan Islam selama empat belas abad, termasuk yang diklarifikasi itu adalah kodifikasi Alqur’an di masa Khalifah Usman ibn Affan, yang kemudian dilanjutkan pada transformasi nalar Islam modern. “Di sinilah Islamologi Terapan Saya berpijak,” kata Arkoun (Mohamad Arkoun: 2002). Komentar Arkoun tersebut kontan saja menyadarkan umat beragama yang mulanya begitu mensakralkan sejarah Alqur’an dan tak ada keberanian untuk mengklarifikasinya. Akibatnya nalar umat tumpul dan tertimbun sejarah. Karena itu, kritik historisitas Alqur’an sangat penting, terutama kritik terhadap pembukuan Alqur’an oleh Usman ibn Affan. Ada kepentingan apa di balik pembukuan (unifikasi dan stabilisasi) Alqur’an dengan dialek Quraisy oleh Usman tersebut? Dan apa yang akan kita tuju dari kritik historisitas ini?



1 next