HADIS-HADIS SHAHIH TENTANG KEWAJIBAN MENGIKUTI AHLUL BAYT AS.



 

 Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini[90]


Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.



1 2 3 4 5 6 7 next